Rabu, November 11, 2009

Disiplin dan Tekun Menulis

Untuk mendapatkan pemahiran dibutuhkan pembiasaan. Kebiasaan diperoleh melalui disiplin dan usaha terus menerus (kontinu). Pepatah berkata, ”Alah bisa karena biasa.” Sulit menulis karena belum biasa. Kalau sudah biasa, menulis tidak ada kesukaran. Kita bisa menulis segampang ibu menanak nasi atau memasak sayur asem, soto, atau kue. Tentu tidak perlu resep. Teori perlu, tetapi tanpa dipraktikkan semua teori manjadi tidak berguna.

Mahir menulis tidak berbeda dengan mahir berenang, bersepeda atau seni bela diri seperti silat, karate, yudo, dan sebagainya. Perenang, pembalap, atau karateka  yang mahir akan memerlukan 3.000 pengulangan. Dengan begitu, dia akan memiliki gerak refleks atau otomatis. Menulis juga begitu. Seorang penulis yang mahir umumnya telah memunyai konsep reflektif atau otomatik. Begitu melihat sebuah peristiwa, dia telah tahu mana yang patut menjadi lead (awal tulisan), mana pula yang harus diurutkan kemudian. Maka, pengulangan sampai 3.000 kali merupakan dasar bagi siapa saja yang ingin mendapatkan keterampilan. Tentu saja ada pengecualian, kurang dari itu dia bisa terampil, tetapi sekali lagi itu kekhususan, tidak berlaku bagi umum.

Sama halnya dengan hukum ingatan. Orang tidak bisa mengingat suatu bahasa asing secara kekal sebelum mengulanginya 100 kali. Dia memang bisa hafal dengan lima kali pengulangan. Namun, daya tahan ingatannya mungkin hanya beberapa saat. Dengan sepuluh kali pengulangan, mungkin hanya ingat beberapa minggu. Dengan 40 kali pengulangan, mungkin hanya beberapa bulan. Nah, dengan 100 kali pengulangan dia akan tetap ingat bagai menggunakan bahasa ibunya sendiri.

Menulis menggunakan aneka segi ingatan. Kemampuan mengingat, menilai, mengurutkan, dan menempatkan suatu data pada tempat yang akurat (tepat), memerlukan pengulangan yang lebih banyak. Bukan hanya ratusan kali, melainkan ribuan kali, bahkan yang sempurna ialah 3.000 kali. Apa sih arti semua ini?

Nah, kita sebagi calon penulis harus sungguh-sungguh dan tekun. Kita harus rajin, terus manulis tiap hari dengan disiplin, tidak mudah merasa puas dan tidak mudah berputus asa.

Seorang penulis muda tidak boleh berputus asa sebelum 100 kali tulisannya ditolak. Perbaikilah. Kirimlah kembali kepada media massa yang 101,102, dan seterusnya.

Dalam hal lain, kita perlu merenungkan hukum keunggulan, bahwa tidak ada usaha setengah-setengah dalam meraih kesuksesan menulis. Kita pasti terlempar ke bawah. Hanya mereka yang menggunakan 99% bakat, 99% keuletan, dan 99% kerja keras yang memenangi persaingan.

Kemajuan calon penulis akan tampak dalam 30 hari saja. Hanya syaratnya kita harus menulis surat kepada temannya atau menulis apa saja tiap hari minimal satu lembar kertas. Kita bisa membaca koran atau buku, kemudian menulisnya  kembali sesuai dengan kesan yang diterima dengan bahasamu sendiri.

Dengan disiplin menulis tiap hari selama 30 hari itu, kemajuanmu akan cepat melesat. Jika latihan pertama selama 30 hari usai, lanjutkan dengan bulan berikutnya dengan sedikit labih banyak, misalnya 11/4 folio. Dengan begitu dalam waktu tidak begitu lama, kita telah mendapat kemampuan menulis untuk segera berkarya. Dalam masa tiga bulan, kemungkinan tulisan kita bisa dimuat oleh salah satu koran atau majalah.

Hal perlu ditekankan di sini ialah kesadaran calon penulis, bahwa sesungguhnya tidak ada orang lain yang bisa menolong dirinya untuk mahir menulis selain dirinya sendiri. Kita sendiri yang harus menjadi guru dan pengawas. Kita sendiri pula yang harus menjadi redaktur tulisan yang telah dibuat. Jadi, kita harus menulis dan menyuntingnya sekaligus. Untuk itu diperlukan latihan berkelanjutan dan sering. Berani mencoba?
(Sumber: http://padepokansastra.multiply.com/journal/item/57)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar