<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863</id><updated>2011-12-31T17:45:21.937-08:00</updated><category term='BOOK REVIEW'/><category term='MY DIARY'/><category term='SYAIR-SYAIRKU'/><category term='MY JOURNAL'/><category term='TULISAN FAVORIT'/><category term='KLIPING FIGUR'/><category term='OPINIKU Di KORAN'/><title type='text'>HIBURAN SUNYI</title><subtitle type='html'>Adalah menjadi penghibur hati di kala sunyi, berbagi kisah kasih dan tawa tangis, merangkai mimpi yang sempat tersangkut di lorong-lorong keangkuhan dan keserakahan, demi menebar cinta kasih sejati yang mulai terkubur di belantara gemerlap dunia, bersama teman-teman semesta yang penuh cinta kasih. Salam cinta.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>121</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1296741271152151510</id><published>2011-12-31T17:45:00.000-08:00</published><updated>2011-12-31T17:45:21.950-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>NABI AYYUB, FIGUR IKHLAS TANPA BATAS</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;"&gt;(Sebuah Catatan Reflektif Tahun Baru 2012 M)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Sudah menjadi tradisi tiap momen pergantian tahun baru masing-masing orang, kelompok, apalagi sepasang kekasih, menyambut tahun baru ini dengan berbagai cara, model, acara, kegiatan, ritual dan sebagainya. Misalnya, paling umum merayakannya dengan meniup trompet plus menyulut kembang api pas pada detik pergantian, jam 00.00 dini hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Lebih seru lagi, tidak sedikit sepasang kekasih yang menyambutnya dengan pesta pembongkaran&amp;nbsp; kejantanan dan keperawananan, sebagai tanda cinta sejati biar lebih abadi di tahun yang baru, katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Entah, dengan cara apapun saya tidak ngurus. Yang jelas, di mana pun yang namanya tahun baru pasti terjadi suasana yang gegap gempita. Muda-mudi, &lt;i&gt;tua tui&lt;/i&gt;, semuanya bahagia. Sebuah hari yang &lt;i&gt;Happy full&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Padahal, kalau kita renungi, sejatinya tahun baru adalah tahun kesedihan atau prihatin. Betapa tidak, mari kita pikir, bergantinya tahun berarti bertambahnya tahun. Bertambahnya tahun berarti bertambahnya umur. Bertambahnya umur berarti, sebaliknya, makin berkurangnya jatah hidup kita. Makin berkurangnnya jatah hidup kita berarti makin dekatnya kita dengan kematian. Mbah-mbah sepuh mengatakan, “Sesungguhnya tiap saat manusia itu menggali kuburannya sendiri. Makin hari makin dalam dan sampai saatnya terpendam.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Seumpama jatah hidup kita 30 tahun, sedangkan pada tahun 2011 ini kita sudah umur 29 tahun, berarti tahun 2012 ini tahun terakhir bagi kehidupan kita. Maka, apakah kita masih akan bisa merasa bahagia dengan momen pergantian tahun yang baru ini? Apakah kita masih akan sempat tertawa bahagia dengan meniup trompet atau menyaksikan kembang api bertabur di langit pada malam tahun baru?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Terlepas dari semua itu, secara pribadi saya tidak mau ketinggalan juga. Saya akan menyambut tahun baru 2012 ini dengan cara saya sendiri. Yang menurut saya, cara ini lebih menyadari akan sejatinya bergantinya tahun baru, paling tidak buat saya sendiri dan rekan-rekan saya, sebagai tahun berkurangnya jatah umur. Maka dari itu, saya sambut tahun pengurang jatah umur ini dengan catatan reflektif sederhana ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Sengaja saya mengusung tema pada catatan ini dengan sebuah teladan dari seorang Rasul, sebagai sosok yang semangat sosial, kesabaran, dan keikhlasannya amat luar biasa, Nabi kita Ayyub as. Kenapa Nabi Ayyub?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Alasannya, pada kehidupan Nabi Ayyub ini saya kira banyak fenomen-fenomena yang sedikit banyak mirip dengan tahun-tahun ini: musibah makin bertubi-tubi, persaudaraan sejati makin kering, uang menjadi dasar dan sesembahan, halal-haram berbaur tak karuan, persaingan tega-tegaan, banyak orang stres, trauma, dan gila di jalan-jalan. Sebaliknya, prinsip kesabaran, keikhlasan, dan kemanusiaan makin terlupakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Ayyub adalah putra dari Ish dengan seorang putri Nabi Luth as. Besar kemungkinan ibunya itu adalah salah seorang dua putri Nabi Luth yang pernah ditawarkan kepada masyarakat Sodom untuk dinikahi secara wajar yang ditolak oleh mereka sebagai penganut homoseksual.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Ish bapaknya itu adalah putra Nabi Ishaq as anaknya Nabi Ibrohim as. Maka Ayyub adalah cucu Nabi Ishaq dan Luth, serta sebagai cicit Nabi Ibrohim&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Keluarga Ish hidup di negri Syam (sekarang Syiria). Tergolong keluarga yang sangat kaya raya. Ayyub mewarisi kekayaan itu. Setelah dewasa Ayyub menikahi seorang wanita cucu Nabi Yusuf as yang bernama Rahmah, putri Afrayim anaknya Nabi Yusuf as.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Sebagai orang yang kaya raya, Ayyub selalu mensyukurinya dengan ketaatan kepada Allah swt dan mendermakan hartanya kepada masyarakat dan agama, sehingga membuatnya terkenal di kalangan masyarakatnya, Hauran dan Tih, dengan ketaatannya dalam beribadah dan kedermawanannya yang luar biasa. Singkatnya, keluarga Ayyub menjadi keluarga yang teladan dan terhormat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Sudah menjadi kebiasaan Iblis yang selalu risih kalau ada manusia yang taat dan beramal baik seperti Nabi Ayyub as, sehingga membuatnya tergoda untuk mengujinya. Allah mengetahui gelagat Iblis itu. Allah pun menantang iblis sekiranya ia sanggup meruntuhkan iman Ayyub.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Masa ujian pun tiba. Ujian pertama, rumah dan seluruh kekayaan Ayyub terbakar. Ayyub tidak surut dalam pengabdiannya kepada Allah. Kedua kalinya, seluruh anak-anaknya tewas setelah rumah mereka ambruk. Namun Ayyub tetap sabar. Setelah itu, Iblis betul-betul tidak tanggung-tanggung mengujinya, Ayyub terserang penyakit kulit aneh yang membuatnya diasingkan masyarakat sekitar. Itu pun tetap tidak menggoyahkan iman Ayyub.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Tidak cukup itu, Iblis membisiki hati kedua istri Ayyub dan masyarakat, keduanya merasa jijik berkumpul dengan Ayyub sehingga keduanya memaksa minta cerai. Dengan ikhlas dan sabar Ayyub pun menceraikannya. Kecuali Rahmah, dia tetap sabar mendampingi dan merawat Ayyub yang tubuhnya telah tak berdaya dengan keganasan penyakit itu. Masyarakat pun mengusirnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Konon, istrinya yang cucu Nabi Yusuf itulah yang menggendong Ayyub keluar desa begitu mereka diusir masyarakatnya. Ia terus melayani keperluan Ayyub yang tubuhnya sedang lemah, mencukupi kebutuhannya, bahkan pernah menjual gelung rambut untuk keperluan makan. Meski masa itu, menjual gelung rambut adalah perbuatan yang dianggap hina, saking sudah menjadi fakirnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Namun, meski demikian parah kondisinya hatinya tetap tabah dalam mengabdi kepada Allah. Bahkan, justru penyakitnya itu dianggap nikmat dari Allah sebagai tebusan hidupnya selama bergelimang dengan kekayaan sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Bayangkan saja, delapan puluh tahun berlalu dalam cobaan itu, Ayyub tetap merasa belum pantas berdoa untuk meminta kesembuhan dari Allah swt. Ia menganggap beban cobaan itu belum sebanding dengan kesenangan yang pernah dinikmatinya di kala bergelimang harta dulu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Namun, Rahmah terus meyakinkan Ayyub agar berdoa. Maka dengan ketabahannya dalam pengabdiannya kepada Allah itu, ujian pun berakhir. Allah kemudian berfirman agar Ayyub menjejakkan kakinya ke tanah. Air pun menyembul dari bekas jejakan kaki itu yang kemudian menjadi obat dengan mandi dan meminumnya. Akhirnya, Ayyub menjadi sembuh dan sehat bugar kembali. Iblis pun kebakaran jenggot, seraya mengakui kehebatan iman Nabi Ayyub as.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Kisah Nabi Ayyub as dan Rahmah adalah potret ketabahan keluarga rasul dalam mensykuri nikmat sekaligus tabah menerima cobaan penderitaan. Mereka menunjukkan bahwa iman adalah segalanya, lebih dari sekedar harta, keluarga, apalagi pengakuan manusia (kedudukan).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Selain itu, ada khikmah yang amat dalam. Sudah dipahami, agama mengajarkan bahwa harta yang didermakan atau disodaqahkan akan mensucikan, menolak musibah melipatgandakan, dan menyelamatkan ahlinya dunia akherat. Dan itu sudah kepastian Tuhan. Pada intinya, dermawan menjadikan selamat bahagia dunia akherat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Namun, dari kisah Nabi Ayyub yang dermawan ini ada hal yang harus kita renungi. Yakni, kenapa Nabi Ayyub sebagai orang yang sudah dermawan tiada tara itu dirinya masih mendapatkan musibah bertubi-tubi itu; serangan Iblis malah ampuh menembusnya; hartanya justru ludes kebakar, bahkan anak-anak yang disayanginya tewas ambruk dengan rumahnya, terserang penyakit menjijikkan, serta istri-istrinya dan semua masyarakat meninggalkannya. Secara logika akal, kita akan berpikiran seperti itu, lebih-lebih andai kita menjadi tetangganya Nabi Ayyub saat itu: Dermawan &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; malah ngenes banget! Prasangka kasarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Jawabannya, ajaran agama memang betul, bahwa sodaqah memang menyelamatkan dan membahagiakan. Itu sudah janji Allah swt. Hanya saja proses jalannya tidak sederhana sebegitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Pertama, Allah mau membuktikan kepada Iblis dan kepada semua makhluq-Nya bahwa sehebat apapun model siasat godaan Iblis untuk menjerumuskan hamba-Nya yang sudah kadung yakin ibadahnya kepada Allah, Iblis itu tidak akan berhasil. Allah tetap akan menjaganya dan meluluskannya kepada janji-Nya untuk selamat bahagia dunia akherat. Terbukti, Nabi Ayyub meski tubuhnya sampai busuk dengan siasat Iblis itu, pada akhirnya dia tetap kuat dalam imannya sehingga selamat sembuh serta ada di sorga.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Kedua, Allah dalam mengangkat hamba-Nya tidak semudah dan sesederhana begitu saja. Tapi ada proses uji yang berlapis dan bertahap. Semakin tinggi Allah akan mengangkat derajat seorang hamba-Nya semakin tinggi pula Allah mengujinya. Pada satu tingkatan lulus, maka akan memasuki tingkatan lebih tinggi lainnya. Demikian seterusnya sampai Allah telah menentukan cukup. Sampai di mana kecukupan ujian itulah yang kita tidak tahu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Allah masih menguji Nabi Ayyub dalam kedermawanannya meski sudah tiada tara itu: betul-betul konsistenkah kedermawanannya itu, sehingga Allah tidak kebu-buru membahagiakannya, tapi justru terbalik malah lebih susah; Tetapkah dia sabar dan teguh dalam kedermawanannya dengan akibat terbalik itu, justru kesusasahan yang datang bertubi-tubi? Ternyata Nabi Ayyub betul-betul teguh dan konsisten dengan prilaku mulyanya itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Di sinilah kita kerap sesat dalam beranggapan kepada Allah, lebih-lebih dengan pemikiran di atas tadi; &lt;i&gt;udah&lt;/i&gt; sodaqah &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; malah tambah melarat! &lt;i&gt;Udah &lt;/i&gt;berbuat baik dan nolong orang &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; malah sengsara!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Kalau tidak kuat kita akan tersesat dengan berprasangka buruk kepada Allah. Bahwa, Allah tidak tepat janji, Allah tidak adil, Allah jahat, dan prasangka buruk lainnya. Kalau terus berlanjut, akibatnya kita akan fatal, menjadi stress, trauma, gila, bahkan bunuh diri. Dengan demikian berarti kita tidak lulus, sodaqah kita menjadi tampak tidak betul-betul ikhlas dan konsisten, hanya karena demi sesuatu di luar Allah. Kita menjadi konyol. &lt;i&gt;Nau'udzubillah&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Lalu bagaimana? Lebih selamatnya, mungkin alangkah lebih baiknya segala usaha prilaku baik kita dan usaha menghindari prilaku buruk, kita niatkan semata karena ridho Allah swt seraya selalu berprasangka baik dalam tiap apa pun yang kita temui dalam usaha itu. &lt;i&gt;Mengapa orang-orang mu’min dan mu’minat tidak berbaik sangka (husnudhon) terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong dan berkata, ‘ini adalah (suatu berita) bohong yang nyata.”&lt;/i&gt; (QS, 24: 12). Sehingga, ketika kita giat menolong orang lalu kita justru seakan yang celaka, kita tetap ikhlas. Ketika kita usaha untuk rajin sodaqah tapi malah kita menemukan kerugian atau kebangkrutan dalam usaha kita, kita tetap saja tabah. Dan, ketika kita untung kita akan selalu bersyukur.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Dengan demikian, dalam setiap kondisi dan situasi, bahagia susah, untung bangkrut, hidup mati, kita akan selalu berhati jembar sejembar angkasa, enjoy, dan selalu tersenyum berbinar penuh cinta dan sayang kepada Allah dan kepada manusia yang lainnya. Inilah ajaran keikhlasan dan husnuzhon. &lt;i&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;Semoga pada tahun baru ini, semangat kesabaran, keikhlasan, dan kemanusiaan selalu menjadi prinsip dan laku unggulan kita seperti Nabi Ayyub as itu dan para Rasul lainnya. Amin. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: right; unicode-bidi: embed;"&gt;Wagir, DOA GOLD SILVER, 01-01-2012 M&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1296741271152151510?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1296741271152151510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/12/nabi-ayyub-figur-ikhlas-tanpa-batas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1296741271152151510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1296741271152151510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/12/nabi-ayyub-figur-ikhlas-tanpa-batas.html' title='NABI AYYUB, FIGUR IKHLAS TANPA BATAS'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-4572513583082724014</id><published>2011-11-03T23:51:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T23:51:15.225-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Wahyu Tuhan Soal Lalu Lintas</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:ApplyBreakingRules/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;st1\:*{behavior:url(#ieooui) }&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: center; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Suatu hari, saya terjaring operasi polisi lalu lintas. Tanpa memahami apa maksud pelanggarannya, saya nurut saja diberhentikan dengan tenang. Karena saya merasa persyaratan tentang aturan bersepeda motor yang saya miliki lengkap, mulai dari SIM, lampu dinyalakan siang hari, dan aturan lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Sempat berpikir sejenak tentang kesan negatif seputar polisi lalu lintas: terkait uang sanksi-lah, cari-cari kesalahan-lah, polisi benarnya sendiri-lah, dan kesan lainnya. Namun, saya tidak percaya itu. Sebab, saya yakin bahwa diadakan peraturan demi keselamatan dan kemaslahatan bersama. Maka aturan itu untuk dita'ati dan polisilah yang bertugas menggerakkan peraturan itu. Yang melanggar dikenai sanksi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Setelah diperiksa, ternyata ada dua pelanggaran bagi saya. Yaitu, saya lapisi lampu penunjuk arah dengan skotlet warna merah dan knalpot variasi. Dengan kedua pelanggaran itu saya dikenai sanksi harus menghadiri persidangan plus membayar denda sedikitnya seratus ribu. Titik pelanggaran itu ada pada Pasal 285 ayat (1), Pasal 106 ayat (3), dan Pasal 48 ayat (2) dan ayat (3).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Karena saya tidak memungkinkan untuk menghadiri sidang, tanpa berniat melawan atau sial sama sekali, maka saya lebih baik berterus terang dengan alasan jarak rumah saya dan tempat persidangan terlalu jauh, selain karena resiko dan biaya perjalanan. Yaitu Lumajang dan Blitar. Sebab, kalau saya tidak menghadiri sidang maka itu sebuah pelanggaran lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Singkat cerita, pak polisi memberikan saya alternatif dengan memilih perwakilan sidang dan bisa siapa saja, baik saudara atau teman kenalan yang penting memenuhi panggilan sidang. Karena yang saya kenal saat itu di Blitar hanya pak polisi itu sendiri, maka saya minta tolong untuk diwakili kepada pak polisi itu sebagai kenalan saya sekaligus titip uang denda sebesar minimal yang tercantum di undang-undang, minimal Rp 100.000.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Sebelum keputusan sidang itu, sebagai orang yang belum pernah tahu pasti aturannya secara tertulis, saya meminta kepada polisinya untuk memaparkan undang-undang pelanggaran itu. Dan, agar saya juga tidak berpikiran buruk terhadap kinerja polisi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Maka, petugas polisi itu membawa saya ke pos polisi setempat dan memaparkan secara detail tentang aturan itu. Di situ lengkap tentang poin-poin aturan, sanksi, sekaligus dendanya. Dari situ saya menjadi paham jelas, sehingga desas-desus tentang kesan buruk terhadap polisi di jalan-jalan selama ini seketika buyar dari benak saya. Kesan negatif selama ini tentang polisi salah kaprah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Dalam pemeriksaan di jalan itu tentunya bukan hanya saya, yang lain banyak. Bahkan, hampir semua pengendara sepeda motor. Mayoritas ada pelanggarannya dengan berbagai tanggapan. Paling banyak yang tampak sial, &lt;i&gt;muring-muring&lt;/i&gt;, bahkan &lt;i&gt;geger&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;misuh-misuh&lt;/i&gt; kepada polisi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Secuplik cerita itu adalah kenyataan yang saya alami sendiri. Selama ini, banyak kita dengar desas-desus seputar operasi polisi lalu lintas. Lebih-lebih di jalan ketika ada operasi. Apalagi belakangan marak operasi sebagai tanggapan makin ugal-ugalannya para pengendara dan tingginya angka kecelakaan. Ada dua poin miring yang biasanya lebih tampak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Pertama, soal denda uang yang diminta polisi. Kesannya, uangnya itu masuk ke kantong polisi pribadi. Benarkah? Menurut saya, bisa benar bisa tidak. Tinggal lihat jumlah dan caranya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Merujuk kepada UU LLAJ NO. 2 Tahun 2009, bahwa sang pelanggar harus mengikuti sidang pada waktu yang telah ditentukan dan membayar denda via bank atau langsung di persidangan yang jumlahnya telah ditentukan secara tertulis, minimal Rp 100.000 dan maksimal Rp 1.000.000 sesuai dengan kadar pelanggarannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Terkait dengan ini, saya ingat pula ketika saya pernah terjaring polisi sebelumnya karena saya tidak menyalakan lampu utama di siang hari tanpa disengaja. Saat itu, saya ditetapkan untuk hadir di persidangan dan dikenai denda.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Pada awalnya, saya memang disodorkan kertas pelanggaran dan di situ memang tertulis sama, minimal Rp 100.000. Di samping, karena saya tidak punya uang cukup, saya lihat lainnya mayoritas membayar denda Rp 50.000 setelah tawar menawar lama, maka saya menuntut bayar seperti mereka cuma Rp 50.000 dan polisinya mau saja. Di situ juga tidak ada tanda tangan khusus sebagai perwakilan sidang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Kalau dilihat dari kasus cara denda sejumlah 50 ribu itu, kayaknya timbul beberapa pertanyaan: Bukankah yang tertulis minimal 100 ribu serta harus ada tandatangan khusus untuk perwakilan sidang yang jelas siapa yang mewakili? Dan bukankah hasil denda itu langsung disetor berupa laporan kepada atasan dengan jumlah minimal 100 ribu itu juga? Maka, kalau begitu seharusnya, apakah tidak kelimpungan polisinya untuk mengganti kekurangan nominal yang sesuai dengan undang-undang tersebut mengingat begitu banyak yang melanggar? Ini tidak mungkin. Maka ini pantas dicurigai.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Namun, tidak bagi pengalaman yang di Blitar itu, uang masuk kantong polisi tidak benar. Sebab, prosedur penerimaan denda uang dan jumlahnya serta sistem perwakilan persidangannya jelas tertulis. Dan, sewaktu di jalan tidak ada polisi yang menerima bayaran denda dan langsung beres di tempat yang tidak sesuai dengan nominal aturannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Atau, kalau memang perkiraan saya ini salah, mungkin saja ada alternatif aturan lain terkait sahnya sidang beres di tempat dengan Rp 50.000 itu yang saya tidak ketahui. Soalnya, denda sebesar 50.000 plus sidang beres di tempat itu sepertinya sudah lumrah di jalan-jalan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Kedua, kritikan orang yang membuat tidak terima ketika terjaring operasi adalah mayoritas beralasan karena tidak tahu aturannya. Saya lihat di jalan-jalan banyak yang memakai skotlet warna warni di lampunya dan knalpotnya variasi. Bisa saja mereka juga tidak tahu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Mungkin kalau tidak tahu lampu dinyalakan di siang hari, itu pelanggarnya yang memang keterlaluan. Sebab, sosialisasinya sudah banyak di tempel-tempel di jalan-jalan dan di berbagai media massa. Namun, soal aturan lainnya sepertinya tidak atau kurang disosialisasikan. Misalnya, saya saja tidak pernah mendengar, membaca, atau melihat sosialisasi larangan knalpot variasi dan tempelan skotlet warna lain di lampu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Dari pengalaman ini, maka dapat dikaji bahwa kalau boleh saya catat, bagaimana sekiranya masyarakat tahu dan paham tentang segala peraturan bersepeda motor atau berlalu lintas. Mulai dari hal-hal yang kecil (baca: yang tidak terbiasa) seperti peralatan standart, dan sampai kepada yang besar, seperti memiliki SIM, pelanggaran marka atau rambu jalan, soal sidang dan denda, serta segala aturan lalu lintas lainnya secara utuh.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Kalau tidak mungkin semua pasal secara utuh disosialisasikan di jalan-jalan umum, bisa saja dengan cara dijadikan sarat pendaftaran pembuatan SIM. Misalnya, sebelum proses pembuatan SIM para pendaftar wajib mengikuti pembinaan atau pemahaman khusus tentang pasal-pasal lalu lintas itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Atau, diadakan peraturan bahwa tiap pengendara wajib melengkapi surat-surat kendaraannya-bersama SIM atau STNK atau STCK-dengan pasal-pasal itu. Maka, ketika pembuatan SIM pasal-pasal itu juga disertakan. Dengan itu, paling tidak, tidak ada pikiran negatif atau &lt;i&gt;misuh-misuh&lt;/i&gt; lagi kepada polisi di saat terjaring operasi. Karena polisinya dapat menunjukkan pasal-pasal itu langsung. Dengan ini juga, tidak perlu sidang-sidang untuk pemahaman karena sudah langsung bisa disidang dan dipahami di tempat dengan pasal-pasal yang jelas dibawa itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Dengan cara itu, insyaAllah semuanya menjadi lancar. Sang pengendara berlalu lintas dengan aman, memahami aturan, tidak terkesan &lt;i&gt;macem-macem&lt;/i&gt; lagi terhadap polisi. Begitu juga polisinya tidak kelimpungan lagi mengatur lalu lintas yang tidak beres-beres dengan para pelanggar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Di samping itu tidak kalah pentingnya, soal teknis sarana dan prasarana jalan umum, yang rusak, berlubang-lubang, atau tidak rata misalnya, harus cepat-cepat dibereskan pula. Pada akhirnya, semuanya sama-sama lancar dan selamat; persoalan macet berlama-lama, makin tingginya angka kecelakaan, paling tidak dapat diminimalisir.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Lebih dari itu, di samping undang-undang dapat ditegakkan bersama, semuanya juga berarti menegakkan aturan Tuhan. Sebab, aturan, pasal-pasal, atau undang-undang lalu lintas ini tidak hanya menjadi ketetapan pemerintah. Akan tetapi, Tuhan pun jauh-jauh sebelumnya telah menegaskan dengan wahyu-Nya, " &lt;i&gt;(Allah Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan yang menurunkan air (hujan) dari langit. Kemudian Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan."&lt;/i&gt; (QS, 20: 53). Inilah wahyu Tuhan Tentang per-lalu lintas-an.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="LTR" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Maka, melanggar aturan lalu lintas berarti melanggar aturan Tuhan. Begitu juga polisi yang oknum, berarti mempermainkan aturan Tuhan. Ini menjadi landasan prinsipil bagi para polisi dan rakyat pengendara. &lt;i&gt;Wallahu a'lamu bisshowab.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-4572513583082724014?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/4572513583082724014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/11/wahyu-tuhan-soal-lalu-lintas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4572513583082724014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4572513583082724014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/11/wahyu-tuhan-soal-lalu-lintas.html' title='Wahyu Tuhan Soal Lalu Lintas'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-517180009618067528</id><published>2011-11-03T23:47:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T23:47:49.876-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY DIARY'/><title type='text'>YANG AWET MUDA KAWAN BERJATI</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:ApplyBreakingRules/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;(Catatan reflektif sebuah persahabatan)&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Sekilas bisa jadi tulisan ini terkesan GR (Gede Rasa) atau bisa juga pamer, dan semoga bukan takabbur. Tapi, saya tidak berniat demikian.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Saya punya seorang teman. Kira-kira 6 bulan yang lalu dari sekarang saya mengenalnya. Orangnya baik, dermawan, dan amat suka menolong meski orangnya tidak terlalu kaya. Saking baiknya, dia seperti saudara kandung saya sendiri. Umurnya jauh lebih tua dari saya, sudah berkepala 4, bahkan hampir sudah punya cucu. Meski demikian, dia masih tetap tampak muda, sehingga berteman dengan saya masih pantas. Fisiknya memang layaknya masih muda seumuran saya. Sampai-sampai ada sebuah anekdot, suatu hari saat dia mengambil raport putrinya yang sedang sekolah, ada yang mengira bahwa dia itu masnya (Pacarnya atau kakaknya), padahal bapaknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Kenapa begitu? Apakah dia punya resep awet muda khusus? Atau memang alaminya tampak fisiknya seperti itu?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Saya tanya dia, ternyata ada resepnya, jawabnya. Apa itu? Sederhana saja, hidup tidak usah ambil pusing, tapi enjoi dalam menghadapi segala hal. Pelan tapi pasti. Yag penting berusaha semampunya, doa, dan tidak &lt;i&gt;macem-macem &lt;/i&gt;(tidak bermaksiat/neko-neko), lalu tawakkal, perbanyak kawan tapi disaring, dan suka menolong dalam kondisi bagaimanapun (tidak menunggu kondisi banyak uang), serta jangan sampai bermasalah dengan orang sedikitpun, misalnya selalu tepat waktu dalam memenuhi janji dan jangan mudah membuat hutang. Ringkasnya, baik bersosial dan baik berspritual; Selalu bersabar (enjoi, tak panik, tak berkeluh, tak pusing) dalam segala kesulitan sebesar apapun dan selalu bersyukur (nrimo) dengan rizki sekecil apapun. Ini jelasnya kepada saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Awet muda ini adalah keunikan yang paling tampak pada teman saya itu karena pandangan, prinsip, dan prilaku hebat yang dimilikinya sebagai kelebihanya dari pada yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Sejatinya, awet muda bukanlah berarti kita menjadi muda terus sehingga bertambah umur lalu kematian tertunda. Tapi, secara fisik, badan dan tenaga masih kuat sehat dan wajah tampak layaknya usia muda. Dengan ini diri menjadi selalu normal atau lancar beribadah dan bekerja atau beramal, serta PD bersosial, akhirnya orang suka kepadanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Secara batin, jiwa dan pikiran masih gress dan semangat layaknya anak muda. Sehingga, dari sini memiliki peluang dan jalan lebih luas atau panjang mewujudkan impian dan cita. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Lain dari pada yang cepat tua: tubuh rentan penyakitan, badan keropos, kulit keriput, wajah seperti langit mendung, kepala cepat memutih, tenaga menjadi loyo meski sebetulnya hitungan umurnya masih relatif muda. Sehingga, peluang buat beribadah, beramal, dan bersosial terganggu, akhirnya orang lain kurang suka kepadanya. Ini karena sebaliknya, jarang bersabar dan bersyukur, mangkel dan panik dengan kesulitan, selalu ambisi kurang dengan harta dunia, sombong, pelit, dan selalu sentimen dengan sesama, serta selalu membuat masalah dengan orang lain. Lebih dari itu, sibuk maksiat serta lupa ibadah dan Tuhannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Jadi, awet muda ini adalah tampak lahir batin, bukan tambah umur atau tertunda mati. Sebab, jatah umur atau kematian hanya Tuhan yang tahu selain jodoh dan rizqi, tapi dapat memanfaatkan taqdir jatah hidup itu dengan seoptimal mungkin dalam kebaikan. Da'i kondang sejuta umat, Zainuddin MZ&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;menyebutnya 3 hal misterius bagi manusia. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Sekarang, beralih ke topik semula, "kawan berjati". Apa maksudnya?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Begini, suatu hari, teman saya yang awet muda itu mengecek nomor saya di hpnya, lalu saya miscal dia. Di situ tampak nomor saya tertulis "Ali berjati". Saya kaget di hati, kenapa kok nama saya ditulis dengan tambahan aneh seperti itu? Secara diam-diam saya cek nama-nama kontak lainya tidak ada yang ditulis aneh lagi kecuali nama istrinya yang tertulis "syngku".&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Saya sama sekali tidak mengurus nama itu kepadanya, saya tidak enak sendiri. Yang penting, yakinnya saya, maknanya tidak negatif. Bukankah berjati itu nilainya positif?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Berjati diri: diri yangg memiliki harga tinggi, terhormat. Namun demikian, saya justru lebih kawatir, sebab ini kepercayaan (amanah) dan tanggung jawab. Dipikir-pikir lagi, ini lebih berat. Lebih baik tertulis humoris atau negatif semisal centol, sontol dll tak ada tanggung jawab, malah menguji kesabaran diri, dan dapat bersikap bebas. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Maka, gara-gara itu saya harus ekstra hati-hati dalam bersikap terutama di depan teman saya itu. Saya juga kepikiran berat gara-gara itu. Memikul kepercayaan dan tanggung jawab ini saya rasa amat berat. Lebih berat dari pada menanggung malu dan sedih karena didholimi, dihina, atau disakiti. Sebab, satu kali saja lengah dalam kepercayaan dan tanggung jawab, ini berakibat hina yang makin meluas dan berkepanjangan dalam segala hal. Lebih-lebih teman saya itu juga kerap menjelaskan, bahwa sekali orang tidak percaya, maka selamanya tidak percaya. Bahkan, dapat merambah ke anak cucunya, "Ini lho anaknya si itu yang suka menipu dulu", orang akan berkata demikian. Katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Akhirnya, saya renungi, sejatinya yang lebih pantas dijuluki "kawan berjati" itu ketimbang saya adalah dia, "Yang awet muda kawan berjati". Mengingat, amal salehnya lebih giat dari pada saya; saya yang suka ditolong, dia yang suka menolong. Subhanallah. Semoga kita semua dapat menirunya; saleh sosial dan soleh spiritual; berprilaku baik kepada orang lain, suka menolong, sekaligus giat salatnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Pulo, 11 05 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-517180009618067528?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/517180009618067528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/11/yang-awet-muda-kawan-berjati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/517180009618067528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/517180009618067528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/11/yang-awet-muda-kawan-berjati.html' title='YANG AWET MUDA KAWAN BERJATI'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1551595820005703614</id><published>2011-07-31T08:50:00.000-07:00</published><updated>2011-07-31T08:50:07.421-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>IBADAH vs BADAI EKONOMI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&amp;nbsp;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ibarat ikan dalam kolam. Ibarat ini saya dapat dari teman saya yang kata teman-teman lainnya dia itu banyol. Sebab, kalau ngomong ceplas ceplos terutama tentang agama atau Tuhan. Bahkan, sesekali dalam perbincangan dia protes kepada Tuhan. Teman lain hanya bisa tersenyum tidak berani menanggapi, sebab meski sering kali ditanggapi secara jelas dia tetap saja dongkol (mokong/bandel).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya, dia itu tidak banyol tapi orang yang giat beribadah dan tirakatnya kuat. Saking giatnya, konon sampai-sampai rambutnya yang panjang tidak bisa dipotong orang lain. Bahkan kalau lihat tv matanya sakit, saking hebatnya amalannya sehingga melindunginya dari maksiat. Demikian itu karena dia memang berguru lama kepada seorang kiai karismatik yang amat alim. Bergurunya bukan konsentrasi belajar kitab tentang agama namun belajar kusus ilmu-ilmu kedigdayaan. Karena niat bulat, keseriusan, dan kesabarannya, dia benar-benar berhasil, lumayan sakti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sudah saatnya berkeluarga, dia nikah dan punya beberapa anak. Dari sinilah keimanan dan kedigdayaan yang selama ini dia miliki betul-betul teruji, terjepit dengan tuntutan ekonomi keluarga. Singkat cerita, amalannya terbengkalai, imannya terkulai, kedigdayaannya tergadai. Apa saja dikerjakan yang penting dapat sesuap nasi. Entah itu haram atau riba semuanya diterabas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Inilah sebabnya dia cerita tentang pengalaman masa lalunya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang menarik, dia mengibaratkan dirinya sendiri dengan seekor ikan dalam kolam. Dulu, waktu jaya-jayanya kedigdayaan dan keimanannya, yakni semasa hidup denga gurunya itu sebelum nikah, dia menjadi seekor ikan dalam kolam. Dia aman-aman saja, enjoi dengan kondisi dirinya, segalanya terjamin, selalu bisa salat berjema'ah, sibuk dzikir tiap saat, pokoknya ibadah apa saja yang mau dilakukan dia bisa-bisa saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adapun ketika dia sudah berkeluarga, dia menjadi seekor ikan kolam yang terlepas di samudra luas. Di situlah, baru dia merasa bahwa sekitarnya penuh dinamika, penuh gejolak, hukum tega berlaku, ada banyak ikan lain yang siap menerkamnya; yang cepat dapat, yang kalah musnah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akibatnya, dia menjadi tidak yakin lagi bahwa gejolak kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi dari doa, salat, dzikir, atau tirakat kecuali dengan kerja keras. Akhirnya, dia memilih kerja keras sampai-sampai salat dan dzikirnya pun tidak punya jatah waktu. Hidupnya hanya bisa sibuk kerja. Makin lama hidupnya makin terjepit badai ekonomi. Anehnya, dia tak sadar-sadar, tetap saja makin sibuk kerja. Hidupnya nelangsa. Tuhan dan agama dalam pikirnya serba salah, menjadi kambing hitam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apa sebabnya? Apakah salat atau ibadah memang tidak menguntungkan sehingga pikiran orang itu yang benar? Bukankah janji Tuhan, orang yang taat beribadah akan dijamin oleh-Nya, yang salat akan bahagia selamat dunia akherat, dan amal kebajikan itu lebih baik dari pada dunia? &lt;i&gt;"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." &lt;/i&gt;(QS, 18: 46); dan yang sadaqah akan dilipat gandakan gantinya?&lt;i&gt; "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui." &lt;/i&gt;(QS, 2: 261).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya, bukankah yang lupa Tuhan maka Tuhan akan melupakannya dan menyiksanya di dunia dan akherat? &lt;i&gt;"(yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami." &lt;/i&gt;(QS, 7: 51)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jawabannya banyak, tergantung kondisi orangnya sendiri. Sebab, tidak ada yang tahu gerak hati dan dosa seseorang kecuali Tuhan. &lt;i&gt;"Dan berapa banyak kaum setelah Nuh, yang telah kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu yang Maha Mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya. &lt;/i&gt;(QS, 17:17). Dan, yang jelas Tuhan tidak salah dan janji Tuhan pasti terjadi. &lt;i&gt;"Dia (Zulkarnain) berkata, '(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila janji Tuhanku sudah datang, Dia akan menghancurluluhkannya; dan janji Tuhanku itu benar." &lt;/i&gt;(QS, 18:98). Maka, ada beberapa kemungkinan jawabannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pertama, jangan-jangan niat orang itu dalam ibadah atau tirakatnya salah, semata mata hanya menuntut kedigdayaan atau kesaktian, sedangkan Tuhan Maha Pemurah (Ar-Rahman) kepada siapa saja. Misalnya, meski orang kafir diberi kekayaan di dunia. Tapi hanya dikasih dengan kedigdayaan saja tidak mendapat ridho dan kasih sayang-Nya (Ar-Rahim), sehingga tidak membawa berkah. Atau, janji Tuhan itu dalam ibadahnya sekedar kedigdayaan yang justru membawa kepada kebimbangan. Istilah fikihnya ini disebut &lt;i&gt;istidroj. &lt;/i&gt;Sedangkan orang Jawa menyebutnya &lt;i&gt;dielu&lt;/i&gt;. Ibarat kita mencintai wanita bukan demi cintanya, tapi demi suatu hal lain darinya, maka kita tidak akan dapat apa-apa kecuali cinta tipuan belaka. Singkatnya, sama saja dengan cinta kita tidak ikhlas; ibadah kita tidak ikhlas. Orang bilang, "sama saja boongan".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kedua, atau niatnya memang ridho Tuhan tapi dilapisi dengan sifat buruk, misalnya ingin dipuji, pamer ibadah, atau riya. &lt;i&gt;"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya', dan enggan memberikan bantuan." &lt;/i&gt;(QS, 107:1-70). Sehingga, meski betul-betul mendapat petunjuk sakti, seakan sudah ketrima ibadah atau tirakanya, jangan-jangan jalan atau petunjuk yang datang kepadanya itu dari sosok yang sok orang suci atau sok malaikat, yakni setan bukan betul-betul petunjuk ilahi, sedangkan dia tidak memahami itu. Atau, cuma perasaannya yg merasa ketrima.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, bisa jadi cara ibadahnya salah. Misalnya salat tapi gerak, bacaan, dan rukunnya salah. Atau, tidak memahami najis-sucinya. Atau, banyak dzikir tapi bacaannya macam-macam bukan tuntunan para nabi dan para &lt;i&gt;salafussholeh&lt;/i&gt;, layaknya kejawen di luar Tuntunan agama, atau bahkan ayat yang dirubah-rubah dicampuri dengan kejawen. Atau, sudah benar ibadahnya, tapi yang dipakai atau yang dimakan untuk beribadah itu dari barang-barang yang haram. Akibatnya, ibadahnya sejatinya tidak ketrima tanpa disadari, sehingga yang hadir bukan malah petunjuk dan ridho Tuhan atau malaikat atau orang suci tapi jin atau dedemit yang sok suci, sedangkan dia percaya. Seorang kiai mengibaratkan ibadah kayak ini seperti mencuci baju dengan air kencing. Percuma saja dan malah menyesatkan!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka dari cerita itu, kalau dipikir-pikir, kerap kali manusia itu memang membuat repot sendiri. Sudah benderang dijelaskan oleh yang Maha Memiliki Semesta ini masih tidak percaya, justru memilih larangan yang sejatinya merepotkan. Lebih parah lagi, menjadi reseh dengan aturan Tuhan. Itu hanya gara-gara nafsu Iblis diikuti: mau kaya tanpa kerja; mau jaya tanpa biaya; suka yang pintas-pintas atau serba instan, serta berlebih-lebihan; dan yang penting hidup senang. Muaranya, malah hidupnya rumit, lalu nelangsa dunia-akherat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Allah swt telah mengingatkan tenang nafsu Iblis itu, &lt;i&gt;"Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, 'Sujudlah kamu semua kepada Adam,' lalu mereka sujud, kecuali Iblis. Ia (Iblis) berkata, 'Apakah aku harus bersujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?' Ia (Iblis) berkata, 'Terangkanlah kepadaku, inikah yang lebih Engkau muliakan daripada aku? Sekiranya Engkau memberi waktu kepadaku sampai hari kiamat, pasti akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.' Dia (Allah) berfirman, 'Pergilah, tetapi barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sungguh, neraka jahannam balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup. Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (Iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka.' Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka. 'Sesungguhnya (terhadap) hamba-hamba-Ku, engkau (Iblis) tidaklah dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga." &lt;/i&gt;(QS, 17:61-66).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gusdur pun bilang, "Gampang kabuju' nafsu angkoro ing pepaese gebyare dunyo, iri lan meri sugie tonggo mulo atine peteng lan nisto.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian amat jelas, bahwa sejatinya, bukanlah tempat atau kondisi yg membuat rumit, tapi manusianya itu sendiri yang tidak beres memprilakukan aturan atau hukum kehidupannya itu sendiri berdasarkan nafsu angkara. Nafsu menjadi Tuhannya. &lt;i&gt;"Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai Tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?" &lt;/i&gt;(QS, 25:43).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, maka sejatinya manusia selayaknya mengikuti aturan Tuhannya sebagaimana yang sudah jelas-jelas diabadikan, &lt;i&gt;"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad saw), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. &lt;/i&gt;(QS, 4:59). Dengan begitu, hidup pasti menjadi &lt;i&gt;enjoi-enjoi saja&lt;/i&gt;; di dunia kaya di akherat lebih kaya. Bukankah ini yang kita inginkan? Wallahu a'lamu bisshowab.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1551595820005703614?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1551595820005703614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/07/ibadah-vs-badai-ekonomi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1551595820005703614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1551595820005703614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/07/ibadah-vs-badai-ekonomi.html' title='IBADAH vs BADAI EKONOMI'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1604540599218706457</id><published>2011-04-17T20:22:00.000-07:00</published><updated>2011-04-17T20:39:23.647-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY DIARY'/><title type='text'>Ini Catatan Indah</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;(Ide Sederhana Pergolakan Antara Cinta, Nurani, Tradisi, Mistik, dan Agama)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Ini buah curhatan saya kepada sahabat karib saya tentang sebuah masalah yang amat rumit saya hadapi berupa catatan ide solutif yang perlu saya abadikan di sini. Dan, mungkin menjadi cermin cemerlang buat yang lain: &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;_&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Buat sahabatku dan saudaraku lain ayah lain ibu…&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Yang aku sayangi sekaligus aku hormati…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sebelumnya maaf jika aku lancang berbicara tentang hal ini melalui surat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Mengingat percakapan ringan kita dulu. Kamu bilang “Alhamdulillah, setiap yang aku harapkan dan aku yakini kebanyakan berhasil, dan yakin akan hadits yang berbunyi ‘ana inda dhanni abdi…’”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Dari percakapan tersebut, saya lihat kamu yang sekarang sedikit berbeda dangan yang dulu. Pesimisme adalah sebuah sikap yang seharusnya kita jauhi… ingat itu!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Mohon maaf sebelumnya, sejak dulu aku tidak pernah meyakini dengan perkataan oang-orang supranatural seperti dukun, paranormal atau apapun itu walaupun perkataan mereka ada benarnya. Karena aku hanya yakin dengan ketentuan (qadha’ n qadar) Allah SWT. Ketahuilah bahwasannya kepercayaan-kepercayaan seperti itu mendekati syirik dan Allah sangat membenci itu. Di sini saya akan menuliskan sedikit tentang bahaya syirik seperti itu, antara lain: Pelecehan martabat manusia, membenarkan khurafat, syirik adalah kedzaliman yang terbesar, syirik menimbulkan rasa takut atau kekhawatiran yang tidak wajar, menyebarkan hala-hal yang negative dalam kehidupan manusia, dan orang syirik akan masuk neraka. Wallahu A’lam Bisshawwab…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Menurutku, ada baiknya jika kita memperhatikan filosofi air, ia tenang dan akan terus megalir. Jika ia didiamkan akan membawa dampak bagi dirinya sendiri dan orang lain (bau, berkuman dan tidak jernih), jika ia dibendung/ditentang juga demikian, ia akan berontak hingga bisa mengakibatkan banjir jika terlalu besar. Karena itulah, biarkan dia mengalirkan secara alamiah, serahkan dan pasrahkan kepada Allah SWT yang menciptakan dan mengaturnya niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya. Bahkan hal-hal yang najis akan suci jika terkena air yang mengalir, bukankah begitu? Allah maha adil, bijaksana, pengasih, penyayang dan maha segala-galanya. Masalah maut, rejeki dan jodoh itu ketentuan Allah bukan kita, kita hanya bisa bisa berdoa, berusaha ikhtiar dan tawakkal.&lt;span style="font-family: Calibri; font-size: 11pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri; font-size: 11pt; line-height: 115%;"&gt;Aku menulis ini bukan berarti aku menganggap kamu yang bukan-bukan, bahkan aku yakin kamu lebih paham dari aku apalagi kamu telah khatam dalam menghafal dan memahami al-Qur’an yang insya Allah kamu lebih memungkinkan untuk mengamalkannya dengan baik. Aku hanya tidak ingin kamu terus-menerus dalam kesedihan bahkan terjerumus ke dalam keputusasaan. Aku hanya ingin berbagi kepedulian terhadap seorang sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku lain ayah dan lain ibu, hehehe… jika memang hal terburuk terjadi (na’udzu billahi min dzalik; semoga hal ini tidak terjadi) sehingga kamu tidak berjodoh dengannya, yakinlah bahwa Allah tidak akan berbuat dzalim terhadap hambanya, apalagi ia adalah seorang yang mengagungkanNya dengan menjaga, menghafalkan dan mengamalkan al-Qur’an. &lt;i&gt;IN TASHURULLAHA YANSHURKUM.&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Wallahul musta’an…&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu, tapi aku rasa untuk saat ini sudah cukup dulu. Semoga tulisa ringan ini bermanfaat bagimu dan bagi kita semua. Amin…&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;LA TAHZAN INNALLAHA MA’ANA…&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;"&gt;TEMPEH, 18 APRIL 2011&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; SAUDARAMU:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; M. MAHMUD KAMILUDDIN&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri; font-size: 11pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;_ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: left; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri; font-size: 11pt; line-height: 115%;"&gt;Demikian catatan teman saya itu. Selebihnya mohon maaf dan terima kasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Calibri; font-size: 11pt; line-height: 115%;"&gt;Terkhusus buat sahabat sekaligus saudara saya itu: "Kau adalah bagian dari sumber air yang mengalir itu yang amat jernih, jernih, dan jernih menuntunku. Mohon maaf dan terima kasih&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1604540599218706457?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1604540599218706457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/04/ini-catatan-indah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1604540599218706457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1604540599218706457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/04/ini-catatan-indah.html' title='Ini Catatan Indah'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1396363474449609963</id><published>2011-03-30T02:38:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T05:19:00.022-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Tentara Iblis Paling Sakti</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JAk3aS1-0HI/TZBasecSFsI/AAAAAAAAAbU/q5mWYO5nPww/s1600/FB-003.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/-JAk3aS1-0HI/TZBasecSFsI/AAAAAAAAAbU/q5mWYO5nPww/s200/FB-003.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Ini pengalaman menarik yang harus direnungi dalam-dalam, terutama bagi saya pribadi. Sebetulnya ini persoalan pribadi yang mungkin saja tidak patut dicatat seperti ini, sebab terkait dengan kepribadian atau isi hati saya, kuat lemahnya iman saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir, di samping karena saya sadari bahwa saya manusia biasa yang masih muda sehingga saya yakin ini juga dialami manusia lain, sekaligus-lebih dari itu-mungkin saja ini juga menjadi perenungan bagi yang lain, maka saya tidak malu-malu untuk mengungkap. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Begini, ada seorang gadis di desa saya. Dia amat berbeda menurut saya dengan para gadis sebayanya. Bedanya, dia terkenal dengan kecantikannya. Dari itu saya penasaran, saking cantiknya sehingga emak saya pun mengakuinya dan lelaki yang melihatnya pasti &lt;i&gt;kepincut&lt;/i&gt; kepadanya meski diam-diam, ini kata orang-orang. Saya cuma berpikir, &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; sampai segitunya orang-orang menilainya, diakah Zulaihah modern? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Suatu hari, pada saat salat magrib seperti biasa saya punya rutinisasi bacaan lumayan banyak yang tidak bisa saya tinggal sejak dari pesantren sebagai ajaran dari kiai. Magrib itu, ada tamu &lt;i&gt;pas&lt;/i&gt; bapaknya dia ada keperluan dengan emak saya dan dia ikut. Tau dia ikut, saking penasarannya selama&amp;nbsp; ini, saya menjadi gelisah &lt;i&gt;ga’&lt;/i&gt; konsentrasi ingin cepat-cepat keluar dari musalla pribadi buat melihat gadis itu, sedangkan bacaan masih tinggal seperempat. Sehingga, dari pada &lt;i&gt;ga’&lt;/i&gt; khusu', pikiran melayang ke mana-mana, saya berhenti saja, lebih baik saya ngulang dari awal di waktu lain. Lalu saya menemuinya, alangkah memang indahnya, tapi tidak se-&lt;i&gt;wah&lt;/i&gt; kata orang-orang, sebab saya pikir banyak yang cantik kayak dia juga. Apalagi sekarang, seakan tidak ada yang jelek berhubung teknologi kecanntikan dan modeling makin canggih. Lebih-lebih yang dulu bagian dari perempuan yang diidamkan amat sulit dilihat, sekarang sudah biasa terlihat. &lt;i&gt;Wah&lt;/i&gt;, pokoknya saat itu selain cantik wajahnya bagiannya yang lain juga tampak lebih indah. Bayangkan saja, rambutnya terurai indah, bodinya amat &lt;i&gt;uh&lt;/i&gt; dengan kaos ketat plus bagian bawahnya yang amat mulus dengan rok pendek. Semuanya tampak jelas. Sungguh bahasa anak mudanya, amat menggaerahkan. Sampai-sampai saya menghayal setinggi langit, betapa nikmat (secara dohir) andai&amp;nbsp; dia jadi istri saya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Lalu, menyaksikan semua itu, saya mengelus dada tanpa tangan sekaligus menertawai dalam hati kondisi iman diri; Inikah ujian zaman ini sekaligus kondisi keimannya, amat lebih dahsyat dari pada godaan jin, pocong, gendoruwo, dedemit atau tempat-tempat angker dan sejenisnya, sampai-sampai dzikirpun ditinggal&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;"D&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;an (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil". Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasudlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;(QS: Al-Isra’ 61-64)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Dari itu saya sadari, ternyata iman saya tak seberapa, bahkan masih lebih ringan dari pada setitik debu yang terbang dibawa angin. Saya amat malu pada diri saya sendiri.&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Saya juga menjadi ingat peristiwa seorang ustazd yang sudah diakui tirakatnya di gunung-gunung, di gua-gua amat kuat dan hebat; jin, dedemit dan hantu &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; apapun menggodanya tak dihiraunya; amalan dikirnya banyak, bangun malamnya kuat, orang berobat kepadanya sembuh. &lt;i&gt;Eh,&lt;/i&gt; ternyata suatu hari dia terkena kasus meniduri seorang istri orang lain pemilik warung kopi yang memang lumayan seksi. Dia &lt;i&gt;kepincut&lt;/i&gt; dengan bodi aduhai dan mulus apa yang menjadi bagian tubuhnya. Dia terjatuh zina muhson. Sungguh, amat kasian dia. Semua tirakatnya yang amat lama sia-sia, hancur lebur bur bur....&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Kasus seperti ini, pembaca juga akan menyadarinya memang banyak terjadi pada orang yang malah tak disangka semisal kiai, pemimpin, tokoh, atau santri dalam kasus-kasus pencabulan, nikah paksa, ambisius poligami, dan sejenisnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Maka, saya ingat kata teman saya di jalanan, bahwa iman itu ibarat dataran ini, ada gunung ada lembah. Suatu saat kalau ada di atas gunung maka posisi tinggi, tapi pada saat yang lain ada pada lembah sehingga posisi rendah bahkan terjerembab ke jurang. Ini amat benar. Dan, bisa terjadi pada siapa saja. Sehingga manusia tidak bisa menilai, iman ini kuat iman itu bejat; apalagi bilang saya suci dia najis; saya manusia pilihan dia manusia pasaran; saya surga dia neraka.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Padahal, sudah sangat jelas, "&lt;i&gt;Dan berapa banyak kaum setelah nuh, yang telah kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Yang Maha mengetahui, Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya".&lt;/i&gt; (QS, Al-Isra': 17). Atau, bahkan merasa benar tapi justru sebetulnya dirinyalah yang paling salah, &lt;i&gt;"Katakanlah (Muhammad saw), apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang an yang paling rugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya&lt;/i&gt; (QS, Al-Kahfi: 103-104). Na'udzubillahi min dzaalik dan Wallahu'alamu bis sowab.&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1396363474449609963?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1396363474449609963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/03/tentara-iblis-paling-sakti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1396363474449609963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1396363474449609963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/03/tentara-iblis-paling-sakti.html' title='Tentara Iblis Paling Sakti'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-JAk3aS1-0HI/TZBasecSFsI/AAAAAAAAAbU/q5mWYO5nPww/s72-c/FB-003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-101817495077216586</id><published>2011-03-28T19:47:00.000-07:00</published><updated>2011-04-02T05:18:08.101-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Kesenangan Relatif</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-3Go8kHXi79o/TZKeiBDWQOI/AAAAAAAAAbc/26cj6TDTL8Y/s1600/sugem-003.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span id="goog_299052103"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_299052104"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-15_7p0e65pY/TZKcQQLWf7I/AAAAAAAAAbY/i0CfmvQctYU/s1600/sugem.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;"Apa kabar sabil? Kamu hampir sukses jika hafal Quran lalu nikah. Aduh senangnya..." Ini sms teman &amp;nbsp;saya kepada saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Menurut kaca mata mahasiswa, hafal Quran dan nikah, ini variabel X-nya. Sukses dan senang, ini variabel Y-nya. Atau, yang pertama sebabnya yang kedua akibatnya. Betulkah begini? Bisa iya bisa tidak. Sebab, ini relatif, tergantung dari pribadinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Km1NcwXLmKg/TZKgKZ2cMdI/AAAAAAAAAbo/LwMIkI6yIlU/s1600/rajamas+jakarta.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://2.bp.blogspot.com/-Km1NcwXLmKg/TZKgKZ2cMdI/AAAAAAAAAbo/LwMIkI6yIlU/s200/rajamas+jakarta.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Pikir saja, bukankah para pelacur itu hidupnya sukses dan senang, banyak yang punya rumah megah dan mobil mewah, begitu juga para pemain judi, perampok, para artis dan sejenisnya. Saya bilang sukses dan bahagia karena mereka melakoninya bahkan seumur hidupnya, ada unsur yang mendatangkan kesenangan sehingga mereka amat hobi itu. Secara akal tidak mungkin orang akan melakoni suatu hal yang menyusahkan dirinya. Padahal, bukankah semua itu bagi kita mungkin pekerjaan buruk atau keji dan menyedihkan? Ini karena kita berpandangan tidak ada unsur yang mendatangkan kebahagiaan tapi ada unsur yang mendatangkan celaka di dalamnya, sehingga kita tidak hobi dan menjauhinya, maka kita tidak melakoni sebagai mana orang yang melakoni itu. Sedangkan bagi kita mungkin ada suatu hal lain yang menurut kita lebih baik sehingga kita hobi dan melakoni, misalnya baca Quran, salat, puasa, dan lainnya, adapun para pelacur tidak melakukannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Kenapa demikian bedanya? Yaitu tadi, karena bukan yang diyakini atau yang dihobi. Jelasnya, sebagaimana dikata, "Duniamu milikmu dan duniaku milikku". Atau, &lt;i&gt;" Untuk mu pekerjaanmu dan&amp;nbsp; untukku pekerjaanku" &lt;/i&gt;(QS, Al-Isra’: 139). “&lt;i&gt;Katakanlah: ‘Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaa-Nya kami mengikhlaskan hati.”&lt;/i&gt; (QS, Al-Baqarah: 139). Dalam ayat lain Allah swt menegaskan, &lt;i&gt;"Katakanlah (Muhammad saw) tiap suatu (mahluk Tuhan/manusia) bekerja di atas jalannya, dan Tuhanmu Dia yang lebih mengetahui siapa yang lebih lurus jalanya."&lt;/i&gt; (QS, Al-Isra': 84).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Lalu bagimana sejatinya sukses atau senang itu yang pastinya semua menganggapnya begitu bagaimanapun, kapanpun, dan dimanapun?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Untuk menjawab itu maka kita harus mencari sudut pemahaman standart kesenangan yang sebetulnya semua mengakuinya. Ini disebut juga dengan kesenangan universal. Yakni semua orang kalau melakoninya bisa dan senang abadi dunia dan aherat sekaligus juga tidak hanya senang dengan dirinya sendiri seraya merugikan orang lain tapi juga dapat menyenangkan yang lain. Inilah kesenangan sejati (yang lebih lurus jalannya).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Untuk meraih ini harus ada standar universal bukan dari sudut partikular atau dunia masing-masing sebagaimana di atas. Maka, pekerjaan melacur atau mencuri kesenangannya nisbi atau sementara dan kadangkala luarnya saja tanpak senang tapi batinnya &lt;i&gt;nelangsa&lt;/i&gt; sebab keji tidak abadi, dan bahaya masa depan serta menyakiti yang lain. &lt;i&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adaalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk&lt;/i&gt;. (QS,Al- Isra’: 32)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Lalu bagaimana cara untuk senang sejati itu? Caranya melakoni sesuatu atau pekerjaan yang sekiranya tidak menyimpang dari aturan Tuhan sebagai pencipta (relasi vertikal/syariat agama/ulama), kemanusiaan (relasi sosial/perdata), aturan negara (sebagai warga negara/umara/pidana), dan nurani diri. Keempat aturan itu adalah dasar pertimbangan tertib sebelum menempuh suatu jalan pekerjaan, perbuatan, atau profesi, dengan demikian akan dapat mengarah ke jalan yang lebih lurus itu (kesenangan sejati).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Tertib artinya urut. Sebab, aturan Tuhan adalah aturan absolut yang harus menjadi dasar pertimbangan utama dari segalanya. Kalau yang ini baik maka yang lain pasti ikutan baik. Kalau yang lain berbeda dari yang ini berarti yang lain salah. Misalnya, agama jelas melarang perbuatan zina karena memang keji atau merusak, sudah pasti segala aturan harus mengakuinya. Jadi, kalau ada aturan yang&amp;nbsp; menghalalkan zina berarti aturan itu yang tidak beres. Dan, tidak ada aturan lain yang membentuk aturan baik kecuali memang sudah ada dalam aturan agama itu atau memang diangkat dari aturan agama itu. Adakah aturan baik yang di luar aturan agama itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Kalau demikian, bagaimana dengan bukankah Tuhan atau agama itu banyak dan berbeda. Soal ini memang agak rumit, sebab dalam hal ini manusia tidak akan lepas dari pandangan partikular, artinya masing-masing agama akan mengakui Tuhan dan kebenarannya masing-masing, dan memang sudah menjadi qodrat kehidupan dan hak pribadi masing-masing. &lt;i&gt;“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” &lt;/i&gt;(QS, Yunus: 99-100).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Namun meski demikian, yang jelas agama apapun-apalagi samawi-pasti menetapkan aturan baik serta juga akan sesuai dengan segala aturan di luarnya. Kecuali ada agama yang misalnya menghalalkan pelacuran maka itu agama tidak benar. Negara, sosial, dan nuranipun akan merasakan itu juga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Maka dengan demikian kesenangan itu ada dua macam, nisbi dan abadi. Ini menurut pemikiran manusia secara universal yang lebih damai. Adapun dalam hubungannya dengan Tuhan keduanya sama-sama relatif. Sebab, bisa jadi yang katanya manusia kesenangannya nisbi menurut Tuhan abadi dan sebaliknya &lt;i&gt;“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui&lt;/i&gt;.” (QS, Al-Baqarah: 216).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Sedangkan secara partikular masing-masing pasti merasa paling absolut berdasarkan sistem kesenangan dalam agama masing-masing. Misal, sudah barang pasti bagi saya kesenangan abadi adalah kesenangan yang diatur oleh Tuhan saya Allah swt dan agama saya Islam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Kalau masalah kesenangan dalam agama mana yang paling benar ini rumit bahkan tidak bisa apalagi mau menyatukan semua agama. Masalah ini sudah terjadi sejak zaman jahiliah sampai kapanpun, ini sudah menjadi qadarat manusia sebagaimana pada surat Yunus 99-100 di atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Lalu bagaimana ahirnya? Urusan Tuhan atau agama itu menjadi urusan pribadi masing-masing. Maka yang penting sekarang adalah bersikap mencari kesenangan dengan kerukunan dan kedamaian antara sesasama yang sesuai dengan ril Tuhan masing-masing. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Aturan negara, adalah aturan yang dibuat pemerintah, para pemimpin atau agama menyebutnya umara' yang secara resmi tertulis, misalnyta Undang-Undang Dasar, Pansasila, GBHN dan lainnya. Aturan ini harus juga berdasar kepada aturan Tuhan. Ulama (agama) dan umara (negara) adalah sebuah keutuhan meski negara sejatinya adalah bagian dari aturan agama itu sendiri, sebagaimana agama mengatur bahwa manusia selain taat kepada Tuhan dan ulama harus taat juga kepada para pemimpin (QS, An-Nisa’: 59). Keduanya harus utuh kecuali aturan negaranya menyimpang dari ril agamanya. Misalnya ada sebuah negara yang melegitimasi nikah sesama jenis, maka harus tidak ditaati karena agama melarang itu. Begitu juga taat dalam agama harus utuh tidak setengah-setengah (QS, Al-Baqarah: 208). Misalnya nikah sirri, ini menurut hukum agama sah tapi menurut hukum negara tidak sah. Apakah ini hukum agama bertentangan dengan hukum negara dan negaranya yang benar? Tidak begitu. Tapi manusia yang mena’ati hukum agama itu yang tidak utuh. Yakni, mena’ati aturan nikahnya saja tapi tidak mena’ati bahwa agama mengatur harus ta’at kepada umara (negara). Jadi, dalam agama juga salah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Aturan sosial adaalah aturan yang disepakati bersama guna kesejahteraan bersama, biasanya terkait dengan kebiasaan moral dalam bertingkah meski tidak tertulis. Maka dari itu, ini biasa disebut adat atau tradisi. Orang yang melanggar ini sanksinya menanggung beban moral seperti malu, dikucilkan, dicemooh, dan sejenisnya. Hukum ini juga harus tunduk kepada hukum agama dan negara di atasnya, maka harus dita'ati kecuali yang tidak sesuai, misalnya tradisi daerah metropolitan yang kalau bertemu pakai pelukan atau ciuman, maka harus dijauhi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Nurani, ini aturan yang bersumber dari gerak batin atau rasa jiwa pribadi, seperti mampu tidaknya diri, atau tenang tidaknya hati, atau ihlas tidaknya. Sebab, nurani tidak akan mengajak buruk seperti nafsu. Dan, nurani ini biasanya lebih peka, maka sering disebut juga dengan insting. Caranya, sebelum melakoni sesuatu harus dipertimbangkan dulu dengan gerak nurani itu: mampukah saya, atau tenangkah saya, atau ihlaskah saya. Sanksi pelanggaranya jiwa tertekan, gelisah, gundah dan sejenisnya meski orang lain tidak tahu. Maka dikata &lt;i&gt;"sal dhomiroka"&lt;/i&gt; (tanyalah nuranimu). Rasul saw pun menegaskan bahwa Di dalam tubuh ada segumpal daging apabila dia baik baiklah seluruhnya. Segumpal daging itu adalah hati. (Hadist Nabi saw)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Ahirnya, kesenangan dan kesuksesan sejatinya mudah, yakni berbuat atas dasar kerukunan, kedamaian, dan ketulusan yang sesuai dengan ril Tuhan dalam agama masing-masing, undang-undang negara, hukum sosial, dan suara nurani. Itu saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Kalau dalam Islam yang khusus saya yakini, berbuat sesuai tuntunan Al-Quran dan Hadist Rasul saw, sebagaimana pesan Beliau bahwa Aku tinggalkan dua perkara pada kalian yang apabila kalian berpegang kepada keduanya akan selamat, yaitu Al-Quran dan Hadist." Di dalam keduanya lengkap dan holistik mengatur kehidupan beribadah, bernegara, bersosial, dan pribadi. &lt;i&gt;“Dan kami tidak mengutus Engkau (Muhammad saw) melainkan untuk seluruh umat manusia (secara utuh), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.”&lt;/i&gt; (QS, Saba’: 28). &lt;i&gt;Wallaahu'alamu bisshowaab.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-101817495077216586?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/101817495077216586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/03/kesenangan-relatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/101817495077216586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/101817495077216586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/03/kesenangan-relatif.html' title='Kesenangan Relatif'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Km1NcwXLmKg/TZKgKZ2cMdI/AAAAAAAAAbo/LwMIkI6yIlU/s72-c/rajamas+jakarta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-8807812431909663253</id><published>2011-03-12T20:35:00.000-08:00</published><updated>2011-03-20T01:06:56.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Tip Cantik dan Generasi Muslim STMJ</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-aUuDPLmAUPU/TXxZ_x4D6nI/AAAAAAAAAac/-iwWItdXKRk/s1600/jilbab.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://lh3.googleusercontent.com/-aUuDPLmAUPU/TXxZ_x4D6nI/AAAAAAAAAac/-iwWItdXKRk/s200/jilbab.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Melihat orang makin cantik-cantik, saya berniat berpartisipasi dalam perkembangan dunia kecantikan meski saya bukan ahli kosmetik, atau perias, atau seniman model, tapi hanya dengan catatan sederhana ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di zaman ini, saking sedang hebatnya modernitas manusia, semua bidang dan sisi sudah tersentuh dengan kehebatan itu, termasuk soal keindahan dan modeling. Jelasnya, sekarang, teknologi kosmetik makin canggih, keterampilan tata rias makin lengkap, dunia mode makin oke sehingga siapapun dengan bentuk tubuh dan body face apapun bisa cantik dan menarik. Sampai-sampai dalam sebuah obrolan dengan teman di warung kopi, karena tiap keluar ke manapun kami tidak lepas dari pandangan wanita indah dan model tubuh yang sungguh aduhai, di desa maupun di kota, malam maupun siang, terang maupun hujan, temanku bilang,"sapi pun andai disolek dan dimodel dengan busana seperti itu maka juga akan indah dan bentuknya juga semok." Saya percaya sambil menyeletuk dalam hati, "Ada-ada saja teman saya ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun meski demikian makin maju dan hebatnya, ada sisi atau nilai penting yang terlupakan dan makin rendah terbuang, bahkan nilai ini menjadi yang terpenting mempengaruhi nilai kemanusiaan sendiri.Yakni, sisi harga diri: harga diri wanita makin rendah dengan kecantikan dan bodi dohir yang aduhai itu. Semua orang makin gampang merengkuhnya, baik yang alim (ahli ilmu) lebih-lebih yang bejat (mavia wanita), baik yang agamis maupun sekuler, baik yang jelek maupun yang ganteng, baik yang miskin lebih-lebih yang kaya. Betapa tidak, pikir saja, jika kita ingin lihat wajah cantik dengan rambut indah dan pantat mulus keluar saja ke jalanan lebih-lebih di pasar-pasar dan tempat hiburan kita langsung mendapatknnya. Bukan seakan tapi memang sudah biasa terpajang tanpa karcis-karcis segala, kalah dengan kalau kita ingin lihat hantu-hantuan di pasar-pasar malam, itu masih dikarcis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih jauh dari itu, jika kita ingin membelai wajah indah atau menikmati nikmatnya pantat mulus, buah dada (maaf biar jelas), atau memasuki l&lt;i&gt;obang peradaban wanita &lt;/i&gt;(meminjam istilah dosen filsafat saya) tinggal kenalan di jalanan, lalu pacaran, lalu apel mingguan, kemudian basa basi pembuktian kesetian, dapatlah kita menikmatinya sepuas-puasnya tanpa biaya-biaya mahar segala, tanpa acara akad segala, tanpa saksi segala. Bahkan, tanpa basa basi terlalu lama segala: ketemu, kenalan, langsung minta sendiri &lt;i&gt;dicoblos&lt;/i&gt;. Kalau tidak, pakai cara lain yang tidak kalah mudahnya, tinggal beli saja di kios-kios kusus atau memang sudah banyak terpajang di pinggir jalan-jalan raya yang tak sulit dijangkau laksana kita mau beli es degan atau ote-ote di pinggir jalan. Betul-betul amat murah wanita cantik itu. Ini nyata amat menyedihkn. Inilah kecantikan dohir semata yang membawa petaka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa sebab gaya dan model hidup demikian? Tidak lain karena kungkungan hawa nafsu yang terpengaruh oleh budaya bejat atau kelompok manusia jahiliah yang modern pengagum dunia, dajjal, dan setan. Ada yang menyebutnya Budaya Barat atau lebih intinya Budaya Yahudi (Freemason). Mereka hampir 100% telah berhasil merusak budaya masyarakat Timur (generasi Muslim) dengan berbagai bidang propaganda yang sengaja mereka agendakan layaknya dalam hal busana, mode, tokoh idola, musik, dsb (ingat agenda 3 F: &lt;i&gt;food, fashion, fun&lt;/i&gt;). &lt;i&gt;“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.&lt;/i&gt; (QS, Al-Baqarah: 120). Mereka tanpa rumit-rumit menghilangkan ibadah atau ajaran Islam, tapi hanya dengan iming-iming kesenangan dan kenikmatan dunia itu; pandangan, gaya, dan prilaku generasi Muslim menjadi berkiblat kepada budaya mereka; generasi Muslim ikut-ikutan. &lt;i&gt;“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. &lt;b&gt;Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. &lt;/b&gt;Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.&lt;/i&gt; (QS. Al-A’raaf: 146). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka tanpaklah, kita sering lihat dan dengar jargon kalangan pemuda, "Salat Terus Maksiat tetap Jalan” (STMJ); waktu salat pakai busana jilbab, keluar salat ganti busana ketat, memajang aurat. Di sinilah salat yang mengalami pergeseran makna hanya sebagai tebeng, seremonial ritual semata, tak ihlas, sehingga tidak “&lt;i&gt;Innas salaata  tanha ‘anil fahsyaai wal munkari".&lt;/i&gt; Demikian itu karena salat tidak dipahami sehingga tidak bisa menghayati, salat hanya ikut-ikutan, atau sengaja diniatkan sebagai tebeng itu biar tidak dibilang orang buruk atau jahat. Ahirnya, salanya sia-sia bahkan melahirkan petaka saja (kuwalat). Seperti ini tidak ada bedanya dengan burung Beo yang menghafalkan rukun-rukun salat dan membacanya dengan fasih tapi tetap saja-karena tidak bisa menghayatinya-tak bermanfaat apa-apa: dia akan tetap tak pakai baju; tetap ibunya sendiri atau saudaranya yang dikawin, ngesek sembarangan,; tidak tahu malu. Sehingga, meski pinter bagaimanapun burung Beo baca doa-doa salat tetap saja tidak akan ada yang bilang burung Beo Muslim atau burung Beo saleh. Untuk lebih jelasnya agenda Yahudi atau Freemason, atau pengagum Dajjal (mata satu), atau pengikut Iblis di atas bias dilihat di film penelitian yang didokumentasikan oleh Karkoon film (www.youtube.com/user/karkoons) berjudul “Dhani Dewa dan Yahudi” dan ini sudah banyak beredar di internet.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang, bagaimana solusinya. jadi wanita cantik dohir batin; cantik plus berkepribadian tinggi dan terhormat?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya punya sedikit resep itu. Tip cantik terampuh tanpa lihat body face bagaimanapun dan tanpa biaya, alami tanpa bahan-bahan olahan dan racikan teknologi, juga tanpa aji-aji atau guna-guna, apalagi via dukun, plus sehat anti penyakit, serta berharga diri terhormat, nyata dan terbukti, apakah dan bagaimanakah itu? Gampang, yaitu berusaha kosisten menegakkan dengan sempurna salat 5 waktu, salat-salat sunnah, dan salat malam (tahajjud) serta baca Al-Quran. Sebab, dengan itu kita tidak akan pernah lepas dari wudlu’ (Paling tidak sering wudlu’) sebagai pembersih dan pencuci dohir-batin. Meskin tidak sempurna semua macam salat dan amal ibadah lainnya, paling tidak salat 5 waktu saja dan baca A-Quran dulu, itu sudah hebat asal konsisten sambil berusaha terus meningkatkan ibadah. Namun, salat di sini bukan salatnya burung Beo di atas, tapi salat yang dihayati dan dengan niat ihlas semata mena’ati perintah Allah swt serta mengharap ridla-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Logikanya, secara dohir, seseorang yang selalu mencuci muka dan anggota badan lainnya dengan berwudlu’, sehingga tiap berwudlu’ muka akan terbasuh, kotoran pasti hilang dan bakteri luntur tak sempat bersarang, maka akibatnya kulit selalu bersih, sehat, mengkilat, dan bercahya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara batin, wudlu’ adalah salah satu aktivitas jasmani-rohani yang diajarkan Allah swt (agama) yang memiliki ketentuan dan kepastian gerak/rukun dan bacaan kusus serta makna, nilai atau fungsi yang sudah menjadi keputusan Tuhan yang dijanjikan, yakni suci lahir-batin/jiwa-raga, sehingga tiap melaksanakan wudlu’ dengan gerak dan bacaan kusus itu maka mendapat nilai itu, yakni sisi batin atau nilai kemanusiannya (hatinya) akan suci dari kotoran dosa atau nilai kuburukan sehingga menjadi manusia yang memiliki gerak, perangai, sifat dan sikap yang baik serta tenang. Dari semua sisi dohir-batin itu hasilnya badan sehat, kulit bersih, muka cerah bercahya, sekaligus sifat dan sikap baik yang dapat menyenangkan orang; orang suka padanya; orang cinta padanya; orang ini amat indah dan menyenangkan hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Termasuk nilai gerak sikap yang timbul dari sisi batin wudlu’ dan salatnya itu adalah hati wanita itu akan bergerak menjaga dohirnya dari segala yang tidak pantas atau maksiat seperti busana ketat yang memajang murah-murah keindahan tubuhnya itu, yakni dengan memakai kerudung atau jilbab atau menutupi seluruh auratnya. Dari sinilah logikanya, dia akan berwibawa dan terjaga dari gangguan lelaki hidung belang, sebab paling tidak kondisinya tidak memancing syahwat lelaki; lelaki akan berpikir sendiri bahwa wanita itu betul-betul menjaga dirinya sehingga tidak enak sendiri untuk iseng kepadanya. &lt;i&gt;"Hai Nabi saw, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". &lt;b&gt;Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.&lt;/b&gt; Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;/i&gt; (QS, Al-Ahzab: 59)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Percaya? Buktikan saja asal dengan niat ihlas mena’ati perintah dan menjauhi larangan Allah swt serta mengharap ridlo-Nya semata sekaligus yakin, insallah anda akan menjadi wanita selain cantik anda berwibawa; kepribadian anda tinggi dan terhormat, pada muaranya kecantikan anda membawa selamat. Meskipun semua orang kepincut atau kesemsem kepada anda tidak sembarang orang meraih keindahan anda itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ahirnya, anda tinggal pilih: mau tetap menjadi wanita cantik jasmani doang yang atas dasar hawa nafsu ikut-ikutan budaya Dajjal di atas; menjadi kaum Yahudi (Freemasory) yang bahagia dunia dan neraka di aherat sehingga pasangan anda juga pasti kaum dajjal itu, atau menjadi wanita Muslim sejati yang indah dan berkepribadian terhormat serta selamat bahagia dunia-aherat? &lt;i&gt;“Katakanlah: ‘Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya'. Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya (aherat). &lt;/i&gt;(QS, Maryam: 75-76)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang, keputusan berada pada diri anda sendiri. &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).&lt;/b&gt; Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).&lt;/i&gt; (QS, An-Nur: 26). Selebihnya, Allah lebih tahu segalanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-8807812431909663253?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/8807812431909663253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/03/tip-cantik-dan-generasi-muslim-stmj.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8807812431909663253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8807812431909663253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2011/03/tip-cantik-dan-generasi-muslim-stmj.html' title='Tip Cantik dan Generasi Muslim STMJ'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh3.googleusercontent.com/-aUuDPLmAUPU/TXxZ_x4D6nI/AAAAAAAAAac/-iwWItdXKRk/s72-c/jilbab.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-6043468734148941883</id><published>2010-10-08T20:34:00.000-07:00</published><updated>2010-11-22T19:21:42.352-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Memperbaharui Sahadat  di Semeru?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/TNDzT7lQUAI/AAAAAAAAAaA/mi435uOaCJY/s1600/G.+Arjuno.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://2.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/TNDzT7lQUAI/AAAAAAAAAaA/mi435uOaCJY/s200/G.+Arjuno.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ini bagi saya pengalaman terunik. Begini, saya punya dosen utama di jurusan Filsafat Agama, Hamzah F. Farmi namanya. Beliau bagi saya betul-betul seorang filosof sejati meski disiplin kefilsafatannya masih sebatas Master (S2). Gelar dalam filsafat bagi Beliau bukan sekedar gelar akademik yang tanpa arti. Sebab, disimplin filsafat betul-betul Beliau hayati sebagai metode menjalani hidup atau sebagai pola pikir dan prilaku eksistensi kepribadiannya, bukan sekedar transfer ilmu yang dicatat di atas kertas.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu indikasinya adalah keunikannya: Dalam umur lebih dari separuh baya Beliau masih belum beristri. Sebabnya, bukan berarti tidak jantan atau tidak mengikuti sunnah Nabi saw, akan tetapi karena cinta ilmu yang merasa belum sempurna; nikah dikawatirkan akan mengganggu aktifitas keilmuan atau kefilsatannya; nikmatnya ilmu dengan berfilsafat itu lebih nikmat dari pada nikah. Ini kata Beliau ketika ditanya tentang itu. Termasuk keunikannya lagi, Beliau jarang makan dan jarang tidur tapi badannya sehat, prilaku disiplin bagi siapa saja, sering dan kuat lama bermeditasi dan salat malam (tahajjud) serta membaca Al-Quran, hanya sibuk di perpustakan menulis dan membaca buku, dan masih banyak yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keunikan yang saya temukan terakhir, dan ini yang paling unik, bahkan seakan tidak masuk akal bagi orang yang aktif di ranah pemikiran atau logika seperti Beliau. Yakni, selama bulan puasa kemarin, Beliau melakukan semedi atau bertapa di gunung Semeru Lumajang Jawa Timur. Gunung yang konon paling besar dan aktif di jawa serta paling angker dan penuh dengan cerita-cerita mistis. Ini diketahui dari kabar Beliau langsung kepada mantan mahasiswa-mahasiswanya termasuk kepada saya via sms yang isinya sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sms saya (&lt;b&gt;087850050084&lt;/b&gt;): "Assalamu'alaikum Wr.Wb. Pak, sy slh stu mntan mahasisw Bpk, Ali Sabilullah. Sy dengar dr temn2 bhw Bapak slm bln Ramadan kmrin bertapa di G. Semeru. Ini sy kira unik bagi Bpk yang akademis di bidang filsafat. Maka, saya butuh kepastian, betulkah dan apa tujuannya?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Balasan sms Beliau (&lt;b&gt;081273903911&lt;/b&gt;): Sy sekedar ingin "memperbaharui syahadat" dg melatih aplikasi doktrin filosofis yg telah sy terima. Mohon doa. tks!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sms ini saya tanpakkan di sini bukan bertujuan apa-apa kecuali karena ini amat menarik untuk dikaji ,terutama bagi saya pribadi dan teman-teman di manapun yang suka filsafat. Ini betul-betul sarat makna. Coba direnungi "memperbaharui syahadat", apa maksudnya? Masing-masing memiliki ide tersendiri. Saya tidak perlu menjelaskan di sini, sebab ini persoalan perasaan, keyakinan, atau kalau boleh saya sebut "ilmu hati". Ilmu yang amat sangat dalam, bahkan tidak ada di bangku-bangku perkuliahan. Maka dari itu, mungkin ada benarnya Beliau sampai mencarinya di G. semeru sendirian. Entah, siapa dosennya, macam, dedemit, ataukah malaikat? Apakah syahadat perlu diperbaharui? Atau, apakah syahadat kita selama ini memang salah? Maka, syahadat apakah yang diperbaharui itu, bukankah syahadat tinggal membacanya? Bahkan, bukankah&amp;nbsp; amat lebih wajar dan terpuji kalau menghayati sahadat di Masjid atau di majlis-majlis taklim Keislaman? Entah......Selamat mengkaji, merenungi, lebih-lebih dihayati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau, kalau ingin lebih jelas, langsung saja hubungi nomor beliau di atas, insaallah tidak berubah dan dibalas, asal anda serius dan berniat baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk Bapak Hamzah F. Farmi, saya mohon maaf apabila saya menulis semua ini di ranah umum ini, sebab saya yakin akan bermanfaat banyak bagi sekitar kita, lebih-lebih semoga menjadi doa kesuksesan Bapak sebagai mana yang Bapak tulis di ahir sms di atas kepada saya. Bapak betul-betul sosok unik dan inspiratif bagi saya. Akhirnya, terima kasih tak terhingga atas segalanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lawang, 09102010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-6043468734148941883?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/6043468734148941883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/10/ilmu-hati-dari-sosok-unik-ini-bagi-saya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6043468734148941883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6043468734148941883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/10/ilmu-hati-dari-sosok-unik-ini-bagi-saya.html' title='Memperbaharui Sahadat  di Semeru?'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/TNDzT7lQUAI/AAAAAAAAAaA/mi435uOaCJY/s72-c/G.+Arjuno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-3754921294634232168</id><published>2010-06-29T20:28:00.001-07:00</published><updated>2010-07-15T00:03:39.948-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Emak Saya, Gayus, dan Negeri Porno</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/TD6ymVhakuI/AAAAAAAAAZo/-aGh9GqHrrE/s1600/Perjuangn.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://4.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/TD6ymVhakuI/AAAAAAAAAZo/-aGh9GqHrrE/s200/Perjuangn.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ini berangkat dari cerita pribadi dulu, tentang saya sebagai bagian komponen kecil dari bangsa di negeri ini, &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya lebih sering bersedih tentang diri saya sendiri, sesekali sampai &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;down&lt;/i&gt;. Rasanya, mau menyerah pada nasib yang tak mujur ini. Tapi, sesekali juga saya masih bisa tersenyum kalau mikir-mikir nasib saya lebih dalam lagi. Misalnya, tentang masalah satu ini, kondisi belajar saya di pesantren yang baru. Andai sampean tahu, akan merasa sedih, tapi juga akan bisa tersenyum seakan ada lucunya. Betapa tidak, sampai saat ini, sejak tiga bulan lalu, uang pendaftaran saya sebagai santri baru belum terlunasi. Saya mencicilnya sedikit demi sedikit.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cicilan itu bukan karena kebijakan pesantren yang mengatur demikian, yang mungkin menjadi dispensasi keringanan biaya daftar yang memang terlalu mahal sebagaimana terjadi di beberapa pesantren yang katanya pesantren elit. Bahkan, konon ada pesantren yang pendaftarannya harus membawa sepasang sapi besar-besar. Tapi, karena memang orang tua saya yang tidak mampu membayar langsung lunas. Padahal, pembayarannya sangat relatif murah, cuma Rp 250.000. Itupun, sekali seumur hidup di pesantren itu. Selain uang indekos (makan) yang jumlahnya sama tapi perbulan. Nah, kalau ini harus bayar tepat waktu soalnya makan sudah pasti tiap hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bukankah uang pendaftaran itu sangat amat murah? Inilah sedihnya tentang saya. Betapa pun murahnya, saya masih mencicilnya, berkali-kali lagi. Sampai-sampai saya tidak punya cara dan &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; untuk menghadapi pengurus yang selalu menagih. Saya amat malu sekali. Dan, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;alhamdulillah, &lt;/i&gt;pengerus itu mengerti juga. Akhirnya, tiap saya bayar indekos perbulan, saya tinggal sambil senyum saja, dan pengurusnya sudah mengerti bahwa itu pertanda kompromi saya tidak bisa membayar cicilan pendaftaran itu, kecuali &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pas &lt;/i&gt;untuk bayar indekos saja. Pasalnya, kesedihan saya ini adalah saya terlalu amat miskin untuk hal materi ini. Jangankan ratusan ribu, satuan ribu saja orang tua saya amat sangat sulit mendapatkannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sungguh saya ingat, betapa pontang pantingnya Emak-Bapak saya di kampung. Saat itu, saya mau berangkat ke pondok yang baru itu. Tentunya, yang dipersiapkan lumayan komplit, termasuk biaya ongkos transportasi dan pendaftaran santri baru. Saya ingat, bagaimana saat itu Emak-Bapak saya mengumpulkan uang recehan jauh-jauh sebelumnya untuk itu. Uang receh seratus rupiah amat sangat besar nilainya bagi kami. Saya juga ingat, bagaimana sehari sebelum berangkat uang persiapan itu masih belum lengkap, sehingga Emak-Bapak saya usai salat Subuh langsung pergi ke sawah. Apa tujuannya? Hanya untuk memetik sisa-sisa buah cabe yang pohonnya sudah keriput, mau dijual untuk melengkapi kekurangan biaya saya itu. Andai saja orang lain digratiskan untuk memetik cabe itu, pasti tidak mau karena hasilnya tidak sesuai dengan capeknya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ya Tuhan, saya ingat waktu itu, Magrib-magrib Emak-Bapak saya baru bergegas pulang dari sawah. Sampai-sampai saya menyusulnya karena sudah terlalu petang. Tapi, bagaimana lagi, demi terpenuhinya bekal belajar saya di pesantren yang baru itu, betapa pun panasnya sinar mentari seharian dengan hasil hanya sekedar beberapa ribu rupiah, keduanya tetap menelateninya. Dari pada, mendapatkan uang banyak tapi dari hasil yang haram. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagi saya, ini adalah sebuah prinsip hidup yang amat luhur. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;, betapa ikhlasnya Emak-Bapak saya itu. Ternyata, mungkin ini apa yang dikatakan oleh Bapak Dahlan Iskan (Dirut PLN) bahwa kalau kaya kaya yang bermanfaat dan kalau miskin miskin yang bermartabat. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;, Emak-Bapak saya sudah memiliki itu sejak lama.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lucunya, ini sekedar penghibur hati saya saja: saya sampai tidak memiliki jurus jitu untuk mengalihkan pikiran pengurus agar tidak menagih cicilan saya itu tiap saya bayar uang indekos perbulan, apalagi tiap ketemu. Saya menjadi orang yang sok lucu di depannya, padahal saya bukan tipe orang yang lucu. Saya juga sok komunikatif di depannya, padahal saya pemalu. Kadang, kalau saya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mikir&lt;/i&gt; kondisi ini saya tersenyum sendiri: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kok&lt;/i&gt; sampai &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;segitunya&lt;/i&gt;! Ini lucunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Begitu juga, ketika saya sedang merasa demikian, saya merenungi orang-orang kaya, konglomerat-konglomerat, atau pejabat-pejabat di negeri ini, terutama kasus-kasus terkait uang: suap menyuap, penggelapan, penipuan, pencurian, atau korupsi, termasuk paling marak skandal Bank Century dan Mafia Pajak Gayus dkk. Saya membandingkan kondisi Emak-Bapak saya itu dengan Gayus itu. Ya, kalau soal materi sudah pasti bagai langit dan bumi. Betapa tidak, Emak-Bapak saya cari uang untuk sesuap nasi hari ini saja, belum lagi untuk esok hari, apalagi untuk bayar pajak, sulitnya sudah minta ampun. Acapkali jadi buruh kasar yang bekerja di bawah panasnya terik mentari seharian. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan Gayus, sebagaimana kita ketahui, simpanan uangnya ternyata sampai ratusan milyar rupiah (Jawa Pos, 17/06/2010). Bayangkan saja, berapa perbandingannya: uang ratusan milyar rupiah dengan uang recehan ratusan atau ribuan rupiah hasil kerja keras pontang panting untuk sekedar sesuap nasi sehari. Hasil bayangannya, tentunya lucu, sampean pasti tersenyum kecil, terlalu tak bisa dibandingkan. Andai saja dipikir dengan logika materialistik, harga saya, Emak-Bapak saya, dan seluruh apa yang kami miliki, bagi Gayus mungkin saja sama halnya perasaan saya membeli satu bungkus krupuk seratusan. Artinya, amat gampang membelinya karena hanya barang murah. Lucu sekali.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gayus menumpuk uang itu tinggal kontak sana-sini, bisik ini bisik itu, dan simpan sana-sini pokoknya serba gampang. Nah, hanya saja, inilah yang membedakan antara Emak-Bapak saya dan Gayus: cara mendapatkan uang itu. Bagi saya, cara Emak-Bapak saya mendapatkan uang sekecil itu adalah sebuah nilai harga diri kemanusiaan yang tinggi: keikhlasan atau martabat sangat luhur yang nilainya tidak bisa ditukar atau dibandingkan hanya dengan sekedar materi apalagi hanya dengan uang ratusan milyar milik Gayus itu. Sementara Gayus, tentunya sudah pasti seluruh warga negeri ini tahu bahwa dia adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;raja maling&lt;/i&gt; negeri ini. Masyarakat dibuat rugi, resah, gelisah, atau menderita karenanya. Uangnya itu sejatinya hasil curian atau penipuan (korupsi) yang jelas-jelas disengaja dari rakyat di negeri ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Adik sepupu kecil saya yang masih TK pun kenal Gayus saking terkenalnya, juga ikut ngerti dan benci. Sampai-sampai, suatu hari, ada tikus di dapur saling rebutan ikan yang dicuri dari atas meja makannya. Lalu dia bilang, “kak, ini Gayus-Gayus &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;nyuri&lt;/i&gt; ikanku, rebutan.” Katanya. Saya hanya tertawa melihatnya. Kenapa dia sebut tikus itu Gayus? Mungkin saja, sederhana saja, karena dia sering nongol di media masa dengan nama terpampang besar-besar “GAYUS” dan gambarnya bertubuh orang tapi berkepala seperti tikus. Akhirnya, dia menyimpulkan bahwa yang namanya GAYUS itu ya seperti tikus yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pas&lt;/i&gt; mencuri ikan itu. Maka, adik saya itu wajar saja. Apalagi ejaan belakangnya serupa “ Yus dan Kus”. Anak kecil pun paham itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau demikian, untuk sisi yang ini, maka antara Emak-Bapak saya dan Gayus itu nilainya lebih tak bisa dibandingkan lagi. Sekarang, Emak-Bapak saya yang ada di atas, lebih terhormat. Atau, kalau harus disebut seperti “langit dan sumur”. Tampaknya, ya sudah pasti jelas, kalau Gayus di pandang berkepala tikus oleh masyarakat di negeri ini, sampai oleh adik saya itu, tapi Emak-Bapak saya meski tak terkenal mereka masih manusia sejati. Ini yang membuat saya masih tersenyum dan bangga dengan kondisi saya dan Emak-Bapak saya serta masih &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pede&lt;/i&gt; (percaya diri) menghadapi hidup ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, dari itu, meski catatan ini seakan cuplikan nasib pribadi, paling tidak, penulis berharap, ini menjadi sebuah gambaran atau semacam miniatur-meski terkecil-dari realitas yang mengisi negeri ini. Bahwa, negeri ini kalau dipikir-pikir unik, selain lima keunikan menurut Bapak A.S. Laksana di halaman yang sama (Jawa Pos, 18/04/2010): di negeri ini, ada orang seperti Emak-Bapak saya yang serba kebingungan mendapatkan uang hanya untuk sesuap nasi apalagi untuk biaya belajar saya, harus pontang panting dulu, padahal ini untuk belajar yang saya juga berniat untuk bangsa ini. Lebih-lebih mereka yang busung lapar, kurang gizi, bahkan mati kelaparan. Serta, mereka yang putus sekolah yang tinggal cita-cita, pengangguran, dikerubungi penyakit tak mampu berobat, dan persoalan negeri ini yang mengiris-ngiris hati lainnya. Saya yakin, mereka itu melebihi seperempat jumlah penduduk negeri ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara di sisi lain, ada manusia semacam Gayus dkk yang seenaknya saja melahap uang orang lain dengan serakah. Anehnya, masih bangganya tersenyum-senyum di depan umum seakan tak punya dosa. Bahkan, masih ngotot dengan segudang alasan untuk bertahan. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Astagfirullah.&lt;/i&gt; Padahal Tuhan pun juga jelas-jelas mengingatkan, ”&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu manyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa , padahal kamu mengetahui,”&lt;/i&gt; (QS: Al-Baqarah, 188). Ayat ini sangat amat kongkrit pada kasus mereka. Semoga mereka menghayatinya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagai kita, pada akhirnya, untuk ini kita tinggal tunggu keputusan para hakim negeri ini: apakah Gayus dkk diberi ganjaran setimpal dengan dosa-dosanya atau malah tetap senyum-senyum bebas saja. Bukankah kerapkali kita kecewa dalam hukum? Makanya, kita sebagai warga sah-sah saja kalau kawatir. Termasuk orang-orang kampung seperti saya dan Emak-Bapak saya. Kami juga memerhatikan dan amat ngerti persoalan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;orang-orang atas.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, ke depan, terkhusus bagi para petinggi-petinggi negeri ini yang seakan memang lebih dekat dengan pusaran prilaku-prilaku yang bejat itu (semisal korupsi), andai saja terlintas setan seperti itu di benak mereka, sementara pertimbangan-pertimbangan halal-haram sudah terlalu alergi, atau peraturan-peraturan rumit ini-itu sudah membosankan, atau ajaran “takut dan malu Tuhan” sudah terlalu abstrak, paling tidak, ingatlah atau bayangkanlah: bagaimana tetesan peluh pontang panting para &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;dhu'afa&lt;/i&gt; itu, tangisan kelaparan itu, jeritan kematian itu, dan termasuk Emak-Bapak saya itu. Atau, bayangkan saja, bagaimana seandainya kondisi itu terjadi pada anak-anak atau saudara-saudara sampean (pejabat yang hobi beramal bejat itu) sendiri. Meski sederhana begitu saja, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;insaallah&lt;/i&gt;, andai saja hati sampean masih hidup tidak akan terus melakukannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Harapan lain, semoga catatan ini membawa khikmah dan lebih dapat dihayati. Dari pada, kabar-kabar &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;hot&lt;/i&gt; seputar adegan-adegan mesum yang dilakoni mirip Luna Maya dan Cut Tary vs Ariel yang belakangan paling gemar dikonsumsi masyarakat. Yang sejatinya, malah membuat popularitas pribadi mereka semakin mendunia, ujung-ujungnya tambah bangga; yang malah semakin memancing dan merangsang nafsu bejat kita, apalagi para generasi muda. Mereka amat penasaran dan bisa-bisa &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;meneladani&lt;/i&gt; gaya-gaya maksiat itu; dan, yang justru membuat negeri ini, bangsa ini, lebih sibuk dipenuhi dengan urusan adegan-adegan bejat itu. Sungguh, ini aib negeri yang memalukan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Benar kata &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;orang-orang&lt;/i&gt; DPR, bahwa tidak usah banyak acara, langsung saja panggil ahlinya diadakan tes fisik langsung, beres (Jawa Pos, 17/06/2010). Masalah porno saja &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kok&lt;/i&gt; sampai berminggu-minggu, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;leyeh-leyeh&lt;/i&gt;! Atau, apakah persoalan porno ini memang sudah kadung terbiasa menjadi persoalan yang paling memenuhi otak siapa saja di negeri ini, bagaimanapun cara dan bentuknya? Dan, Apakah ini termasuk jati diri negeri ini? Negeri porno? &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Na'udzubillah.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Lawang, 17/06.2010&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-3754921294634232168?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/3754921294634232168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/06/emak-saya-gayus-dan-negeri-porno.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/3754921294634232168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/3754921294634232168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/06/emak-saya-gayus-dan-negeri-porno.html' title='Emak Saya, Gayus, dan Negeri Porno'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/TD6ymVhakuI/AAAAAAAAAZo/-aGh9GqHrrE/s72-c/Perjuangn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1502957518390587280</id><published>2010-06-05T20:31:00.001-07:00</published><updated>2010-06-14T00:18:04.170-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Nengku yang Makin Binal</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="State" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.1pt 1008.15pt;	margin:1.0in 70.9pt 113.4pt 70.9pt;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bukan niat saya untuk mengurus-ngurus orang lain, mengintip-ngintipi urusannya, atau membuntut-buntuti gerak-geriknya, apalagi menjaga atau mengaturnya. Sebab, menjaga diri saya sendiri saja yang &lt;i&gt;bobrok &lt;/i&gt;ini sudah kewalawan. Hanya saja, mungkin saja, andai saja dia sakit dengan catatan ini dapat menjadi sehat kembali; andai saja dia lusuh dapat segar bugar kembali; andai saja dia &lt;i&gt;down&lt;/i&gt; bisa semangat kembali; dan paling tidak, menjadi penghibur saja. Asal, tidak menjadi pembungkus kacang atau lap tangan, atau bahkan menyakitkan. Catatan saya ini tidak diniatkan demikian.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dulu, saya pernah menulis “pelita suram di pesantren” tentang seorang gadis santriwati neng (putrinya kiai) yang hobinya berpacaran pada khususnya, dan pada umumnya fenomena romantisme di dunia pesantren, yang diambil dari cerita temannya teman saya. Kali ini, masih tetap soal santriwati neng yang binal itu. Intinya, ini masih lanjutannya, meski bukan cerita berlanjut, yang kalau dulu itu kesannya sangat seru dan menggelikan, yang sekarang ini lebih menyerukan sekaligus mengacak-ngacak hati alias menjengkelkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagini, temannya teman saya yang dulu itu (dalam catatan, “pelita suram di pesantren”), setelah melihat banyak teman santriwatinya yang prilaku pergaulannya &lt;i&gt;miri-miring&lt;/i&gt; alias kurang wajar sebagai santri terkhusus yang neng itu, dia mencoba menulis sesuatu sebagai “saling mengingatkan”, mungkin, yang biasa dikirim kepada neng itu. Agar neng yang sempat dia kagumi atau dia &lt;i&gt;emani&lt;/i&gt; itu (bukan cinta) tidak terjatuh ke dalam perigi &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;asmara&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang lebih dalam lagi atau cara bercinta yang kebablasan terang-terangan sebagai seorang santri yang neng, putrinya kiai &lt;i&gt;gedhe&lt;/i&gt; pengasuh pondok pesantren yang amat religius, Tahfidzil Al-Quran.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apa isi catatannya, apakah seperti wasiat atau nasehat seorang kiai? Tentu tidak seperti itu. Hanya berisi kisah-kisah khikmah atau yang penting berisi pelajaran sejauh ia pahami dan diyakini dapat menjadi pelajaran bersama terkait moral atau hal-hal yang pantas dan yang tidak pantas saja. Tapi, tidak berisi soal halal-haram karena dia bukan anggota Majlis Ulama Indonesia (MUI). Itu saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia, teman temannya saya itu, sempat merasa bahagia setinggi langit, sebab saat bertemu dengan neng itu selain dapat ucapan terima kasih, senyuman yang sejuk bermakna dengan mata sipit uniqnya, dia juga dimintai tulisan-tulisannya lagi, pertanda bahwa tulisannya dibaca, pikirnya. Sehingga, dia semakin bersemangat untuk menulis. Dia merasa neng itu betul-betul menjadi motivator sekaligus inspirator bagi tulisan-tulisannya. Neng itu amat berharga bagi keberadaannya di pesantren. Dari itu, dia kagum kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah kesempatan, dia berbicara langung dengannya via telpon yang sebetulnya ini menjadi suatu hal yang dia dambakan semenjak nyantri di pesantren itu, ingin ngomong dengan seorang neng cantik dan baik itu. Niatnya, ingin menyampaikan terima kasih karena telah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan yang dikirimkan kepadanya. Sekaligus mau meminta maaf barang kali dalam catatan-catatannya itu ada banyak hal yang tidak disukainya yang mengganggu aktifitas belajarnya. Apalagi saat nelpon itu, neng itu telah berterus terang bahwa dia telah sedikit terganggu karena dia sedang menghafal Al-Quran. Menghafal Al-Quran &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; ditelpon. &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;i&gt;Kan&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; memang salah. Namun, dengan itu dia (temannya teman saya itu) lebih yakin lagi bahwa neng itu sejatinya adalah baik dan santri yang serius belajar, santri yang lemah lembut, berani untuk benar, dan dewasa, bukan orang yang hobi keluar pondok berpacaran, apalagi dibilang binal atau kegatelan. Itu tidak benar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bahkan, saking dewasanya, pikirnya, di sela-sela obrolannya tersebut neng itu melontarkan sebuah ucapan yang seakan menjadi kritik amat pedas bagi catatan-catatannya sekaligus pada dirinya, bahkan dia terkesan mengajarinya: “Sampean ketahui saja bahwa setiap manusia pernah punya dosa sendiri-sendiri yang diurus sendiri-sendiri.” Katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ucapan sekilas tersebut seakan menjadi tonjokan paling keras pada mukanya seumur hidupnya. Sebab, seakan ingin mengatakan bahwa apa yang dia lakukan mulai dari isi tulisannya sampai obrolan via telpon itu untuk mengurus urusan orang lain (dirinya: neng itu), &lt;i&gt;sok&lt;/i&gt; ngurus dan sok suci sendiri, sekaligus sehingga neng itu merasa dirinya seakan membela diri bahwa wajar dengan dosa-dosanya yang gatel pacaran tersebut sesuai dengan prinsipnya itu, bahwa manusia memiliki dosa masing-masing yang diurus masing-masing. Menangkap kesan ucapan neng untuk dirinya itu demikian, dia akhirnya memilih memohon maaf tak terhingga, meski ucapan atau kesan itu terasa sangat mengacak-ngacak hatinya. Dia pahami bahwa neng itu salah paham kepada prilakunya dengan mengirim catatan-catatan dan menelpon itu. Di samping itu, dia juga merasa bahwa catatan-catatannya selama ini mungkin ada banyak yang isinya tidak sesuai dengan hatinya, atau bahkan terkesan sengaja menyinggung dan menyakiti hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apalagi, jikalau neng itu merasa, apalah artinya dirinya bagi neng itu yang anaknya kiai, padahal dirinya anaknya seorang tani miskin yang tak punya kelebihan apa-apa, sok kenal, dan sok memberi nasehat dengan pakai sok pinter nulis segala. Bukankah neng itu lebih tinggi, anaknya kiai, lebih suci dan terhormat? Dia merasa tentang neng itu demikian. Akhirnya, sekali lagi, dia cuma bisa memohon maaf dan membisu diri, memaklumi dirinya telah salah jalur, bukan dunianya. Sehingga, dia juga hanya bisa berharap semoga kesalahpahaman ini tak terjadi berlanjut. Apalagi, andai dia disuruh jujur, sebetulnya dia menyimpan gelora dahsat amat sayang dan kagum di hatinya kepada neng itu. Entah, apakah karena memang neng itu yang dikenal pertama kali di kalangan santri putri, atau karena lainnya? Yang jelas, dia merasa neng itu telah menjadi motifator dan inspirator bagi hobinya dalam menulis. Maka, dia tidak mau menyakinya, bagaimanapun keadaaannya. Lalu, apakah dengan sikap neng itu kepadanya harapannya diam-diamnya sebagai orang yang amat mengaguminya akan luntur, entah! Andai kagum itu adalah cinta, kerap kali sang pencinta rela disakiti yang dicintai hingga dia dapat mengerti.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berselang tak seberapa lama dari fenomena obrolan via HP itu. Semua keluarga kiai &lt;i&gt;tindakan&lt;/i&gt; keluar pesantren sampai berhari, sehingga otomatis laju pesantren tidak ada yang mengendalikan. Kecuali beberapa santri senior yang dikasih amanat tapi tidak ada apa-apanya bagi santri yang lainnya, bahkan dianggap sama. Dan, beberapa memang ada yang sama tak ada bedanya dengan santri yang lain. Dari itu, tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi pesantren dengan posisi demikian. Dan sudah pasti, paling tidak, &lt;i&gt;leyeh-leyeh&lt;/i&gt; santri makin bebas, obrolan romantis di dapur tambah asik, dan entah apakah santri atau neng yang nekat keluar pacaran semakin ganas dan kesit?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yang terakhir bisa nyata terjawab: di paginya hari itu, dari malam keberangkatan kiai, dia mendengar ocehan santai teman-temannya di kamar, bahwa banyak teman putra putri yang keluar. Itu memang pantas, sebab suasana pondok waktu itu langsung sepi. Jangankan di pagi hari, beberapa detik dari keberangkatan kiai itu saja santri-santrinya banyak yang sudah bersiap-siap untuk &lt;i&gt;tindak&lt;/i&gt; juga. Bahkan, di selentingan tersebut, konon, ada yang sengaja keluar janjian saling berpasangan. Nah, diantara yang tersebut itu adalah nama neng itu, yang masih tetap dengan pasangannya dan temannya yang juga dengan pasangannya seperti dulu-dulunya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mendengar itu, dia tidak kaget lagi, meski pertama sedikit gelisah juga karena orang yang ia kagumi dan harapkan seperti itu. Sebab, dia sudah memahami dari sebelum-sebelumnya, bahwa maklum neng itu seorang neng putrinya kiai, hafidzah lagi (meski masih beberapa juz), sehingga mungkin lebih dewasa dan lebih bersih dari dosa sebagaimana prinsip yang pernah diucapkan itu bahwa masing-masing orang pasti mengalami dosa yang ditanggung masing-masing dan tidak ada orang lain yang mengurusnya. Sehingga, dari itu neng itu bisa jadi berpikir: “Ini dosa saya, tidak ada orang lain yang sok ngurus, istigfar gampang belakangan nanti kalau sudah saya bersenang-senang”. Atau berpikir, “Apalagi ada abi yang jadi syafaat dan santri-santri saya yang tiap hari pasti mendoakan. Apalah artinya dia bukan apa-apa saya ngurus diri saya, sok perhatian, yah, &lt;i&gt;kampret&lt;/i&gt;!”. Akhirnya, dia (temannya teman saya itu) memakluminya, dan diam bisanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dari itu juga dia berpikir, “Hebat neng itu, waktu ditelpon saya sebentar saja dan untuk serius bilangnya mengganggu, tapi kalau keluar bermaksiat lama-lama dengan doinya sampai-sampai meninggalkan tugas-tugasnya di pesantren dia bangga. Hebat, &lt;i&gt;pinter &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;dewasa &lt;/i&gt;banget&lt;i&gt; tuh &lt;/i&gt;neng&lt;i&gt;, busyet!&lt;/i&gt;” Pikirnya jengah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hari itu juga, neng itu memiliki piket ngajar tartil di pesantrennya (suasaranya memang merdu) karena dia oleh kiai diangkat sebagai tenaga pengajar di pesantren itu. Jadi, dia seorang ustadzah yang ngajar tiap hari. Nah, karena saat itu neng itu belum datang dari “shopingria” dengan &lt;i&gt;gendaannya&lt;/i&gt; itu otomatis santri-santrinya tidak ada yang mengajarinya. Kelas menjadi kosong. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mereka bertanya kepada ustadzah di kelas sebelahnya, “Bu, bu guru saya mana kok &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; masuk?” Tanya mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ooo..oooo, ibu gurumu itu sedang &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; enak badan.” Jawabnya meski terasa agak pedas di kerongkongannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mendengar itu, akhirnya para santrinya berhamburan menuju lapangan sempit depan kelas, bersepak bola ria, dari pada kosong kegiatan, pikir mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mendengar cerita ini saya berangan, andai ada saya maka saya akan menjawab pertanyaan para santri itu begini: “ooo..ooo.., ibumu itu mulai tadi pagi sedang janjian dengan pacarnya untuk berkencan di luar pondok sana”. Saya tidak membayangkan kalau andai dijawab yang sebenarnya ini, bagaimana jadinya, apa kata dunia! Tapi, mungkin ini terlalu kasar, terlalu tega. Atau, mungkin benar kata orang &lt;i&gt;&amp;nbsp;pinter, &lt;/i&gt;&amp;nbsp;“Tidak semua yang benar (sebetulnya) itu ditampakkan.” Entah! Neng itu mungkin lebih bijaksana untuk menjawabnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara, sang Aba (Kiai) dan Nyainya di kejauhan sana selalu gelisah seraya berdoa: “Ya Allah, jagalah santri-santriku dari keburukan dan apa yang Kau tidak sukai; selamatkan merekah dari fitnah dosa, mara bahaya, dan bala musibah; luruskan hati mereka yang melenceng; dan tenangkan hati mereka dengan segala kemudahan, barokah, dan ridho-Mu. Amin.” Lebih dari itu, salawat dan ayat-ayat Al-Quran selalu menjadi hiasan hati dan lisannya sepanjang perjalanan. Kiainya itu memang sangat amat sejati. Sebab, dia terinspirasi dalam perjalanan, bahwa kerap dia temui gerak gerik generasi yang rusaknya sudah kelewat batas jauh dari agama, mereka bukak-bukaan berlaku dosa; kerapkali ketika melewati jalan-jalan atau taman-taman kota dia menyaksikan dari jendela mobilnya pemuda pemudi yang sedang duduk berdampingan bermaksiat ria seakan tak punya rasa malu dan dosa. Selain itu, hampir semua kaum Hawa di manapun yang dia lihat di perjalanan bergaya dan berbusana bukak-bukaan, mereka seakan bangga memamerkan kemolekan tubuhnya. Sesekali Pak Kiai itu menangis karena itu. Lalu, dia khusuk berdoa itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di atas sana, burung-burung sarkiti yang menyaksikan bergumam ceplas ceplos melihat kiai berdoa itu, “Hai pak kiai, untuk sementara doamu itu tidak diterima oleh Allah, ditunda. Sebab, sampean tahu, santri-santrimu di pesantren sekarang satu dua yang masih tetap setia kepadamu, yang masih belajar dan tetap pateng mengaji dalam ketiadaanmu ini. Sedangkan yang lain, andai sampean tahu: mereka bersepak bola ria orak-orakan; pesta musikan keras-kerasan; beberapa diantara mereka yang saat ada sampean selalu berkopyak putih bergaya alim sekarang di sana sedang dilepas dan-&lt;i&gt;masaallah&lt;/i&gt;-rambutnya warna-warni layaknya brandalan di jalanan itu; bahkan beberapa diantara mereka yang manggut-manggut di depan sampean, yang sampean pandang mereka baik-baik, santri-santri pilihan, neng-neng, gus-gus, ustadz-ustadzah, yang sering sampean suruh jadi imam salat, tukang adzan, pemimpin salawatan, kami lihat mereka sedang keluar janjian kencan dengan pasangan masing-masing, mereka bermaksiat ria di kota-kota sampai-sampai mereka lupa salat, tak ada bedanya dengan mereka-mereka yang kurang ajar di luar pesantren yang sering sampean temui di jalan-jalan itu dan sampean menangis karenanya.” Begitulah sang burung mengadukan. Namun, apalah daya sang burung, Pak Kiai santai saja tidak memahaminya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di pesantren, sang neng datang ala santri alim dan serius, berbusana muslimah yang lumayan necis dan berwibawa, tidak lepas menebar senyuman sejuk kepada teman-temannya di kamar, menyapa mereka dengan lembut, sopan, sangat amat akrab, serta ceriah sebagaimana memang menjadi sikapnya sehari-hari. Seraya membawa oleh-oleh yang manis-manis seperti senyumannya. Teman-temannya sangat amat suka kepadanya. Dan kemudian, &amp;nbsp;dia tidur-tiduran di atas kasur empuknya seraya terbayang: suasana romantis seharian dengan sang kasih, obrolan yang ceria, canda yang manja, dan ……yang amat nikmat, nikmat, dan nikmat. Teman-teman di sebelahnya bergerombol tak kalah bahagianya mengerubungi oleh-oleh darinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dari cerita di atas, kalau boleh saya menyumbang obrolan untuk teman temannya saya itu, maka saya akan titip salam terkhusus kepada neng yang kayaknya makin binal itu, begini: “Neng, apakah sampean tidak berpikir atau bertanya-bertanya kepada diri sampean sendiri ketika sampean berangkat mengajar santri-santrimu dari kamarmu, apakah saya ini sudah memang pantas jadi ustadzah ngajar mereka, ini salah itu benar, ini pantas itu tidak, ini haram itu halal, dll? Atau, apakah saya ini sudah benar-benar membaca, menghafal, dan menghayati, dan mengajari Al-Quran, pantaskah saya sabagai hafidhoh? Atau, sudah betul-betul pantaskah saya menjadi seorang santri, anak kiai, neng, gus, yang diharapkan masyarakat?"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau tidak, maka sudah semestinya sampean, saya, kita, dan teman-teman santri semua hendaknya memikirkan kembali dan menata ulang semua diri kita: niat dan prilaku kita sebagai santri dan generasi Muslim.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;Lawang, 03/06/2010&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1502957518390587280?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1502957518390587280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/06/nengku-yang-makin-binal.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1502957518390587280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1502957518390587280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/06/nengku-yang-makin-binal.html' title='Nengku yang Makin Binal'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1253038311894955143</id><published>2010-06-03T18:56:00.001-07:00</published><updated>2010-07-15T00:06:07.103-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SYAIR-SYAIRKU'/><title type='text'>Salam di Hari Pesta Rakyatmu</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;    &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/TD6zCNVAnpI/AAAAAAAAAZw/M8VePlOGWec/s1600/04062010263.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://1.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/TD6zCNVAnpI/AAAAAAAAAZw/M8VePlOGWec/s200/04062010263.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;(Catatan puitis sisi lain buat pesta kemenangan Arema)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Arema klimaks bahagia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pesta menang Liga &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebagai anakmu saya juga bahagia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tapi, tua muda tumpah di jalan-jalan &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semuanya teler mabuk kemenangan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Laki-lakinya orang-orakan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Wanitanya tak kalah unjuk buka-bukaan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sama-sama sorak-sorakan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di pesta rakyatmu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“kita tahun ini menang, rayakan dengan puas”, katanya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sampai-sampai persis bahkan lebih banter&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Benda bulat kebanggaan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mengelinding ditendang-tendang&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Memar meronta&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tapi amat bangga, tak terasa&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Inikah kemenangan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lalu, mereka mau ke mana?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lalu, apa mau mereka?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yang bangga bahagia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yang ketawa sambil menimba air mata&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Maka, apakah masih manusia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di sebuah masa&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sendiri-sendiri&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Manakah aremanya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ditendang-tendang tak karuan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mungkin ini yang harus dipestakan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Lawang, 02/06/2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1253038311894955143?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1253038311894955143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/06/salam-di-hari-pesta-rakyatmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1253038311894955143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1253038311894955143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/06/salam-di-hari-pesta-rakyatmu.html' title='Salam di Hari Pesta Rakyatmu'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/TD6zCNVAnpI/AAAAAAAAAZw/M8VePlOGWec/s72-c/04062010263.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-8221855519669662929</id><published>2010-05-23T00:08:00.000-07:00</published><updated>2010-05-23T00:08:10.470-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Pelita Buram di Pesantren</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;(Sekedar celoteh santri banyol tentang kisah kasih di pesantren)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, ada seorang teman santri temannya teman saya. Teman saya itu menceritakan tentang sekelumit cerita uniq yang dialami temannya itu di pesantrennya. Dia, temannya teman saya itu, mondok di sebuah pesantren Tahfidzil Al-Quran yang asli salaf pindahan dari pesantren yang full modern. Seperti biasa, di pesantren modern pendidikan tentang kitab-kitab akhlak memang tidak sekontsentrasi di pesantren salaf&amp;nbsp; yang memang melulu pelajaran kitab-kitab yang lumrah disebut kitab kuning (kutubut turost). Apalagi yang memang mengkhususkan diri pada penghafalan dan pengkajian Al-Quran (takhasshush).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat pindahnya selain karena sudah lulus diwisuda sampai sarjana satu di pesantren modern itu, dia juga ingin menghafal dan mendalami Al-Quran serta kitab-kitab salaf. Dia sebut pendidikan salaf itu dengan “pendidikan hati”. Dulu, di pesantren modern dia memandang otaknya yang lebih digodok dengan pelajaran-pelajaran yang lebih berbau logika atau umum. Meski agama atau moral juga ada, tapi tak sebesar di pesantren salaf. Tapi, bukan berarti pesantren modern tak bermoral, hanya saja sistemnya yang berbeda. Sehingga, hatinya dirasa masih lapar dengan materi-materi yang berisi nilai-nilai budi pekerti atau moral sehingga butuh lebih konsentrasi (tahasshush), bahkan dia amat tertarik dengan tasawwuf. Singkatnya, dia ingin di pondok yang baru itu mendapatkan pencerahan hati (pendidikan hati) yang lebih benderang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bekal yang sudah dirasa cukup termasuk mental bulat untuk hidup dengan suasana, tradisi, sistem atau hawa yang pasti baru singgahlah dia di pondok baru yang dia yakini dapat lebih mencerahkan hatinya itu. Menggodok dirinya secara lebih khusus menjadi orang yang penuh bumbu-bumbu Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada minggu-minggu awal dia enjoi-enjoi saja, amat yakin dengan hawa pesantren yang baru itu. Apalagi dengan seorang kiai yang amat sangat penyantun dan penyabar yang pikirnya dengan kiai begitu pendidikan akan betul-betul dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, sehingga barokah ilmu akan betul-betul dapat diraup sepuas mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, minggu bertambah minggu dan bulan menuju bulan, keikhlasannya itu menjadi makin terganggu, bukan karena sistem pesantren apalagi karena kiainya, akan tetapi karena gaya dan ulah pergaulan santri-santrinya yang menurutnya uniq, belum pernah ia lihat sebelumnya. Tapi, bukan berarti juga ulah mereka&amp;nbsp; jahat-jahat atau bringas-bringas, hanya saja interaksi antara banin (santri putra) dan banatnya (santri putri) yang menurutnya kurang mencerminkan santri terlebih di pesantren Al-Quran, malah bertolak belakang dengan Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, suatu hari, dia melihat teman putrinya bebas longgang langgang di warung pojok dekat pesantren. Itu wajar pikirnya, karena pondok memang mengijinkan santri-santri untuk berbelanja, asal dalam radius dekat sekitar pesantren. Di hari yang lain, saat dia mau ngambil nasi dan air di dapur dia disuit-suitin oleh segerombolan santriwati dari jendela asramanya. Asrama santri putri memang nyaris satu bangunan dengan santri putra hanya dipisah dengan dapur ndlem (keluarga kiai) yang sekaligus jadi dapurnya pesantren. Sehingga, antara santri putra dan putri pada posisi tertentu bisa saling berpandangan dari jendela asrama masing-masing dengan jelas. Di samping itu juga, kamar mandi putri yang posisinya pas melewati dapur, sehingga santri putra dapat berpapasan langsung berdekatan dengan santri putri kalau pas santri putranya ke dapur dan santri putrinya mau mandi. Tidak jarang juga ketika di musalla lantai tiga dia digoda dengan dilemparin batu oleh santri putri dari dapur tempat jemuran mereka yang pas juga berhadapan dengan musalla putra. Ini tetap dia anggap wajar, sebab dia memang santri baru, bisa jadi santri putrinya penasaran dan ingin kenal atau sekedar iseng saja. Biasa barang baru mudah memantik penasaran orang, apalagi barang barunya agak kinclong, he.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari yang lain, saat dia ke dapur seperti biasanya dia kepergok lagi dengan beberapa santri layaknya saling berpasangan sedang ngobrol-ngobrol. Melihat fenomena itu dia masih mewajarinya, sebab bisa jadi memang ngobrol urusan penting atau dapur, meski saat itu suasana sangat amat sepi dari orang lain. Peristiwa dapur ini kerap dia temukan sehingga nyaris membuat hatinya makin curiga atau waswas. Tapi, dia tetap aja cuek nggak mau mikir yang macem-macem atau suudhon. Padahal, kalau melihat suasana dan kondisi dapur sangat sudah tidak wajar, sepi, apalagi ketika nyai dan bapak kiai keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sempat terlintas di pikirannya, mereka tampaknya seakan saling bermesra atau bercinta meski hanya sebatas obrolan, tapi lagi-lagi dia tak hirau. Sebab dia berpikir, maklum mereka manusia normal meski memang bercinta tidak mungkin sampai sefatal bercintanya anak-nak nonpesantren. Bercintanya anak santri paling banter ngobrol-ngobrol gitu doang atau surat-suratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif Kewaswasannya tersebut belum lagi ditambah dengan cerita-cerita miring kakak seniornya yang akrab dengannya yang sebetulnya memang menunjukkan pergaulan gelap di antara santri putra-putri itu bahkan seakan lebih parah, konon, ada yang sampai tembus janjian ketemuan di luar pesantren, meski demikian dia tetap saja tidak mau pikir tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ternyata kekebalannya untuk tidak curiga terhadap pergaulan tak beres tersebut menjadi tak mempan lagi ketika dia melihat dengan mata kepala sendiri gambar (foto) beberapa teman santrinya putra-putri saling berpasangan sedang berangkulan mesra di luar pesantren, konon, katanya memang ketemuan di luar pesantren dengan pura-pura ijin belanja atau pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, salah satu yang di gambar tersebut anaknya seorang kiai lumayang terkenal yang juga memiliki pesantren takhassus Al-Quran. Jelasnya dia seorang nyai muda, cantik plus manis lagi. Memang di pesantrennya (temannya teman saya itu) kebanyakan santrinya kader-kader khusus untuk menghafal Al-Quran, yang kalau bukan anaknya kiai ya anaknya pejabat tertentu, bahkan tidak jarang yang katanya ahlil bait, atau sarifah (anaknya habib/keturunan Arab). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fenomena terakhir ini keikhlasannya dan keyakinannya kepada kondisi pergaulan di pesantren (bukan kepada pesantren atau kiainya) itu betul-betul tergannggu seraya tetap yakin ke kiai dan pesantren. Dia pikir biarlah mereka berulah demikian yang penting dirinya betul-betul serius belajar dan menghafal Al-Quran.&amp;nbsp; Biasanya di manapun yang namanya ketidakberesan pasti ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita teman saya tentang temannya itu,&amp;nbsp; hati saya terasa tersentuh bara api. Apalagi saya juga santri Takhasshush Al-Quran. Kalau soal pacaran atau santri berdosa di pesantren pada umumnya itu wajar. Artinya, saya berpikir bahwa di manapun kejelekan atau dosa memang bisa terjadi, juga pada siapa saja. Bukan berarti kiai atau santri (insan pesantren) itu benar atau suci semuanya. Ini akan mengakui semua. Bahkan virus dosa atau kejelekan di pesantren bisa lebih ganas dari pada dunia nonpesantren. Sebab, pesantren adalah tempat suci untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan perjuangan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang lebih saya sayangkan, bahkan saya mangkelkan adalah karena terjadi di pesantren jenis Tahfidzil Al-Quran. Termasuk, kasus yang paling terakhir, yakni santri kader atau nyai itu. Sebab, mereka adalah santri khusus yang memiliki tanggung jawab masa depan yang lebih berat sebagai generasi abi-nya. Bukankah dia seharusnya dituntut untuk kembali membawa ilmu yang lebih untuk meneruskan pesantren atau organisasi yang diamanahi ke abinya itu? Tapi, kenapa kok sempat-sempatnya pacaran sampai fatal-fatal semacam janjian-janjian di luar itu segala? Padahal, seorang kiai pernah bilang, seorang wanita yang sudah berani keluaran tanpa muhrimnya, apalagi pacaran dengan sengaja sampai melanggar peraturan pesantren berarti dia wanita yang terlalu nekat, telah melampaui batas kesejatiannya sebagai wanita yang harus betul-betul menjaga kehormatannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya juga berpikir, apalagi anaknya kiai, nyai, astagfirullah, betapa beraninya bermaksiat terang-terangan dengan pacarannya dalam keadaan sebagai santri kabur dari pondokknya, difoto lagi. Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya abinya yang kiai itu tahu gambar mesra putrinya itu, apalagi santri-santri di rumahnya? Belum lagi ketika mati nanti malaikat tak butuh bukti ngambil di catatannya sendiri cukup dengan memamerkan fotonya yang diabadikan sendiri oleh orangnya itu. Naudzubillah. Makanya, yang lain kalau memang hobi maksiat tak usah pakai foto-fotoan deh, takut jadi bukti paling tampak di kubur atau di akherat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sambil menahan sial dengan keberadaan seorang santri nyai muda yang cantik, yang bangga berpacaran di foto itu, dari cerita teman saya itu, saya berseloroh untuk menghibur diri sambil menanggapi cerita teman saya itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung banget sih cowok itu dapat menggaet santri nyai itu, cantik lagi, manis lagi, anaknya kiai lagi, uh gimana enaknya ya kalau bermesra dengan dia apalagi di pelukannya, manteb men! Kataku ke teman saya itu sekalian me-ngeres-kan diri saking mangkelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah amat sangat untung banget men. Bukan hanya itu, justru konon nyainya yang naksir duluan.” Tanggap teman saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh-waduh, kok pas ketemu nyai agresif gitu ya, kan enak! Tapi, apa sih kelebihan cowok itu kok sampai digatelin nyai santri itu? Katanya nggak begitu tampan!” Urus saya jadi ngeres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah nggak tahu lah, yang namanya cinta kan memang gitu, buta. Tapi dia tajir men.” Tegas teman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya nggak gitu lah, eman-eman donk nyai secantik gitu kok sembarangan bercintanya, dasar terlalu gatel, pokoknya ada, mungkin. Kenapa kok nggak ketemu saya aja, sekalian dosa kan nggak rugi, kan lumayan ganteng, pinter nulis lagi, sarjana lagi.” Celoteh saya ancur-ancuran ngeresnya dan so’-so’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, kamu so’-soan, ganteng kalau miskin kan percuma! Emangnya mau nyosor ke tulisamu itu!?” Tanggap teman saya menjadi ngeres dan memangkelkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa!? Emangnya nggak lebih parah nyosor ke uangnya itu!” Balas saya tak maukalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, ya, ya! Teman saya mengalah. Mungkin dia lebih sadar dulu bahwa percakapan kami tak sehat, ngerumpiin orang, apalagi makin lama makin ngeres. Akhirnya, percakapan kami berakhir beiringan iqamah salat magrib. Teman saya langgung bergegas ke musalla berjemaah. Sedangkan saya masih ke tambak untuk berwudhu. Tampak ikan di pondok kami memang juga berfungsi sebagai tempat berwudhu dan mandi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, ini cerita teman saya itu tentang temannya di pesantrennya. Entah benar atau tidak. Siapapun jangan sampai yang berpikir macam-macam, apalagi berburuk sangka tentang pesantren hanya gara-gara catatan sederhana ini. Sebab, tulisan ini bukan untuk itu, apalagi untuk menfitnah pesantren, hanya saja saya maksudkan sebagai kaca benggala bahwa kita sebagai santri harus betu-betul serius, nyantri kita tidak main-main. Sekali nyatri selamanya jadi santri lahir batin. Tidak cuma namanya dan seragamnya. Kita nyantri bukan berarti jaminan hidup selalu benar, suci,dan masuk surga. Apalagi yang nyantrinya memiliki misi khusus, sebagai kader yang memiliki pesantren atau lembaga pendidikan yang akan meneruskan abinya kelak. Jangan sampai terjadi kata orang, “nyainya/gusnya (anaknya kiai) saja hobi pacaran apalagi santrinya atau rakyat awamnya. Naudzubillah. Jangan sampai terjadi. Selain mencoreng nama keluarga pada khususnya, lebih dari itu mencoreng dunia pesantren dan agama. Ini juga bagi santri yang bukan anaknya kiai atau pejabat. Santri semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, juga tersurat sebuah filosofi, bahwa semua manusia siapa dan di manapun sama-sama berpotensi untuk berbuat dosa. Yang lepas dari dosa hanya Rasulullah. Lebih-lebih yang sedang berjuang dalam agama (pesantren), sebab "semakin tinggi sebuah pohon makin besar pula terjangan anginnya", bukankah begitu kata pepatah kita. Saya kira siapapun akan mengakui hal ini. Selain itu, di sini juga tersimpan sebuah prinsip, yakni masalahnya adalah “bagaimana kita sebagai manusia-terlebih kiainya atau santrinya itu-memiliki keterampilan mengolah potensi dosa tersebut menjadi tidak berdosa dan berpahala”. Ini pada intinya yang juga harus selalu diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, menjadi harapan pribadi, semoga santri-santri yang rusak-rusak, yang hobi bermaksiat, pacaran, begitu juga perilaku lainnya yang tidak pantas untuk seorang santri lekas-lekas sadar dan bertobat. Begitu juga saya. Lebih khusus nyai cantik yang sudah kadung dibilang gatel tadi, meski saya tidak bertemu langsung, hanya cerita dari teman saya itu dan melihat di fotonya, saya ucapkan mohon maaf. Itu bukan karena saya benci sekaligus merasa suci, tidak. Saya hanya eman-eman sampean: sebagai anaknya kiai, yang cantik, yang manis, yang darahnya biru (mungkin, katanya orang), kenapa kok harus berperilaku murah!? Bukankah sampean permata yang tersimpan mahal yang sejatinya orang butuh perjuangan mengjangkaunya?! Sampean adalah figur yang dicontoh. Inilah niat saya khusus pada sampean dan juga yang sedang sejenis, dan santri semuanya, mungkin ada. Mohon maaf dan terima kasih. Saya suka sampean semua terlebih saya harus bisa berubah, umat kita sedang menunggu kita sampai termangu bahan sesekali lesu. Sampai kapan kita lekas kembali kepada mereka membawa embun pagi, yang jernih, yang sunyi, yang suci, mendamaikan hati. Allahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lawang, 21/05/2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-8221855519669662929?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/8221855519669662929/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/pelita-buram-di-pesantren.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8221855519669662929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8221855519669662929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/pelita-buram-di-pesantren.html' title='Pelita Buram di Pesantren'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-4661452763690203799</id><published>2010-05-23T00:06:00.000-07:00</published><updated>2010-05-23T00:09:26.172-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Mati Sahid dan Senyuman Gadis Cantik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya punya janji pribadi, tiap libur nyetor hafalan Al-Quran, malam jum’at, saya harus konsisten nulis. Nulis apa? Apa saja yang penting nulis dan bukan nulis porno. Ini sekaligus saya ingin membuktikan pesan kiai bahwa masa depan seorang santri diukur dari kebiasaannya saat di pesantren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren adalah menjadi cetakan yang acap tak terduga nasib masa depan seorang santri. Kalau di pesantrennya hobinya pidato, ya paling tidak di masyarakat kelak jadi tukang khutbah jum'at, meski seminggu sekali; kalau di pesantrennya suka berorganisasi, ya paling apesnya kelak jadi perangkat desa atau tokoh masyarakat di kampungnya. Begitu juga, kalau di pondok suka main domino, ya di luar bisa jadi bandarnya togel; kalau di pondoknya hobi pacaran atau menggoda lawan jenisnya, ya kelak di masyarakat jadi tukang selingkuh; kalau di pondoknya suka ngrumpiin temannya, ya di masyarakat pasti jago fitnah; kalau di pondoknya suka mencuri, ya pasti di luar kelak jadi maling besar, dll. Inilah filosofi orang-orang tua kita mengatakan, “kalau di pondok nyuri jarum maka kelak di masyarakat nyuri jaran (kuda)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari itu saya berpikir, mungkin saja kalau saya sekarang di pondok suka dan hobi nulis kelak saya jadi penulis terkenal yang tulisannya di baca orang di mana-mana. Sebab, saya ngebet jadi penulis. Kenapa saya ngebet ingin jadi penulis? Kata imam Ghozali (Ihya Ulumuddin) dalam mengutip Hadist Nabi saw (saya lupa Hadistnya) bahwa qalam (pulpen/tinta) ilmuwan itu sama dengan pedangnya para shuhada’ yang mati sahid berperang memperjuangkan dan menegakkan Islam. Menurut saya, kan lebih enak menjadi sahid dengan menulis. Sebab, dengan menulis maka nilai dakwah kita lebih luas dan lebih abadi. Lebih luas karena yang baca bukan hanya satu orang dan di mana-mana. Lebih abadi karena meski kita mati tulisan kita tetap ada dan dibaca orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, bukankah sahid ini lebih mendamaikan atau tidak mengerikan? Apalagi sahid perang di zaman sekarang semisal bom bunuh diri, ini kesahidannya masih dipertanyakan, bahkan dikecam teroris. Betapa tidak, konon, kalau kemantenan bom bunuh diri yang dilakukan itu ingin mambunuh orang kafir, tapi sudah pastikah orang kafirnya? Dan, kalau memang betul-betul kafir,&amp;nbsp; menghardik Islamkah dia? Belum lagi kalau ada orang Muslimnya yang ikut-ikutan tewas juga. Jadi, sahidnya masih diragukan. Inilah alasan saya, kenapa saya ingin jadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus jum’at ini tak ada inspirasi signifikan yang akan saya tulis. Akhirnya, dari pada kosong, takut nulis libur juga, saya ingat senyum dan ucapan terima kasih seorang santri gadis cantik, apalagi, konon, dia bintangnya di pesantren saya ini. Ini yang menjadi inspirasi saya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, namanya laki-laki normal, siapapun hatinya akan tergugah dan bahagia setinggi langit kalau disenyumi gadis cantik seperti itu. Kecuali, orang gila yang disenyumin kambing pun di jalanan dia bahagia. Karena saya juga normal maka saya juga bahagia, bahkan sampai menjadi inspirasi khusus saya saat ini. Bahkan lagi, senyumannya selalu berkelebat memenuhi seluruh bilik-bilik hati dan otak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya berlebihan? Atau, ada rasa kagum atau bahkan jatuh cintrong? Entahlah, saya hanya ingin mengungkap eksistensi saya bahwa saya adalah termasuk orang yang normal, sehinga merasa bahagia plus tersanjung kalau disenyumin wanita cantik. Bukan ingin mengungkap bahwa saya cinta dia atau siapa. Bahkan mungkin, apakah saya “bajingan wanita” (meminjam istilah teman saya untuk lelaki yang suka mempermainkan wanita)? Atau, mungkin juga play boy,&amp;nbsp; mata kerangjang, dan sebutan lainnya. Apalagi ini, lebih pasti tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah cinta belakangan. Itu masalah hidayah. Bukankah cinta katanya anugrah? Hidayah adalah bagian dari anugrah Tuhan itu. Itulah cinta yang sejati. Katanya orang-orang bijak. Bukan cinta karena sahwat, yang setiap ketemu wanita cantik ingin dipacari dan dikencani. Ini cinta yang salah. Kalau perasaan saya memang cinta semoga cinta saya itu bukan cinta yang nafsu sahwat ini. Oleh karena itu, soal cinta belakangan, itu teka teki, nunggu anugrah-Nya. Sekali lagi, semua ini hanya sebagai ungkapan bahwa saya laki-laki normal bahagia kalau disenyumin wanita cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kalau bahagianya sampai demikian tingginya, saya juga tidak bisa membayangkan, bagaimana seandainya gadis cantik itu sampai mengungkap rasa “jatuhnya” ke saya. Yang jelas bukan jatuh ke jurang lho! Pasti pembaca paham sendiri kok! Hus, kok malah ngalor ngidul gini nulisnya! Udah lanjut yang lain aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya juga bertanya-tanya, kalau saya merasa melayang setinggi angkasa disenyumin wanita cantik, bagaimana kalau saya disenyumin wanita jelek? Wah, ini jawabannya lumayan rumit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gini saja, bukankah kata orang, cantik itu relatif? Selain itu, bukankah banyak motif cantik? Lihat saja, banyak pasangan suami istri yang fisiknya sama-sama jelek menurut kita, tapi mereka saling jatuh cinta dan bahagia. Begitu juga tidak sedikit yang menurut kita suaminya ganteng dan istrinya jelek-atau sebaliknya-tapi suaminya itu sangat amat mencintai istrinya, dan bahagia, punya anak banyak kok! Inilah titik terangnya. Bahwa cinta adalah relatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif cantik juga relatif. Ada orang yang memang cinta karena cantik paras wajahnya, berarti cantik bentuk wajahnya; ada yang cinta karena gaya bicaranya, berarti cantiknya ada pada gaya bicaranya; ada yang cinta karena seksinya, berarti cantiknya ada pada tubuh seksinya; ada yang cinta karena bokong semoknya, berarti cantiknya ada pada bentuk bokongnya; dan, saya pernah dicurhatin teman, bahwa dia sedang ngebet kepada seorang gadis yang, amit-amit, “anunya” gedhe atau bongsor, berarti cantiknya ada pada “gunung kembarnya”. Dll. Sori ngeres dikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kiranya, kalau dipikir lebih mendalam lagi, bahwa cantik dan cinta itu memang relatif dan merupakan bentuk dari anugrah Tuhan. Dan, inilah letak keadilan Tuhan, betapa Dia memberi kelebihan (keindahan/kecantikan) kepada tiap manusia berbeda dan beraneka ragam serta sesuai dengan potensi atau keadaan kediriannya (eksistensinya), dengan demikian tanpa mengurangi harga diri masing-masing. Sebab, dengan kelebihan itulah dia dapat mempertahankan hidupnya dan bahagia. Misalnya, para kiai hidup dengan wasiat-wasiatnya; para penyanyi hidup dengan lirik-lirik lagunya; para penyair hidup bahagia dengan bait-bait syairnya; para hafidzul Al-Quran hidup bahagia dengan tartil Al-Qurannya; burung-burung dengan kicauannya; lautan dengan gelombangnya; begitu juga Inul Daratista hidup senang dengan goyangan ngebornya, serta Julia Peres hidup bangga dengan tampilan “bukak-bukaannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pada itu, anak muda mengatakan “ cinta itu relatif” dan “Bukan cantik yang membawa cinta tapi cinta yang membawa cantik”. Bukankah benar begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada persoalan pribadi tadi. Bagaimana saya: antara bahagia senyuman gadis cantik dan gadis jelek? Jawabannya, terserah dari pada kerelatifan plus kearifan cantik dan jeleknya perasaan saya serta anugrah cinta saya terhadap seseorang. Bisa saja suatu saat saya juga bahagia atau terasa melayang setinggi angkasa lantaran disenyumin seorang gadis yang secara fisik anggaplah paling buruk, tapi pada satu sisi dia dapat membuat saya terkagum-kagum. Dari pada gadis yang secara fisik sudah paling cantik, tapi dia hobi gonta-ganti pasangan atau pacar. Ini bisa saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, apa hubungannya sahid, cinta, dan gadis cantik pada judul di atas? Yang jelas terus terang, secara pribadi saya tergila-gila (cinta) kepada Al-Quran dan bercita-cita menulis Al-Quran. Ya, tentunya karena juga Al-Quran yang paling cantik dan indah bagi saya. Menulis Al-Quran bukan berarti mau buat Al-Quran tandingan Tuhan seperti orang-orang orientalis. Atau, sok menafsirkan Al-Quran menyaingi para mufassir, seperti yang lagi ngetren juga sekarang banyak ilmuwan seumur jagung sudah sok jadi mufassir. Tapi, saya menulis untuk berbagi oleh-oleh saya dari Al-Quran dengan manusia yang lain. Gitu aja kok repot. He…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mati sahid? Sudah jelas, ingin mati sahid dengan menulis saja. Cinta, cantik dan sahid yang ini tidak relatif, tapi sebuah kepastian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi di hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus bagi gadis cantik, semoga tidak bosan-bosan untuk menebar senyumnya pada saya. Senyum kan sodaqah? Siapa tahu saat saya ngantuk ketika ngafal atau nderes Al-Quran gara-gara ingat senyum sampean itu lantas saya menjadi semangat kembali, tapi jangan suka senyum sendiri lho, nanti orang-orang pada malah lari semua. Dan, sekali saja mandangnya biar menjadi rizqi bukan maksiat lain muhrim. Oya, senyumnya juga yang biasa saja jangan dipolesi makna&amp;nbsp; yang lebih dalam lagi, takut saya nggak bisa konsentrasi ngafal Al-Quran. Paling akhir, trima kasih dan mohon maaf semuanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Lawang, 20/05/2010 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-4661452763690203799?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/4661452763690203799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/mati-sahid-dan-senyuman-gadis-cantik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4661452763690203799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4661452763690203799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/mati-sahid-dan-senyuman-gadis-cantik.html' title='Mati Sahid dan Senyuman Gadis Cantik'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-8216867554133995296</id><published>2010-05-12T21:22:00.001-07:00</published><updated>2010-05-23T00:10:48.858-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Tombo Ati: Ngenet dan Ngemal</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="State" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;Yang namanya “santri banyol” memang ada-ada saja. Secara pribadi saya tidak tahu jelas apa definisi pasti dari “santri banyol” itu. Yang jelas saya pahami, dia adalah santri yang kerap membuat orang lain bisa tertawa dengan keberadaannya. Jangankan memang sengaja melucukan diri, dari bentuk dan &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; keberadaannya saja sudah bisa membuat orang tertawa. Dan, entah apa sebutan resminya untuk santri seperti itu, saya juga tidak tahu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Biasanya, setiap pesantren punya istilah sendiri untuk menjulukinya dan berbeda-beda sesuai dengan warna tradisi dan dialektika bahasa setempat. Di pesantren saya yang dulu, di Madura, teman-teman menyebutnya “santri deller”, sesuai dengan dialektika bahasa Madura. Santri banyol saya mengenalnya di pesantren saya yang baru ini, di Malang, sehingga tentunya juga sesuai dengan dialektika bahasa &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mayoritas santrinya Jawa. Mungkin secara umum ini tidak jauh dari sebutan “orang atau santri khilaf”. Pokoknya, santri jenis ini &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan prilakunya cenderung lain dari pada yang lain, sehingga keberadaannya acap membuat orang lain merasa lucu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada sebuah pengajian kitab kuning. &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; santri yang memang dipandang banyol oleh teman-teman tiba-tiba bertanya seraya seakan terkesan dengan mimik mengeluh dan mengadukan sebuah permasalahan pribadinya kepada Bapak Kiai, meski saat itu belum dibuka sesi pertanyaan. Begitunya saja sudah membuat lainnnya pada mesem-mesem saat itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Aba&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, saya sedang pusing &lt;i&gt;ga’ &lt;/i&gt;bisa nyetor hafalan Al-Quran. Apa obatnya?” Tanyanya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebutan aba adalah panggilan untuk kiai di pesantren ini. Sengaja Bapak Kiai menyuruh para santrinya memanggil Beliau dengan panggilan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Aba&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; agar terkesan tidak ada jarak antara santri dan kiai, sehingga santri dan kiainya sangat dekat, layaknya anaknya sendiri. Pada akhirnya, santri dapat berani mengadukan permasalahannya apa saja ke kiainya dengan tidak takut dan tidak canggung-canggung. Ini sangat cocok bagi saya khususnya. Bukankah memang sejatinya kiai itu begitu, sebagai &lt;i&gt;problem solver &lt;/i&gt;(tempat mengadu mencari solusi persoalan hidup) selain central figur tauladan bagi santri dan para masyarakatnya? Sedangkan nyainya dipanggil umi atau ibu layaknya umi atau ibunya sendiri. Ini jarang terjadi di pesantren yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ente tahu kosidahan “tombo ati” yang jumlahnya &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu?” Tanggap Aba&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Oya, saya tahu Ba, itu memang ada &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.” Jawab santri banyol dengan polosnya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Coba sebutkan,”! Lanjut Aba.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tombo ati iku limo warnane: moco Qur’an lan maknane, sholat wengi lakonono, wong kang sholeh kumpulono, kudu weteng ingkang luwe, dan dzikir wengi ingkang suwe.” Tegas santri banyol, mencoba dengan lirik Jawa aslinya meski agak terbata-bata. Tapi, dia memang agak hafal. Lagi-lagi dengan &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; jawabnya yang polos membuat lainnya tertawa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya itu obatnya. &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;i&gt;Kan&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; udah jelas. Tinggal &lt;i&gt;ngelakoni &lt;/i&gt;saja sampean.” Jelas Aba.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Oh, bukan itu Ba, itu salah! Itu &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; tombo ati, obatnya ati. Kalau saya ini kepala sedang pusing. Biasanya saya mengobatinya dengan main game, ngenet (internetan/chatingan/facebookan), atau pergi ke mal (ngemal), refresing.” Tegas santri banyol dengan nada yang polos dan meyakinkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mendengar jawaban santri banyol tersebut spontan sang &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Aba&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan para santri yang lainnya tertawa terbahak-bahak. Suasana pengajian seakan berubah menjadi lakon lucu-lucuan. Sedangkan santri banyol cuma menggaruk-garuk kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di samping itu, lebih seru lagi, ada beberapa santri yang tertawanya tidak pas, sebab seraya terancam oleh kepolosan santri banyol tersebut. Dia berpikir, saking polosnya santri banyol dia takut ketika ditanya tentang siapa yang mengajak atau menemaninya ke mol dan internet jangan-jangan dia juga akan &lt;i&gt;nyerocos&lt;/i&gt; menyebutkan nama-nama yang ngajak itu. Tapi, syukur itu tidak jadi ditanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebab, kalau saja ditanya lalu santri itu &lt;i&gt;nyerocos&lt;/i&gt; menyebut santri yang terlibat juga, maka santri-santri yang juga menemaninya itu akan &lt;i&gt;kedamprat&lt;/i&gt; hukuman oleh &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Aba&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sebab, ngenet adalah menjadi salah satu larangan terkeras &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Aba&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; selain bawa HP ke pesantren. Meski tetap saja dilanggar oleh santri-santri yang tidak ketahuan. Itu sudah banyak santri yang mengalaminya. Terbukti beberapa minggu sebelumnya ada yang direndam semalaman di kolam ikan, gara-gara kabur dari pondok untuk ngenet.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Aba&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; menjelaskan duduk persoalannya secara serius. Sebab, ini menjadi pelajaran yang signifikan terkait dengan ibadah dan moral. Beliau menegaskan bahwa segala apa yang ada pada diri kita ini disetir oleh satu onderdel dari tubuh kita, yaitu hati. Hati inilah yang menjadi pusat dari segala-onderdel-onderdel tubuh lainnya, termasuk kepala atau otak. Kalau dia rusak maka rusak semua. Kalau dia baik maka baiklah semua unsur tubuh. Ini jelas dipertegas dalam Hadist Nabi saw.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nah, salah satu yang membuat hati baik&amp;nbsp; adalah “tombo ati” di atas. Ini adalah obat hati warisan ulama-ulama dahulu (&lt;i&gt;salafus saleh&lt;/i&gt;). Kalau diamalkan akan betul-betul menjadi obat mujarab bagi segala penyakit hati. Sedangkan internet atau mol itu obat warisan dari syetan yang pada akhirnya bukan malah menyembuhkan tapi bisa membuat penyakit-penyakit baru yang bukan hanya menggerogoti diri sendiri, dia bisa menjalar kepada diri yang lain. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aktifitas internet dan mal lebih dekat dengan maksiat. Di internet, sekarang tinggal &lt;i&gt;ngeklik&lt;/i&gt; sudah terpampang apa yang kita mau dari nafsu. Begitu juga di mal-mal, banyak wanita-wanita yang mengumbar paras ayunya, mempertontonkan tubuh &lt;i&gt;aduhainya&lt;/i&gt;. Kasarnya, kita dengan mudah menikmati maksiat atau dosa bahkan seakan sengaja disodori; paha-paha bergengsi dan bodi-bodi semok kita tinggal menikmatinya saja. Busana ketat dan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; buka-bukaan sekarang makin ngetren dan menjadi kebanggaan generasi muda mudi juga tak ketinggalan &lt;i&gt;tua-tua keladi-&lt;/i&gt;nya baik yang sekuler maupun yang santri atau Islami. Meski mereka tidak meniatkan seperti itu. Padahal, itu sejatinya menjadikan harga diri mereka menjadi murah meriah. Tak punya harga diri, apalagi kelak di kehadirat Allah swt. &lt;i&gt;Naudzubillah.&lt;/i&gt; Bapak kiai memaparkan fenomena &lt;i&gt;ngeres &lt;/i&gt;ini seakan dari mimik wajahnya diselimuti penyesalan, kenapa generasi sekarang serba terbalik dan jauh dari kehidupan yang benar seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sementara semua santri baik yang banyol maupun yang biasa mendengar nasehat &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Aba&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; demikian, mereka pada menundukkan wajah apalagi mereka yang di balik hijab, keturunan Hawa. &lt;i&gt;Astagfirullah&lt;/i&gt;. Fenomena santri banyol telah membawa banyak hikmah. Tapi, jangan &lt;i&gt;sok&lt;/i&gt; banyol.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Lawang, 12/05/2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-8216867554133995296?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/8216867554133995296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/tombo-ati-ngenet-dan-ngemol.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8216867554133995296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8216867554133995296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/tombo-ati-ngenet-dan-ngemol.html' title='Tombo Ati: Ngenet dan Ngemal'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-8726432828891179656</id><published>2010-05-11T22:01:00.000-07:00</published><updated>2010-05-12T22:02:12.650-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY DIARY'/><title type='text'>Sekedar Ungkapan Hati Kecil</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5COwner%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="State" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;    &lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(Catatan hati kecilku buat adik siapa saja dan di mana saja)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dik, maafkan saya kalau &lt;i&gt;ngirim&lt;/i&gt; karyaku terus menerus kepada adik. Bukan sok pinter, atau sok berkarya, apalagi sok bercinta or cari perhatian dari adik, apalagi adik, konon, jadi artisnya pondok sini, tidak seperti itu &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; niat saya. Itu semua untuk selingan saya saja di pondok ini. Sebab, kalau melulu dalam satu aktifitas aku jadi &lt;i&gt;boret&lt;/i&gt;. Jadi, sekedar hiburan saja. Dari pada hiburan keluar pondok, main Hp, ngerokok, kerasan di warung pojok &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, &lt;i&gt;ngegem, ngenet&lt;/i&gt; or ngorok tidur! &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; lebih baik itu. Betul &lt;i&gt;ga’&lt;/i&gt;? he….. apakah ini sebuah pelanggaran di pondok ini? Tentu saya yakin tidak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lebih-lebih saya ingin melestarikan jalan menuju karir masa depan saya. Sebab, saya &lt;i&gt;ngebet&lt;/i&gt; ingin jadi penulis. Saya &lt;i&gt;pingin&lt;/i&gt; banget nyebarin ilmu Al-Quran dari tulisan. Betapa bangganya saya kelak ketika tulisan-tulisan saya mewarnai media masa di negri ini bahkan di dunia. Betapa bangganya saya kelak kalau saya dapat menelorkan karya-karya buku yang di baca banyak orang di mana saja, termasuk para santri di berbagai pesantren. Itu mimpi saya dik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jadi, meski sekarang, saya harus tetap mambiasakan menulis seperti di pondok saya yang dulu, Al-Amien Prenduan Madura tercinta. Tapi, Al-Quran tetap juga nomor &lt;i&gt;stunggal, &lt;/i&gt;tak boleh kalah dengan yang lain. Kalau bisa enam bulan harus sudah hafal &lt;i&gt;plus&lt;/i&gt; lancar, he…so’-so’an&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;So, bantu doanya ya…… &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lebih khusus, suatu hari adik akan membaca sebuah karya tulis di media &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Jawa pos Misalnya, dengan nama Prof. Ali Sabilullah, Phd. Sedang adik membacanya sambil duduk santai minum kopi di rumah dengan suami tercinta, apalagi yang nulis ini jadi suaminya sendiri, he…..kwak…..kwk…kwk….Cuma canda kok. Lagian &lt;i&gt;ga&lt;/i&gt;’ mungkin saya jadi suaminya adik, saya orang amat miskin &lt;i&gt;ga’&lt;/i&gt; punya apa-apa n &lt;i&gt;ga’&lt;/i&gt; bisa apa-apa lagi. Jadinya, seperti “pungguk merindukan rembulan” nanti, he… Lho &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; jadi &lt;i&gt;ngomongin&lt;/i&gt; cinta &lt;i&gt;nih&lt;/i&gt;! Dasar, penulis &lt;i&gt;ngreres&lt;/i&gt;..he….nanti cowok adik cemburu nih. Makanya jangan bilang-bilang &lt;i&gt;keceplosan&lt;/i&gt; saya ini lho.. he..he..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oke deh, &lt;i&gt;met&lt;/i&gt; bercinta dan bermesra ria dengan Al-Quran saja, jangan dengan yang lain. Kalau hati sedang dirundung asmara kepada seseorang ya ungkapkan saja kepada Al-Quran or ungkapkan saja dengan tulisan seperti saya ini, he…. &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; lebih aman dan beriman, he….. Yups………. &lt;i&gt;Wallahu’alamu bis showab.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Lawang, 13/05/2010&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-8726432828891179656?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/8726432828891179656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/sekedar-ungkapan-hati-kecil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8726432828891179656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8726432828891179656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/sekedar-ungkapan-hati-kecil.html' title='Sekedar Ungkapan Hati Kecil'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-8119759691532608348</id><published>2010-05-10T19:08:00.000-07:00</published><updated>2010-06-03T19:19:39.600-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Kiainya Suka Tirakat, Santrinya Hobi Tidur Sekarat</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Croot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Croot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Croot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Croot%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-alt:"Lucida Sans Unicode";	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:auto;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Verdana;	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1593833729 1073750107 16 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:11.0pt;	font-family:"Verdana","sans-serif";	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	font-size:10.0pt;	mso-ansi-font-size:10.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	mso-ascii-font-family:Verdana;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-hansi-font-family:Verdana;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 14pt;"&gt;&lt;a href="http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/kiainya-suka-tirakat-santrinya-hobi.html"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;(Catatan Kecil Bagi Para Pejuang Al-Quran)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; Yang namanya santri &lt;i&gt;"ngebet"&lt;/i&gt; ingin cepat hafal Al-Quran berbagai cara dicari-cari. Tapi, bukan berarti "berbagai cara dihalalkan"sebagaimana ambisius dalam urusan lainnya. Sebab, ini terkait dengan Al-Quran yang katanya juga erat dengan hidayah yang tidak bisa dicerna dengan akal logika biasa. Sehingga, dari niatnya saja sudah harus &lt;i&gt;ce'&lt;/i&gt; sterilnya. Yang tidak steril pasti tidak akan berhasil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Termasuk mencari cara itu adalah saling tukar pendapat dan pengalaman antara santri yang satu dengan yang lainnya. Caranya, santri yang masih mau atau sedang menghafal (tahap setoran) Al-Quran bertanya kepada santri yang sudah hafal (paling tidak tinggal &lt;i&gt;"deres"&lt;/i&gt;/melancarkan). Kiai saya menyebut santri yang masih dalam proses &lt;i&gt;ngafal&lt;/i&gt; tersebut dengan sebutan "mutahaafidh". Berasal dari kata "tahaafadha" yang artinya saling menghafalkan, yakni masih dalam proses menyetor hafalan kepada sang kiai atau pembimbing. Di sini, sang guru itu mengingatkan (baca: menghafalkan) atau membenarkan hafalan yang lupa atau yang salah pada diri sang santri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sedangkan yang sudah hafal atau selesai nyetor hafalannya sempurna 30 juz, atau biasa dibilang selesai diwisuda atau istilah lainnya itu, Beliau menyebutnya "haafidz". Maksudnya, santri yang sudah selesai menyetor hafalannya sebanyak 30 juz, sehingga tinggal &lt;i&gt;"deres"&lt;/i&gt; atau melancarkan saja. Meski kerap sangkaan guru atau kiai menyebut santrinya yang sudah diwisuda berarti dia hafidz itu salah kaprah, sebab bisa jadi dia hanya selesai nyetor tapi hanya setoran hafalan saja. Yang dihafal dulu-dulunya persis hilang semua. Dia tidak bisa mengulang hafalannya dengan&amp;nbsp; lancar. Akhirnya, namanya saja wisudawan Al-Quran. Tapi, otak dan hatinya kosong dari Al-Quran, apalagi prilakunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Namun, sang kiai tidak bisa disalahkan. Sebab, sang kiai haya bisa melihat secara dhohir saja pada diri sang santri: bagaimana sang santri menyetor hafalannya. Sang kiai tidak mungkin mengecek secara pasti, apakah betul-betul hafal lancar 30 juz atau tidak. Atau, hanya ketika nyetor saja hafalnya. Kiai juga penuh keterbatasan, apalagi santrinya sampai ratusan. Jadi, lebih tergantung kepada santrinya: serius menghafal atau tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sudah pasti yang tidak serius hanya menghafal saat nyetor saja. Kecuali, sang kiai mampu menetapkan sistem kroscek yang ketat, dengan cara tes hafalan akhir semacam Ujian Akhir Nasional (UAN), sehingga santri yang diwisuda betul-betul yang hafal lancar sempurna 30 juz saja. Namun, yang tidak lulus semoga tidak se-stress para siswa-siswi yang tidak lulus UAN; ada yang sampai gantung diri. Atau, yang lulus juga semoga tidak lupa daratan, meluapkan kelulusannya dengan pesta miras, kumpul kebo, dan yang negatif-negatif lainnya. Hanya metodenya saja seperti UAN tapi konsekwensi atau resiko akibatnya tidak separah demikian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Lebih dari itu, kalau bisa diusahakan juga ada tes mental Al-Quran: betul-betul dihayatikah hafalan Al-Qurannya. Jangan-jangan hanya hafal tapi tidak dihayati atau diamalkan, ya percuma juga. Ini yang paling penting. Sebab, tidak sedikit santri yang menghafal Al-Quran malah tingkahnya kurang ajar. Lebih kurang ajar lagi, kalau kerjanya cuma sibuk pacaran, nulis surat cinta, sibuk main HP atau hobi PS (play station/game).Yang tidak percaya bisa diadakan penelitian mendalam secara langsung saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kembali kepada cara atau metode cepat menghafal Al-Quran tadi, diantaranya yang lumrah adalah dikenal dengan istilah "tirakat". Dalam agama terdiri dari unsur: berusaha keras dan serius, pateng beribadah, serta paling penting menjauhi maksiat atau dosa yang mengotori hati Pelaksanaannya biasanya, paling tidak, konsisten salat malam dan puasa di siang hari. Hampir dipastikan siapapun akan mengakui unsur-unsur ini sebagai langkah pertama dalam metode menghafal Al-Quran terjitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Pada suatu kesempatan, saya bertanya kepada teman-teman yang saya akui sudah cukup berpengalaman dalam menghafal Al-Quran &lt;i&gt;plus&lt;/i&gt; betul-betul hafidz. Dia menjelaskan kepada saya, kata gurunya di pesantrennya yang sebelumnya, gurunya pernah berwasiat kepada santrinya termasuk dia saat santri-santrinya itu sedang pada berlomba-lomba menjalani ritual tirakat puasa agar cepat menghafal Al-Quran. Melihat ulah para santri demikian sang kiai menasehati, agar mereka &lt;i&gt;tak usah&lt;/i&gt; macam-macam tirakat puasa segala. Yang penting tiap hari serius menghafal, menghafal, menghafal, dan nyetor, baru bisa cepat selesai dan lancar. Karena kiainyalah yang telah menanggung tirakat (menirakatkan) para santrinya agar cepat hafal dan lancar Al-Quran. Katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Mendengar demikian, seakan mematahkan semangat saya yang yakin tentang bangun malam dan puasa Sunnah Senin Kamis, meski ini mungkin tirakat kecil-kecilan dan sudah biasa, mungkin. Tapi, menurut saya nasehat tersebut sebetulnya, secara &lt;i&gt;akal mentah pun&lt;/i&gt; kurang pas. Saya berpikir, kalau santrinya tidak berlatih sambil tirakat, dalam artian tidak mengurangi makan meski tidak puasa, ogah bangun malam, dan tidak menjauhi maksiat. Atau, lain kata santrinya itu suka makan, tidurnya ngorok melulu, &lt;i&gt;doyan&lt;/i&gt; game/internetan, apalagi hobi maksiat atau pacaran, maka sudah pasti sehebat apapun tirakat kiainya itu tidak akan pernah mengantarkan para santrinya sukses dalam menghafal Al-Quran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Runutannya begini: saya gambarkan santri demikian dengan cangkir yang terbalik (mulut lubangnya di bawah) sedangkan kiainya sebagai ceretnya yang menuangkan air ke cangkir itu. Sudah dapat dipastikan bagaimanapun ceret itu menuangkan airnya ke cangkir yang terbalik atau tertutup cangkir itu tidak akan pernah terisi sampai kapanpun dan bagaimanapun. Airnya akan meluber ke mana-mana di luar cangkir itu. Saya kira kita semua akan sangat memahami gambaran ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Lalu, apakah kiai yang menasehati tersebut yang bodoh atau salah? Bagi saya, sejatinya, nasehat kiai itu adalah sindiran atau cobaan tingkat pertama bagi mereka para santrinya, yaitu masih pada tingkat "maunya" atau "niatnya": betul-betul seriuskah atau pahamkah mereka terhadap apa yang mereka amalkan (tirakatkan)? Jangan-jangan mereka melakukannya tanpa dasar ilmu atau pemahaman yang jelas, atau hanya sekedar ikut-ikutan &lt;i&gt;doank&lt;/i&gt;. Sehingga, contohnya saja, banyak yang bangun malam atau tidak tidur malam dipahami dengan begadang atau bahkan &lt;i&gt;fritokan&lt;/i&gt;. Atau, banyak puasa tapi tidur terus karena kelaparan. Maka, sama saja dengan yang tidak bertirakat, bahkan bisa jadi lebih celaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Inilah filosofi nasehatnya: ujian niat menirakatkan (keseriusan) hafalan Al-Quran. Inilah letak dari pada bahwa seorang pendidik atau kiai yang benar tidak hanya memberi ujian berupa materi pelajaran fisik &lt;i&gt;an sich&lt;/i&gt;, akan tetapi lebih dari itu adalah ujian mental atau moral praktis. Ini baru pada tingkat pertama, niatnya saja. Belum lagi pada pelaksanaannya. Sungguh, pasti akan amat lebih berat. Tapi, itu berlaku bagi santri yang menghafalnya serius saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sebab, sebuah kesuksesan, keselamatan, atau kebahagiaan, bahkan apapun bukan hanya pada Al-Quran, yang akan diraih tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan dalam meraihnya. Pasti ada aral melintang yang harus tidak boleh tidak dihadapi. Ini bukan halnya proses enak-enak, makan-makan, begadangan, main hp, main PS, chatingan/internetan, apalagi pacaran, tapi sebuah perjuangan, perjuang, dan perjuangan yang membutuhkan keseriusan bahkan tangisan. Yups, akhirnya semuga semuanya kuat uji dan sukses semua. Terutama yang sedang mengapresiasikan cinta matinya kepada Al-Quran. Selamat bertirakat serius. &lt;i&gt;Wallahu’alamu bish showab.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Lawang, 07/05/2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-8119759691532608348?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/8119759691532608348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/kiainya-suka-tirakat-santrinya-hobi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8119759691532608348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8119759691532608348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/05/kiainya-suka-tirakat-santrinya-hobi.html' title='Kiainya Suka Tirakat, Santrinya Hobi Tidur Sekarat'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-4209625382481427664</id><published>2010-04-29T03:37:00.000-07:00</published><updated>2010-05-10T20:41:10.504-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Gadis Itu Namanya Salehah</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(Hanya catatan sederhana tentang sebuah nama)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan catatan &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; cinta. Hanya catatan biasa. Dia, yang namanya salehah hanya sebagai inspirasi saja. Tapi, semoga catatan ini menyimpan hikmah yang banyak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Salehah bisa dua kemungkinan pemahamannya: bisa dipakai untuk namanya orang. Bisa juga digunakan untuk kata sifat bagi wanita, siapa saja. Misalnya, putri bapak Anu itu setelah mondok menjadi salehah sehingga semua orang suka padanya. Ini Artinya, sifat atau prilakunya yang salehah, yakni baik. Lain lagi dengan, anaknya bapak Anu namanya salehah. Ini berarti salehah menjadi namanya orang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebagai nama, salehah bisa dipakai oleh siapa saja. Yang jelas wanita. Kalau laki-laki berarti saleh. Namun, sebagai sifat salehah atau saleh tidak bisa sembarang orang memakainya. &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kategori-kategori dulu untuk bisa disifati dengan salehah atau saleh. Lain kata, tidak semua orang wanita&amp;nbsp; atau laki-laki bisa disebut salehah atau saleh.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebab, sebagaimana pemahamannya, salehah asalnya dari kata “shaluha” (Arab) yang artinya sama dengan “hasuna”, yakni baik. Kalau dijadikan kata sifat menjadi “shalihatun” (&lt;i&gt;muannas/&lt;/i&gt;perempuan) atau “shalih” (&lt;i&gt;mudzakkar&lt;/i&gt;/laki-laki), yang artinya “yang baik”. Dan, biasanya dikaitkan dengan semua sisi dari diri seseorang yang mau disifati: prilaku, tingkah, maupun perkataan; dalam semua interaksi, baik interaksi dengan sesamanya (&lt;i&gt;maan nas&lt;/i&gt;), dengan lingkungannya (&lt;i&gt;maal bi’ah&lt;/i&gt;), terutama dengan tuhannya (&lt;i&gt;maal Allah&lt;/i&gt;). Jika prilaku, tingkah, dan perkataan, semuanya baik maka orang itu bisa disebut “yang saleh” atau “salehah”. Namun, kalau cuma prilakunya yang baik tapi perkataannya kurang ajar maka tidak bisa disebut “yang saleh atau salehah”. Untuk bisa disifati saleh atau salehah, maka semua dimensi pada diri seseorang harus betul-betul baik, luar dalam, dan secara konsisten.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di samping itu, perlu dipahami, baik (salehah/saleh) di sini bukan pada dimensi fisik; seperti wajah atau tubuh. Yang berarti seksi, montok, cantik, dan sejenisnya. Sehingga, wanita cantik atau seksi bukan berarti bisa disebut dengan wanita yang salehah. Meski yang namanya Salehah memang ada yang cantik atau juga ada yang jelek, secara fisik tadi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, banyak anak orang yang dinamai dengan Salehah&amp;nbsp; bagi yang wanita atau Saleh bagi yang laki-laki. Dengan harapan, agar anak itu kelak tumbuh dan menjadi anak yang baik atau yang saleh-salehah. Apalagi nama adalah doa, katanya. Di sisi yang lain, juga menjadi amat wajar ketika harapan semua orang, kalau anaknya menjadi anak yang ganteng atau cantik sekaligus saleh atau salehah. Meski tidak bernama Saleh, Hasan, Salehah, atau Hasanah. Lebih-lebih namanya juga seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Meski demikian halnya, ada sebuah pertanyaan, apakah semua orang yang namanya Salehah atau Saleh itu berarti baik? Jawabannya, tidak. Belum tentu. Di desa saya, ada banyak yang namanya Saleh-Salehah atau Hasan-Hasanah. Tapi, diantara mereka ada yang namanya Saleh tapi kerjanya cuma sibuk cari uang sampai lupa salatnya. &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; juga yang Hasan tapi tukang nipu orang. Dan, ada pula yang mendekam dalam sel karena mencuri ayam tetangganya. Bahkan, kata teman saya yang suka pergi ke tempat-tempat mesum, konon, ada beberapa pelanggannya (PSK) yang namanya Salehah atau Hasanah. Hanya saja, untung masih lebih agak etis karena diganti dengan nama panggilan yang gaul, katanya. Pasalnya, tidak semua orang yang namanya Salehah atau Saleh itu baik. Tapi, juga tidak sebaliknya, tidak semua yang namanya Salehah atau Saleh itu buruk. Itu relatif. Tidak pasti. Dari itu, benar juga filosofi orang “Apalah artinya sebuah nama”.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang lucu. Belakangan, nama Salehah diplesetkan oleh orang-orang terutama di desa saya; orang-orang yang suka kluyuran, main wanita, dan hobi orkesan. Mereka menyebut , "bodinya atau goyangannya saleho”. Di sini kata dan makna salehah justru bergeser menjadi kata dan makna yang buruk atau mesum. Yakni, “Bodi Saleho” berarti bodi yang montok. “Goyangan Saleho”, berarti goyangan yang aduhai. Ini marak bersamaan dengan populernya goyangan ngebornya Inul Daratista dulu. Juga masih marak disebut-sebut sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, “Nama sebagai doa”, itu adalah benar. Sebab, setiap apa yang dicipta orang dari kata berupa ucapan maupun catatan pasti tersimpan di dalamnya makna atau sebuah harapan yang baik-baik. Terlepas standart kebaikan yang dipahami masing-masing. Alias, Tidak ada manusia selama normal yang ingin dirinya buruk atau celaka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Begitu juga, “Apalah artinya sebuah nama”. Ini juga benar. Karena, tidak sedikit nama sebagai doa yang terpeleset akhirnya menjadi gagal. Termasuk nama baik (Saleh-Salehah, Hasan-Hasanah, dll) yang memiliki harapan yang baik pula, tapi kenyataannya malah menjadi sosok yang buruk. Paling terakhir, semoga semuanya baik-baik saja siapapun namanya. &lt;i&gt;Subhanallah. Wallahu a’lamu bisshowab.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Lawang, 29/ 04/2009&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-4209625382481427664?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/4209625382481427664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/04/gadis-itu-namanya-salehah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4209625382481427664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4209625382481427664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/04/gadis-itu-namanya-salehah.html' title='Gadis Itu Namanya Salehah'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1246937254366630681</id><published>2010-04-09T06:27:00.000-07:00</published><updated>2010-04-09T06:44:17.096-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Indonesia, Milih Syariat Atau Budaya?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S78qhymNiZI/AAAAAAAAAZg/E7jHdMigm3U/s1600/09042010092.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S78qhymNiZI/AAAAAAAAAZg/E7jHdMigm3U/s200/09042010092.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(Catatan Kritis Kasus Gayus dan Hukum Negri ini)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk sementara bisa dipastikan, orang yang prilaku keagamaannya fanatik, maka akan memilih hukum syariat. Tapi, orang yang prilaku keagamaannya lebih&amp;nbsp; fleksibel, maka akan memilih yang kedua, hukum budaya atau keduanya lebih digemburkan bersama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Orang yang pertama, memilih syariat karena pola dan prilaku kehidupannya melulu mendasarkannya kepada ajaran agama &lt;i&gt;an sich, &lt;/i&gt;dan lebih terkungkung dengan tekstual. Biasanya klimaks solutif setiap persoalan yang sedang dihadapi adalah, "karena sudah ditetapkan demikian dalam Al-Quran dan Hadist, tidak bisa diotak-atik!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adapun orang yang kedua,&amp;nbsp; yang lebih fleksibel, bukan berarti dia membelakangkan hukum tekstual religius atau bukan tidak beriman, akan tetapi memadukan landasan hukum teks dengan konteksnya. Dia akan berangkat dari analisa yang mendalam seputar unsur-unsur persoalan yang sedang dihadapi secara holistik (utuh) dengan unsur kitab (teks/hukum syariat), logika, dan fenomena yang terjadi (konteks). Biasanya, dalam mencari solusi (keputusan hukum) persoalan tertentu dia bermain dengan, "bagaimana dan kenapa semua ini terjadi, lalu bagaimana tinjauan teksnya yang sesuai."&amp;nbsp; .............................&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;(Teks ini masih berlanjut hanya saja masih berupa coretan di buku, masih belum ada peluang untuk mempublikannya seara utuh, tunggu saja lanjutannya. Mohon maaf dan terima kasih)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1246937254366630681?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1246937254366630681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/04/indonesia-milih-syariat-atau-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1246937254366630681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1246937254366630681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/04/indonesia-milih-syariat-atau-budaya.html' title='Indonesia, Milih Syariat Atau Budaya?'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S78qhymNiZI/AAAAAAAAAZg/E7jHdMigm3U/s72-c/09042010092.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-5906021212275174005</id><published>2010-04-04T18:48:00.000-07:00</published><updated>2010-04-09T06:52:55.409-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SYAIR-SYAIRKU'/><title type='text'>Yang Baru Itu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S7k_nfhetZI/AAAAAAAAAZQ/SOR5Y2tQ-I0/s1600/Perjuangn.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://3.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S7k_nfhetZI/AAAAAAAAAZQ/SOR5Y2tQ-I0/s200/Perjuangn.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;(Kado Bahagia buat saudaraku yang sedang pesta penyempurna hidupnya)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, hari ingin kau sedang pesta menyempurnakan hidupmu&lt;br /&gt;Orang mengatakan, selamat menempuh hidup baru&lt;br /&gt;Di sini aku juga menempuh hidup baru&lt;br /&gt;Meski orang tak menyebutku manten baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, aku ingin bercerita kepadamu soal baruku&lt;br /&gt;Aku sedang berlabuh di pesantren yang baru&lt;br /&gt;Kiaiku, guruku, teman-temanku, dan anginku semuanya baru&lt;br /&gt;Mereka amat lain dari teman-teman kita yang dulu&lt;br /&gt;Ketika kita selalu berdecak riang mengisah sorga kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, mereka kalau cerita tentang mobil-mobil&lt;br /&gt;Apartemen, restoran, dan bintang-bintang di kota-kota&lt;br /&gt;Sedang aku hanya bisa diam&lt;br /&gt;Sesekali mengembang senyum kepada mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlintas di wajahku waktu itu&lt;br /&gt;Pematang sawah, cangkul-cangkul, sabit rumput&lt;br /&gt;Sapi dan kambing di kandang, serta mandi dan berak di sungai&lt;br /&gt;Lebih dari itu, mma' dan bapakku&lt;br /&gt;Memetik sisa-sisa cabe yang tumbuhnya makin lesu&lt;br /&gt;Di sawahku yang lebarnya tak lebih dari daun kelor&lt;br /&gt;Mulai pagi buta hingga sore memerihkan mata&lt;br /&gt;Agar bisa dijual buat sanguku di pondok yang baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, apakah aku akan bercerita kepada mereka?&lt;br /&gt;Dunia akan memandangnya lucu dan aku hanya bisu&lt;br /&gt;Sesekali aku tersenyum sesekali aku menangis, saking lucunya&lt;br /&gt;Bukankah kau sudah tahu itu sejak dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku sangat amat suka itu, kelucuanku, mma' bapakku&lt;br /&gt;Maka tersenyumlah untuk ceritaku ini meski sedikit saja&lt;br /&gt;Pertanda masih ada teman yang mau mendengar kisahku&lt;br /&gt;Agar aku selalu ceriah menghadapi hari-hari kelak yang baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sungguh, akan baru, aku juga akan menjadi baru&lt;br /&gt;suatu masa, segalaku&lt;br /&gt;saat aku berani bercerita kepada mereka, kepada alam&lt;br /&gt;Kepada semesta yang lalu dan yang baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mereka akan tertawa ria, mereka juga akan menangis sahdu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mereka juga akan berdecak kagum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lawang, 02/04/2010&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-5906021212275174005?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/5906021212275174005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/04/yang-baru-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/5906021212275174005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/5906021212275174005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/04/yang-baru-itu.html' title='Yang Baru Itu'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S7k_nfhetZI/AAAAAAAAAZQ/SOR5Y2tQ-I0/s72-c/Perjuangn.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-8164627898564578888</id><published>2010-03-25T03:40:00.000-07:00</published><updated>2010-03-31T20:42:13.375-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Al-Quran Amat Pencemburu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S7QWAwHOqxI/AAAAAAAAAY4/4npobh04WVg/s1600/Ngafal+Al-Quran.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://4.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S7QWAwHOqxI/AAAAAAAAAY4/4npobh04WVg/s200/Ngafal+Al-Quran.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak terpikirkan sebelumnya di benak ini, bahwa saya mau nyantri takhassus Al-Quran. Bayangkan saja, sebelumnya nyantri di pesantren modern yang paling tidak akan lebih cenderung berhadapan&amp;nbsp; dengan hal-hal yang umum atau yang ilmiah-ilmiah formal, misalnya buku-buku produk pemikiran logis, penelitian, filsafat, apalagi sambil kuliah jurusan filsafat, dan sejenisnya. Meski terkait dengan hal-hal yang religius metode atau sistem pengajarannya masih modern. Selain juga, bisa mudah mengakses fasilitas dunia maya atau internet sehari-hari. Sedangkan sekarang, harus melulu konsentrasi menghafal Al-Quran, paling-paling kalau di luarnya ngaji sistem salaf terkait dengan tafsir-tafsir. Akhirnya, saya hanya bisa berharap, semoga segala diri saya dari pola pandang maupun prilaku lekas dapat menyesuaikan dengan sistem dan budaya yang baru ini, yang otomatis berbanding terbalik dengan budaya yang sebelumnya, paling tidak 80 persen. Sekarang, saya harus konsentrasi hidup dalam lingkungan Al-Quran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lebih khusus terkait dengan menghafal Al-Quran ini, salah seorang teman baru saya bilang, "Al-Quran itu pencemburu berat lho! Lebih dari sekedar cemburunya seorang cewek yang cinta setengah mati kepada cowoknya. Kalau tidak betul-betul dihafal dan dijaga dengan serius dia akan meninggalkan kita yang menghafalnya." Katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalau dipikir-pikir memang betul. Kalau kita amati bagaimana para hafidz Al-Quran memperlakukan Al-Quran dalam kehidupannya sehari-hari. Tiap hari pasti melakukan pengulangan hafalan sampai hatam (muroja'ah). Tiap hari wajib menyediakan waktu khusus untuk mengingatnya. Salah satu kiai saya di Al-Amien yang hafidz bilang, bahwa beliau untuk murojaah hafalannya paling tidak satu hari satu kali hatam. Sebab, satu hari lalai tidak mengingat hafalannya (murojaah), maka akan hilang dikit demi sedikit, paling tidak dari lancar akan menjadi tidak lancar, terbata-bata. Kalau sudah hilang hafalannya, maka sulit mengembalikannya. Apalagi, urusan menghafal Al-Quran ini adalah terkait dengan urusan hati, hidayah Allah, bukan pikiran apalagi potensi fisik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jadi, sangat amat logis, kalau Al-Quran disebut oleh teman saya itu sebagai " Pencemburu Berat". Lebih dari sekedar seorang cewek yang amat cinta kepada kekasihnya yang sedang dilanda cemburu..Al-Quran sangat amat butuh dibelai seterusnya tiap saat, tidak bisa ditinggal sesaat pun. Sekali lengah, maka dia akan sangat amat cemburu dan bisa-bisa menelak kita tiga kali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekilas, saya atau kita sebagai orang yang bukan hafidz melihatnya terkesan sangat amat mengerikan. Artinya, amat berat menghafal lebih-lebih menjaga hafalan Al-Quran. Seakan segala waktu hanya buat Al-Quran. Singkatnya, menjadi hafidz sangat amat berat. Membutuhkan niat dan cinta yang tak tanggung-tanggung. Harus niat dan cinta yang nomor satu di hati kita. Dia harus selalu didahulukan. Dan, lebih berat lagi mempertanggung jawabkan hafalnnya, yakni mengamalkannya, tidak sekedar hafal semata. Sebab, hafal saja tapi tidak mengamalkannya percuma saja, bahkan hanya menjadi beban kepada Al-Quran itu sendiri. Ibarat seorang istri yang tidak dinafkahi lahir batin. Apalagi hanya dibuat sebagai pemuas nafsu biologis belaka. Sama halnya Al-Quran yang dihafal hanya untuk sekedar gengsi-gengsian, meningkatkan pamor, prestise, atau kedudukan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalau demikian jadinya, bukan malah menjadi "hafidzul Quran" tapi "mufsidul Quran" (Pengrusak Al-Quran). Jauh lebih baik, menjadi pengamal sejati Al-Quran meski hanya lewat membacanya bukan menghafalnya, mungkin karena tidak mampu menghafalnya karena kesibukan keluarga. Al-Quran betul-betul membutuhkan cinta yang amat sangat tinggi bagi siapa yang mau menghafal sekaligus mengamalkannya. Bukan cinta setengah hati, tapi cinta sampai mati, cinta di atas segala-galanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalau sudah cinta sampai mati demikian, maka Al-Quran juga akan lebih mencintainya. Muaranya, hidupnya akan senantiasa bersama Al-Quran, dilindungi Al-Quran. Tuhan sebagai pemilik Al-Quran sudah janji itu. Tidak heran ada orang yang disebut "Al-Quran berjalan". Subhanallah. Luar biasa. Saya pribadi, sangat amat ambisius ingin seperti itu, tergila-gila mencintai Al-Quran. Amin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;Lawang, 24/03/2010&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-8164627898564578888?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/8164627898564578888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/al-quran-amat-pencemburu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8164627898564578888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8164627898564578888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/al-quran-amat-pencemburu.html' title='Al-Quran Amat Pencemburu'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S7QWAwHOqxI/AAAAAAAAAY4/4npobh04WVg/s72-c/Ngafal+Al-Quran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-7062770003585803228</id><published>2010-03-24T20:33:00.000-07:00</published><updated>2010-04-04T19:22:41.157-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Ini Betul-Betul Tirakat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S7AQePJvx_I/AAAAAAAAAYw/08DT0UpyGUg/s1600/Pndok.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S7AQePJvx_I/AAAAAAAAAYw/08DT0UpyGUg/s200/Pndok.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalau dipikir-pikir, kadang lucu, tapi kadang juga menyusahkan. Kata orang, kalau belajar, lebih-lebih ngaji atau menghafal Al-Quran di pesantren, itu harus dibarengi dengan tirakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tirakat, dalam pengertian secara denotatif, saya tidak mengerti. Tapi, saya dapat memahami dengan, meninggalkan sesuatu yang sewajarnya, atau meninggalkan sesuatu yang mengenakkan atau memanjakan diri. Lebih ekstrimnya lagi, seakan-akan sengaja melatih diri atau membuat diri terbiasa penuh derita sebagai jalan menuju kebahagiaan di saat-saat selanjutnya. Misalnya, puasa mutih yang bukanya hanya dengan nasi putih dan garam saja; menyepi di tempat-tempat angker: mengurung diri dalam kamar; tidak tidur dalam beberapa hari; tidak ngomong; musafir dengan jalan kaki telanjang tanpa bekal materi apapun, dan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sini, tirakat yang saya maksud bukan sampai kepada tingkat yang ekstrim, yang biasa saja. Yaitu, tidak memanjakan diri untuk selalu enak-enak. Bahasa gamblangnya, belajar serius, berusaha keras, menyedikitkan makan, tidak main-main, dan konsisten. Ini menurut saya tirakat yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nah, tirakat seperti ini yang harus saya praktekkan sekarang di pesantren yang baru, lebih-lebih dalam menghafal Al-Quran ini. Dan, ini memang sudah merupakan sebuah keniscayaan. Sebab, akan sulit menghafal kalau kerjanya cuma makan, sibuk urusan perut; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;atau akan rumit menghafal kalau kerjanya cuma ngotak-ngatik HP, sms atau fritok mania; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;atau akan ruwet menghafal kalau pikirannya selalu menghayal ke mana-mana, apalagi &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;hobi pacaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di pesantren yang baru ini, betul-betul saya rasakan tirakat itu. Tentunya, tidak enak saya rasa, bahkan sesekali terasa menyiksa.&amp;nbsp; Betapa tidak, biasanya saya makan tiga kali sehari di rumah, eh sekarang malah dua kali sehari, dikit atau dijatah lagi. Jadinya, perut saya sering keroncongan, bahkan kalau sudah sore terasa sakit berdenyut-denyut, maklum makan pertama sekitar jam 10-an dan ke dua kalinya setelah isya, jam 19-an. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi, saya harus selalu menyadari, bahwa ini sebuah proses. Memang sangat amat sulit meninggalkan kebiasaan yang sudah mendarah daging, bahkan menjadi kebutuhan. Dan, saya sangat amat yakin, kalau sudah terbiasa dengan hal-hal yang lebih baik dan serius, maka saya akan bisa mencapai apa yang saya mau, hidup sukses bahagia dunia akherat. "Sesungguhnya, setelah kesulitan ada kemudahan (kebahagiaan)." Ini janji Tuhan dalam Ayat-Nya. Bahkan, saking seriusnya Tuhan, sampai-sampai diulangi dua kali sumpah-Nya. Subhanallah. Ini betul-betul sebuah kepastian, kenyataan, dan amat sangat kongkrit sekali.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hanya saja, proses tersebut harus disertai dengan keyakinan, ikhlash, dan konsisten. "Katakanlah, saya beriman kepada Allah, lalu konsistenlah." Demikian keterangan Ayat Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;Lawang, 23/03/2010&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-7062770003585803228?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/7062770003585803228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/ini-betul-betul-tirakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/7062770003585803228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/7062770003585803228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/ini-betul-betul-tirakat.html' title='Ini Betul-Betul Tirakat'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S7AQePJvx_I/AAAAAAAAAYw/08DT0UpyGUg/s72-c/Pndok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1173485910588377384</id><published>2010-03-12T06:11:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T06:11:09.489-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Abstraksi Skripsiku</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 14.0pt;"&gt;ABSTRAKSI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-top: 12.0pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;Sabil, Ali, 2010, &lt;i&gt;Keimanan Wartawan Radar Madura Biro Pamekasan: Kajian Fenomenologis Eksistensialis Tentang Makna”, &lt;/i&gt;skripsi, Program Studi (S1) Akidah dan Filsafat Islam, Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-top: 12.0pt; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Keynotes&lt;/i&gt;:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;Keimanan, Wartawan, Kode Etik Jurnalistik, Fenomenologis, Eksistensialis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-top: 12.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in; unicode-bidi: embed;"&gt;Tidak jarang terjadi fenomena negatif di dunia pers atau wartawan, ancaman terhadap wartawan (Emka, 2005: vi), perampokan terhadap wartawan (Radar Madura, 15 Mei 2009), penculikan, bahkan pembunuhan terencana terhadap wartawan (Jawa Pos, 26 Mei 2008), wartawan amplop, wartawan bodrex (Emka, 2005: vii), wartawan memeras, dan lain-lainnya. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Lebih lanjut, belakangan sedang santer dibicarakan kasus Luna Maya yang menganggap wartawan lebih hina dari pelacur. Apakah ini memerkuat sebagai akibat dari apa yang dihasilkan observasi AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) tahun 2006 bahwa 85 % wartawan Indonesia tidak membaca Kode Etik Jurnalistik? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-top: 12.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Ini menjadi persoalan amat pelik di dunia wartawan. Selain, sungguh memang sangat aneh ketika keimanan yang sifatnya religius dikaitkan dengan fenomena pengalaman wartawan yang cenderung praktis dalam tugas-tugas profesinya. Namun, di samping itu, bukankah konsep keimanan ini justru menjadi langkah awal (Bab I Pasal 1 KEJ) hukum normatif Kode Etik Jurnalistik (KEJ) profesi wartawan yang menjadi pedoman dasar profesionalitasnya? Sehingga, apakah di balik itu ada nilai filosofis tertentu atau hanya sekedar simbol turunan dari hukum-hukum normatif yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-top: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Inilah menariknya, kenapa peneliti memilih tema seputar fenomena keimanan wartawan di sini, dengan tujuan ingin mengetahui bagaimana wartawan memaknai dan menghayati keimanan itu, apa saja yang menjadi faktor-faktor untuk meningkatkan dan kendala-kendala yang menghambat penghayatan keimanan itu, serta bagaimana usaha-usaha wartawan dalam meningkat penghayatan keimanan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-top: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian ”Kualitatif Lapangan” dengan pendekatan ”Fenomenologis Eksistensialis”. Yakni, sebuah pendekatan bagaimana keimanan di dalam fenomena pengalaman para wartawan dengan didasari asumsi epistemologis bahwa makna kenyataan adalah apa yang ada di dalam pengalaman para wartawan secara alami (naturalistik) dan langsung dari yang tampak (fenomenon) dalam kesadaran (intensionalitas) (Lathief, 2008: vi). Maka dari itu, penelitian ini berada pada paradigma konstruktivisme yang menggali dan mendeskripsikan pemaknaan dan penghayatan wartawan terhadap keimanan yang dialami secara sadar dalam melaksanakan tugas-tugas profesinya sehari-hari. Untuk itu, harus dikaji dengan interpretasi bermakna terhadap kenyataan pengalaman itu, bahwa kenyataan adalah apa yang dimaknai dan dihayati wartawan itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-top: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Objek penelitian ini adalah para wartawan media cetak (koran) Jawa Pos Group Radar Madura Biro Pamekasan yang berasal dari latar belakang akademis yang berbeda, sehingga penelitian ini cukup menarik dan menantang untuk dilakukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-top: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Setelah melakukan serangkaian metode dan pengamatan secara parsipatoris, maka data serta analisis yang disajikan adalah berupa hasil wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Peneliti berusaha masuk (meski berpura-pura) ke dalam dunia informan dan memandang serta mengkaji pengalaman itu seperti merasakannya terhadap diri sendiri. Lalu peneliti keluar kembali dan melihat melalui &lt;i&gt;bird angle,&lt;/i&gt; yakni suatu sudut pandang di mana realita yang sesungguhnya terjadi adalah hasil dari konstruksi interpretasi peneliti terhadap pengalaman para wartawan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="direction: ltr; margin-top: 6.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 16px;"&gt;Melalui penelitian ini, ditemukan bahwa pemaknaan dan penghayatan para wartawan Radar Madura Biro Pamekasan bervariasi dan berbeda. Juga sebuah kenyataan bahwa keimanan bagi moyoritas mereka adalah sesuatu yang tidak terkait dengan tugas-tugas praktis mereka. Serta yang paling unik, adalah sebuah kenyataan yang sama, bahwa mereka sama-sama memaknai dan menghayati keimanan itu dengan nilai-nilai Kode Etik Jurnalistik (KEJ) sekaligus menaatinya tanpa membaca dan mengkaji nilai-nilai KEJ itu dari teksnya langsung kecuali dari karya-karya jurnalistik lainnya, yang&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;menurut pemikiran mereka tidak akan terlepas dari istilah atau nilai-nilai kode etik profesinya itu. Sehingga, meski tidak membaca atau mengkajinya secara langsung bisa paham dan menaaatinya. Sebuah keunikan yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1173485910588377384?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1173485910588377384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/abstraksi-skripsiku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1173485910588377384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1173485910588377384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/abstraksi-skripsiku.html' title='Abstraksi Skripsiku'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-7027338192962461798</id><published>2010-03-06T05:59:00.001-08:00</published><updated>2010-03-06T05:59:35.563-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SYAIR-SYAIRKU'/><title type='text'>Terbaik yang pasi</title><content type='html'>Skripsiku tercatat yang terbaik  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Metodeku terjitu, analisaku tertajam&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku diakui wisudawan terbaik&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku datang kepadamu dengan gembira ini&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kau menerimaku dengan diam&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Akhirnya aku bertanya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; apa?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kau malah makin diam&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mentah menatapku&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Akhirnya aku hanya duduk batu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dalam ketiak diammu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku melelah kau tak hirau&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku harus bagaimana&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Metodeku yang jitu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Analisaku yang tajam&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Wisudaku yang terbaik&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di depanmu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Menjadi pasi, amat pasi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lalu aku harus bagaimana?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Polean, 4 Maret 2010 M&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-7027338192962461798?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/7027338192962461798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/terbaik-yang-pasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/7027338192962461798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/7027338192962461798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/terbaik-yang-pasi.html' title='Terbaik yang pasi'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-416545325398303095</id><published>2010-03-06T05:58:00.001-08:00</published><updated>2010-03-06T05:58:46.651-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SYAIR-SYAIRKU'/><title type='text'>Ku Tetap Menerjang</title><content type='html'>Apakah ini petaka, coba, atau karma?  &lt;div class="MsoNormal"&gt;Hidup memang petaka, coba, dan karma&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Hidupku sekarang&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Biar penghabis darah kau laknat cinta&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ku &lt;st1:state _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; tetap menerjang&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Karena tenaga menjadi makin tak terbatas&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dalam gelap hanya terang&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Polean, 3 Maret 2010 M&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-416545325398303095?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/416545325398303095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/ku-tetap-menerjang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/416545325398303095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/416545325398303095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/03/ku-tetap-menerjang.html' title='Ku Tetap Menerjang'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-6186175419327950408</id><published>2010-02-15T17:35:00.003-08:00</published><updated>2010-02-15T17:35:32.046-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Filosofi Sakit Gigi dan Virus Bank Jatim</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CXPPRES%7E1.USE%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;	mso-font-alt:RoteFlora;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:Calibri;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-bidi-font-family:Arial;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;    &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kayaknya tahun ini, saya sebagai warga kecil Jatim harus membuka lembaran sejarah baru, level pribadi sekaligus dalam level daerah tempat saya tinggal, Jawa Timur. Bukan karena baru kawin sebagaimana yang sering dibuat salam selamat kepada kemanten baru, “selamat menempuh hidup baru”. Kalau ini sejarah yang amat membahagiakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sedangkan bagi lembaran baru saya ini sangat amat merisaukan. Lebih-lebih hal yang bersinggungan dengan eksistensi keperintahan daerah saya tersebut, Pemprov Jatim. Namun, Ini bisa menambah kekayaan sejarah hidup saya, meski sejarah ini datangnya tiba-tiba di luar sangkaan saya yang juga membawa kecemasan warga Jatim lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sakit gigi. Inilah bentuk sejarah baru pribadi saya. Bagi saya sakit gigi ini juga bisa membuat orang menderita, karena tidak terlalu mengundang simpati atau empati orang lain, sehingga penderitaannya lebih ditanggung sendiri. Kalau penyakit&amp;nbsp; lain masih lumayan enak karena orang-orang bersimpati dan menjenguk, setidaknya ada perhatian dan kesadaran dari orang bahwa dia memang sakit, sehingga bisa dimaklumi jika tidak beraktivitas. Sakit gigi ini telah membuat saya sadar bahwa ada penyakit menyusahkan tapi orang lain menganggapnya biasa saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Namun, meski demikian, ada yang lebih unik dan menyiksa lagi. Inilah “sakit hati”. Sakit hati tidak hanya berakibat ke tingkat kritis atau pingsan, tapi bisa ke tingkat mati. Atau paling tidak stress dan gila. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sakit hati ini sangat unik dan paling ganas, yang obatnya juga misterius. Tidak bisa dideteksi dengan kecanggihan medis sekaligus tidak bisa diramal dengan kehebatan mistis. Seperti ada seorang gadis perawan yang tewas menggantung diri. Saya juga punya seorang teman lelaki sampai sekarang pikirannya tidak normal gara-gara ditinggal kekasihnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Serta penyebabnya juga unik bukan semacam virus atau bakteri natural seperti virus HIV, flu burung, dan sebagainya, akan tetapi lebih ganas dari itu, yaitu virus TB. TB bukan berarti Tuber Cuolosis virusnya penyakit TB Paru. Akan tetapi TB tersebut adalah ‘Tekanan Batin”. Bisa TBC “Tekanan Batin Cinta”; bisa juga TBH “Tekanan Batin Harta”; bisa juga TBK “Tekanan Batin Kedudukan”; bisa juga TBP “Tekanan Batin Popularitas; bisa juga TBS “Tekanan Batin Seks”; dan TB-TB lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Fenomena gadis gantung diri dan lelaki stress di atas adalah contoh penyakit virus TBC. Kasus seorang kiai yang menghamili beberapa santrinya sendiri, ini virus TBS. Sedangkan sekawanan pembobol canggih ATM berarti telah terinfeksi virus TBH. Sementara kasus yang sedang laris-larisnya dibincangkan bank Century dan &lt;i&gt;fee&lt;/i&gt; bank Jatim yang makin rumit itu virusnya lebih komplikasi, bisa banyak TB: TBH, TBK, dan TBP.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Khusus kasus &lt;i&gt;fee&lt;/i&gt; bank Jatim, inilah sejarah baru bagi Pemprov Jatim pada periode ini. Ini penyakit yang lebih dari hanya sekedar sakit gigi saya dan penyakit paling bahaya pun, karena akibatnya bisa mendatangkan kekecewaan dan penderitaan yang luar biasa bagi masyarakat Jatim lainnya. Konon, meski masih dalam tingkat penyelidikan kasus ini melibatkan orang nomor satu se-Jatim Pak De (sebutan gubernur Jatim Soekarwo). Bukan hanya itu, konon Pak De juga terindikasi dalam kasus pengelolaan dana pilgub 2009 yang menguntungkan salah satu pasangan cagub-cawagub yang terendus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) (&lt;i&gt;Jawa Pos, &lt;/i&gt;4/02/2010). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kecemasan dan Harapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Melihat fenomena ini, saya sebagai orang yang mengimpikan Pak De untuk dapat membawa warga Jatim kepada kehidupan yang lebih baik sesuai dengan janji-janji manisnya dulu sewaktu kampanye menjadi cemas. Sakit gigi saya menjadi tak seberapa sakitnya.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sekaligus saya bertanya-tanya apakah Pak De serta wakilnya Gus Ipul (Saifullah Yusuf) yang Islami dan berbeground santri akan terjangkiti virus-virus unik di atas? Yang jelas, meski saya pengagum Pak De dan Gus Ipul, yang namanya kesalahan tetap harus terungkap dan harus dituntas habis secara hukum karena ini menyangkut eksistensi masyarakat banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Saya kira ini bukan hanya pandangan saya tapi juga seluruh warga Jatim lainnya. Termasuk sebuah pemikiran yang mencatat bahwa KPK sekaligus LSM antikorupsi pusat untuk turun tangan langsung secara lebih serius atau paling tidak membuat “pos khusus” dengan menerjunkan tokoh-tokoh andalannya dalam mengurus tuntas kasus ini. KPK jangan tenggelam dalam kasus-kasus di pusat saja, bank Century misalnya. Sebab, kasus ini lebih dekat dan menyentuh masyarakat &lt;i&gt;grass root&lt;/i&gt;. Lebih-lebih Jawa Timur dikenal sebagai barometer nasional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Belum lagi kasus-kasus memalukan lainnya seperti kasus proyek fiktif Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) yang justru melibatkan ketua dan para anggota DPRD Jatim sendiri. Sehingga, amat pantas jika pada mulanya pihak DPRD sangat vokal menyembulkan kasus ini kini mulai melembek dan hilang ditelan bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Rupanya orang yang saya idamkan selama ini di Pemprov Jatim ini sekaligus DPRD-nya meski secara fisik sehat-sehat, ganteng-ganteng, gagah-gagah serta kalau ngomong jago-jago sudah mulai tampak terindikasi virus-virus TB di atas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kalau memang demikian, maka ini akan menjadi sejarah baru yang kongkrit bahwa ke depan warga Jatim khususnya untuk lebih selektif dan berhati-hati lagi memilih pemimpin jangan mudah tekecoh dengan penampilan fisik dan janji-janji manis. Atau, asumsi Jatim surga bagi koruptor akan betul-betul nyata (&lt;i&gt;Jawa Pos, &lt;/i&gt;4/02/2010).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sekaligus meski ini bagian dari virus-firus TB yang memang tidak mudah dideteksi dengan kecanggihan medis dan ramalan mistis atau karena saking amat akutnya virus yang sudah menginfeksi tubuh-tubuh para pemimpin itu, termasuk DPRD-nya itu, sehingga mungkin akan beres begitu saja bagi mereka, maka mungkin betul harapan terakhir bahwa kini tinggal KPK-lah yang harus tetap tegar sekaligus para penegak hukum lainnya. Asal mereka tidak terinfeksi virus-virus itu juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kalau tidak, setidaknya sejarah akan mencatat bahwa kehadiran mereka di kancah Pemprov Jatim hanya menjadi beban sejarah bagi masyarakat Jatim pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sedangkan bagi Pak De dan &lt;i&gt;konco-konco&lt;/i&gt;nya menjadi beban moral yang tidak akan pernah hilang dan harus dipertanggngjawabkan kelak di akhir hayat. Tapi, bagaimanapun saya berharap agar ada solusi yang lebih manis dan pemimpin-pemimpin itu betul-betul selamat dari virus-virus TB itu.&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-6186175419327950408?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/6186175419327950408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/02/filosofi-sakit-gigi-dan-virus-bank.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6186175419327950408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6186175419327950408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/02/filosofi-sakit-gigi-dan-virus-bank.html' title='Filosofi Sakit Gigi dan Virus Bank Jatim'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-978482418544844092</id><published>2010-02-08T20:19:00.000-08:00</published><updated>2010-02-08T20:32:37.478-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Bersalawat kepada Thomas Alva Edison</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S3Dhru-wtGI/AAAAAAAAAYI/Hfop1AZLBsc/s1600-h/thomas_alva_edison+(1).jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S3Dhru-wtGI/AAAAAAAAAYI/Hfop1AZLBsc/s320/thomas_alva_edison+(1).jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Pertama kali, pasti tulisan ini akan menimbulkan kontraversi. Tapi hanya bagi orang yang membaca judul ini saja tanpa menuntaskannya sampai akhir catatan. Untuk itu semoga catatan ini tidak hanya dilihat sekilas tapi dibaca dan ditelaah secara mendalam dan selesai sempurna. Dengan harapan tidak salah paham.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Akhir-akhir ini, listrik sering padam. Bahkan sampai ada program giliran padam tiap daerah, dikarenakan konon katanya energi listrik makin menipis sekaligus makin tinggi dan komplesknya dinamika dan kecanggihan teknologi sehingga membutuhkan energi listrik yang lebih besar. Dahlan Iskan sebagai Dirut PLN yang baru langsung harus menanggung fenomena kelistrikan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Berangkat dari itu, saya menjadi ingat dan ingin merenungi keterangan dosen filsafat saya yang bagi saya unik. Uniknya, sedikit ngomongnya, sekali ngomong ceplas ceplos, tapi sarat makna. Keterangannya bukan hanya menambah ilmu pengetahuan mahasiswa&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;an sich, &lt;/i&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;tapi sekaligus menambah kesadaran jiwa mahasiswa. Seakan tiap katanya mengandung spirit yang dapat merubah sebuah kondisi jiwa seseorang. Keterangannya amat kaya, tidak datar. Amat jarang saya menemukan seorang dosen yang tidak sekedar mengusai disiplin ilmunya tapi keilmuwannya telah menjadi roh dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Meski demikian, tidak ke sembarang orang dia mengutarakan pemikirannya. Kepada mahasiswa selain jurusan Filsafat saja dia tidak begitu. Begitu juga tidak semua orang dapat mendengarnya atau menangkap makna kata-katanya, kecuali orang yang dasar disiplin pemikiran atau filsafatnya lumayan kuat. Atau kalau tidak, sudah terbiasa berdialog dengannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Kalau tidak, maka bisa terjadi salah paham, mengklaim sesat, atau setidaknya akan membuat orang yang mendengar itu bingung. Sebab, kata-katanya atau pemikirannya tidak seperti pada biasanya yang datar-datar. Itulah saya kira filosof sejati. Bukan hanya sekedar sarjana filsafat, atau ahli filsafat. Tapi roh dirinya memang sudah filsafat (filosof).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Termasuk salah satu keunikannya. Suatu hari di saat perkuliahan sedang berlangsung dia tiba-tiba tanpa sengaja menyinggung listrik yang sering padam. Tiba-tiba dia bilang, “Seharusnya kalian juga bersalawat kepada Thomas Alva Edison”, katanya. Sontak para mahasiswa tertawa plus merenungi ucapan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Alasannya, karena betapa berharganya penemuan Thomas Alva Edison bagi kesejahteraan hidup manusia ini, sampai-sampai sebentar saja penemuannya tak berfungsi (listrik padam), maka manusia dibuat susah. Bayangkan saja, kalau dia tidak menemukan lampu atau listrik, niscaya peradaban umat manusia tak sesejahtera dan secanggih ini. Konon dia&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;menemukan 3.000 penemuan, diantara-nya lampu listrik, sistim distribusi listrik, lokomotif listrik, stasiun tenaga listrik, mikrofon, kinetoskop (proyektor film), laboratorium riset untuk industri, fonograf (berkembang jadi tape-recorder), dan kinetograf (kamera film).&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Kami sebagai mahasiswanya tak terlalu kaget atau berpikiran dia sesat. Karena seperti biasanya selama ini salawat dipahami hanya untuk Nabi Muhammad. Lebih-lebih Thomas Alva Edison bukan Muslim. Bukankah seorang Muslim dilarang mendoakan non Muslim? Seperti biasanya yang saya ketahui, ya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Tapi, kami sudah terbiasa memahami kata-katanya tidak secara mentah-mentah. Kami sudah ngerti semua yang dilontarkannya memiliki landasan dan alasan yang amat kuat, logis, dan bisa benar. Sehingga, kami tidak mengambil tiap penjelasannya begitu saja, juga tidak langsung menyesatkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Kami sebagai mahasiswanya selalu dididik dan dilatih untuk selalu berpikir logis serta bijaksana. Bahwa, selama sesuatu itu muncul dari system pemikiran atau penafsiran kepala manusia itu bernilai relatif, artinya bisa salah bisa benar, tapi sejatinya tidak ada pemikiran yang salah. Yang ada berbeda atau lain pemikiran. Setidaknya pasti benar menurut dirinya sendiri dan berbeda dengan pemikiran kepala yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Ini sebuah pengajaran dan prinsip kebijaksanaan hidup sejati. Bahwa, orang&amp;nbsp;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;jangan sampai mudah menyalahkan atau mengklaim orang lain salah, apalagi dibarengi dengan mengaku benar sendiri ditambah memaksa orang lain untuk ikut kebenarannya itu. Siapa pun dan apa pun itu. Kalau seandainya semua manusia sadar demikian, maka niscaya kehidupan ini akan betul-betul sejahtera. Kehidupan diwarnai saling menghormati dan menghargai; tidak ada pertikaian, tidak ada pembakaran tempat-tempat ibadah, tidak ada bom bunuh diri, tidak ada terorisme, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Tentang salawat di atas. Bukan berarti dosen itu tidak memahami salawat dalam Islam, atau bukan berarti tidak Islam, atau bahkan kafir, atau syirik, atau murtad. Tapi, beliau memahami salawat itu dari sudut pemikiran kepala, bukan agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Dalam ajaran agama, dilihat dari asal katanya dipahami bahwa salawat adalah sebuah&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;doa atau permohonan keselamatan dan kesejahteraan dari umat Muslim kepada Allah untuk nabi Muhammad&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yang hukumnya ada yang mengatakan wajib, sehingga selain Nabi tidak boleh disalawatin kecuali salam atau doa biasa. Dasar ini jelas dalam Al-Quran, “&amp;nbsp;&lt;i&gt;Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk nabi, Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya&lt;/i&gt;&amp;nbsp;“ (Q.S. al-Ahzab: 56).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Tapi lain dengan pemikiran dosen itu, dia memahami salawat sebagai sebuah penghormatan kepada jasa Thomas Alva Edison yang begitu besar bagi umat manusia. Ini salawat berlatar belakang pemikiran manusia kepada manusia selain Nabi Muhammad.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Sejatinya, ini tidak jauh beda dengan konstruk ajaran agama, bahwa antara salawatnya Allah, Malaikat, dan manusia ke&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;Nabi&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Muhammad itu berbeda. Salawatnya Allah ke&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;Nabi&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Muhammad adalah&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;bermakna penghormatan Allah kepada nabi Muhammad, yakni penghormatan yang diberikan Allah swt kepada nabi Muhammad adalah dengan menjadikannya sebagai nabi dan rasul yang utama dari seluruh nabi dan rasul yang telah diturunkan sebelumnya&lt;/span&gt;. Sedangkan salawatnya Malaikat kepada&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;nabi&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Muhammad Adalah penghargaan. Sementara salawatnya manusia ke&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;nabi&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Muhammad adalah menjadi doa yang tujuannya untuk menghormati keagungan jasa&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;Nabi&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Muhammad kepada umat manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Maka dari itu, dapat dipahami bahwa, saking menghormati jasanya Thomas Alva Edison dia meminjam istilahnya salawat yang dikhususnya kepada&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;Nabi&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Muhammad yang dia maksudkan sebagai ekspresi yang menunjukkan tentang betapa pentingnya manusia menghargai dan menghormati orang-orang yang begitu berjasa kepada kehidupan ini, siapapun itu. Bukan mengambil alihkan atau menyamakan makna salawat kepada&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;Nabi&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Muhammad dengan Thomas Alva Edison. Hanya sekedar meminjam istilahnya saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 20.55pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt;"&gt;Secara makna, tentunya dia paham makna salawat khusus Allah kepada nabi Muhammad, khusus Malaikat kepada nabi Muhammad, khusus manusia kepada nabi Muhammad, dan khusus manusia ke sesama manusia biasanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tokohindonesia.com/"&gt;http://www.tokohindonesia.com&lt;/a&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dan&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;a href="http://myrazano.com/"&gt;http://myrazano.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-978482418544844092?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/978482418544844092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/02/bersalawat-kepada-thomas-alva-edison.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/978482418544844092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/978482418544844092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/02/bersalawat-kepada-thomas-alva-edison.html' title='Bersalawat kepada Thomas Alva Edison'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/S3Dhru-wtGI/AAAAAAAAAYI/Hfop1AZLBsc/s72-c/thomas_alva_edison+(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-6202172694699674063</id><published>2010-02-07T07:34:00.000-08:00</published><updated>2010-02-07T07:47:32.613-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Salat Jama’ah, Idialisme Kesejahteraan Bangsa</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Saya tidak tahu sendiri orangnya. Juga tidak baca sendiri beritanya. Kalau memang ada. Tapi ini betul-betul ada. Karena seorang kiai yang cerita. Begini, Bapak Kiai di pesantren cerita seorang tokoh unik ketika meyakinkan emosi para guru terkait dengan faedah konsistensi salat jamaah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Bahwa, kalau seseorang konsisten dalam menegakkan salat jamaah hidupnya akan betul-betul tenang, penuh damai, bahagia, dan berbarokah dalam segala halnya. Terutama setiap apa yang diinginkannya akan tercapai. Saking yakinnya Beliau, ini tidak hanya disampaikan satu dua kali saja akan tetapi nyaris tiap pertemuan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ceritanya begini, namanya Anton Bahrul Alam. Entah apa pangkatnya, saya tidak begitu jelas. Dia kepala kapolda Jatim tahun 2008-2009 kemarin. Beliau meski kayaknya tugasnya jauh dari konteks spriritual, kepala kepolisian, ternyata Beliau seorang yang konsisten menegakkan salat jamaah. Bukankah biasanya kepolisian itu terkesan dengan urusan yang sekuler dan super sibuk?&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Konon, dalam keadaan bagaimanapun Beliau tetap menyempatkan diri untuk selalu salat jamaah. Salat jamaah bagi Beliau adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Meski waktu rapat penting bagaimanapun Beliau tetap meluangkan waktunya untuk berjamaah. Bahkan, Beliau termasuk salah satu anggota jamaah tablig. Semacam kelompok spiritual Islam untuk menegakkan ibadah Islam. Tapi bukan semacam gerakan jihad yang sering disalahpahami sebagai gerakan teroris.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Bukan hanya untuk dirinya sendiri Beliau juga menularkan amalan jamaah tersebut kepada semua jajaran yang ada di bawahnya, sekaligus para Polwannya dianjurkan untuk memakai jilbab. Pokoknya waktu itu kepolisian Jatim terkesan sangat amat Islami di bawah kepemimpinannya.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Tercatat saat itu perkembangan keamanan makin meningkat drastis. Artinya, jika sebelum-sebelumnya angka pelanggaran dan kasus-kasus di berbagai bidang tinggi, tapi waktu itu berubah menurun drastis. Sekarang, konon, Beliau sedang siap-siap untuk menyalonkan diri menjadi kapolri, se-Indonesia bukan hanya se-Jatim.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Ini cerita seorang tokoh yang unik yang amat jarang terjadi, bahkan mungkin seribu satu. Sebab seorang polisi apalagi kepalanya dalam level propinsi yang lekat dengan tugas-tugas praktis yang super sibuk ternyata masih konsisten mengamalkan salat jamaah lebih-lebih juga menjadi anggota pengikut jamaah tablig. Mungkin kita akan bertanya, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;kok&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt; masih sempat-sempatnya mendalami spiritual? &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Itulah prinsip dan keyakinan hidup. Seseorang kalau sudah yakin dan konsisten apalagi dalam urusan ibadah kepada Tuhan dia akan merasakan kenikmatan yang tidak pernah didapat dengan urusan dunia semacam kekayatan material atau pangkat tinggi, sehingga pada akhirnya menjadi suatu hal yang paling utama dan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Kenapa kita tidak yakin atau seakan tak masuk akal kepada logika kebiasaan kita? Jawabannya, karena persoalan ibadah memang abstrak yang tidak kelihatan oleh segala pancaindra kita serta tidak bisa diekspresikan dengan logika kita, sehingga kita acapkali tidak memercayainya. Selain karena otak kita sudah terlalu tercekoki oleh materi dunia. Kita menjadi tidak percaya terhadap hal yang goib-goib atau yang barokah-barokah. Akibatnya, meski kita mengerjakan kita tidak bisa konsisten bahkan tidak suka mengerjakannya.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Solusinya, pertama kali kita percaya dan yakin saja dengan mengambil contoh dari yang sudah mengalami nikmatnya ibadah tersebut sehingga kita bisa mau sekaligus konsisten mengerjakannya juga. Kalau sudah mau dan konsisten mengerjakannya kita akan betul-betul juga akan meresakan kenikmatan ibadah tersebut. Ketika sudah merasakan sendiri maka kita akan ketagihan dan merasa butuh. Akhirnya, kita akan konsisten sepanjang masa.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Saya menjadi berpikir, sungguh betapa indahnya kehidupan bangsa ini kalau seandainyya kepolisian atau penegak hukum serta keamanan rakyat pada semua levelnya di negri ini bisa seperti kapolda Anton Bahrul Alam tersebut, yakin dan konsisten beribadah jamaah. Negri ini betul-betul akan aman, tidak ada lagi kasus-kasus korupsi, suap-menyuap, ketimpangan hukum di mana-mana, saling sentimen, ego jabatan, serta tidak ada lagi istilah pertarungan cecak dan buaya. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Helvetica Neue', Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Semua akan hidup saling damai, aman, dan sejahtera. Sebab, semuanya dalam kesadaran kebersamaan, persamaan, dan keadilan (jamaah).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-6202172694699674063?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/6202172694699674063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/02/salat-jamaah-idialisme-kesejahteraan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6202172694699674063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6202172694699674063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/02/salat-jamaah-idialisme-kesejahteraan.html' title='Salat Jama’ah, Idialisme Kesejahteraan Bangsa'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-920729379573529742</id><published>2010-01-17T02:04:00.001-08:00</published><updated>2010-01-17T02:04:55.198-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Skripsi, Lahirnya Sarjana-Sarjana Palsu</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Makin dekat dengan tutupan akhir perkuliahan alias wisuda, makin bahagia pula apa&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang saya rasa. Begitu juga apa yang dirasakan oleh teman-teman saya seangkatan. Bayangkan saja, mau menjadi seorang sarjana muda, yang tentunya pasca sarjana pasti akan menjadi lain segalanya. Di samping nama yang bertambah panjang, juga perilaku dan segala kondisi diri yang harus meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebab, namanya sarjana &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; pasti terkesan lebih akademis atau berilmu dari pada orang yang bukan sarjana atau belum sarjana. Misalnya, nama saya sebelum sarjana Ali Sabilullah, maka setelah sarjana akan berubah menjadi Ali Sabilullah, S.Fil. Begitu juga, jika sebelum sarjana saya masih kekanak-kanakan, maka setelah wisuda saya harus lebih dewasa lagi. Amin. Paling tidak, bergaya dewasa dulu. Kalau memang alaminya tidak&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bisa dewasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun, di samping kebahagiaan itu, ada juga perasaan getir dan penuh bimbang. &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; syarat untuk menduduki singgasana wisuda itu, karya skripsi. Inilah titik kegetiran dan kebimbangannya. Sebab, jika tidak lulus dalam penyusunan skripsi tersebut, tidak jadi dimantenin sebagai wisudawan yang dipajang dengan uniform penuh wibawa di depan banyak hadirin. Wisudanya diundur &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;tahun depan. &lt;i&gt;Naudzubillah&lt;/i&gt;. Ya, kalau tahun depan bisa selesai, kalau tidak, yah tua-tua di kampus. “Kiamat sudah dekat”, kata seorang teman saya yang skripsinya masih amburadul.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Termasuk saya, yang saat ini waktu wisuda hanya dalam waktu beberapa hari lagi (26 Pebruari 2010), yang skripsinya masih kocar kacir. Bukan karena saya malas mengerjakannya, tapi karena lahan skripsi saya yang amat komplek dan menyulitkan. Studi lapangan dengan metode fenomenologi. Menggali makna fenomena di lapangan. Ini otomatis memang membutuhkan waktu panjang dan keseriusan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Makna tidak sembarang disimpulkan seenaknya saja. Saya mencari teori, bukan mendeskripsi ulang teori atau membuktikan teori. Selain kendala yang menumpuk di &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sini, sibuk tugas lain, sarana yang tidak mendukung, harus antri komputer, dan sebagainya. Termasuk korbannya adalah prinsip saya menjadi sekarat untuk konsisten menulis di blog setiap hari. Hanya gara-gara waktu yang kesedot proyek skripsi ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tapi biarlah, mulai saat ini saya libur atau jarang dulu ngisi karya di blog. Yang penting bukan dikarenakan saya malas lalu vakum. Saya juga nulis dalam bentuk skripsi, itupun &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; lebih serius. Hanya saja lebih &lt;i&gt;njlimet&lt;/i&gt; karena terlalu formal dan disesaki peraturan-peraturan segala macam. Jadi tidak enjoi. Padahal, kalau saya tidak enjoi, saya tidak suka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tapi tidak apa-apa juga. Lawong ini yang lebih memastikan masa depan saya. Bayangkan saja, kalau saya tidak selesai skripsi tahun ini, &lt;st1:state w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; cita-cita saya makin tertunda untuk jadi seorang filosof. Bukan hanya sarjana (SI/S.Fil.I) atau master (S2/M.Fil.I), tapi betul-betul jadi filosofnya (S3/P.hd) atau kalau ada sampai S 27 sekalian. “Jangan tanggung-tanggung. Biaya sudah kadung besar. Biar hasilnya tampak kelihatan.” Katanya Ibu Bapak saya di desa. Yups.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebetulnya, saya bisa cepat dengan memilih topik yang sederhana dan metodenya kuantitatif saja, misalnya “Pengaruh konseling terhadap kecerdasan emosional anak didik di kelas 3 MTS Al-Amien Prenduan”, atau “Pengaruh menonton iklan makanan di televisi terhadap tingkat pembelian konsumen” . Tapi bagi saya seperti itu kurang sreg. Dan tidak butuh diteliti. Itu memang sudah wajar. Seperti halnya, “Pengaruh makan terhadap kenyang”. Nyapek-nyapein saja, hasilnya tidak memuaskan, apalagi judulnya sejenis itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namanya saja penelitian. Bukankah penelitian itu paling tidak ingin meningkatkan sesuatu atau menemukan sesuatu yang baru?! Bahkan banyak teman saya yang skripsinya tinggal ngubah nama saja, alias copy paste dari skripsi temannya yang sudah wisuda tahun sebelumnya dan di perguruan tinggi lain. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bahkan dia berprinsip, yang&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;penting selesai dan dapat sarjana. Bagi saya proses skripsi seperti itu &lt;i&gt;naudzubillah&lt;/i&gt;. Sangat tidak saya sukai. Lebih baik tidak sarjana saja. Sebab, itu akan menimbulkan beban psikologis di masa depan saya. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Paling tidak, ketika duduk di prosesi wisudaan, saya akan berpikir, saya ini wisuda cap apa? Dengan skripsi yang tidak serius atau menjiplak. Maka saya tidak ada bedanya dengan sarjana palsu sepanjang masa. Lebih bahaya lagi hasil praktis ilmu saya tidak akan mendatangkan keberkahan. Penipuan, kebohongan, atau kepalsuan pasti hasilnya adalah kebohongan dan kepalsuan juga. Kalau saya mencetak kue dari lumpur pasti hasilnya akan tetap menjadi lumpur. Tidak akan berubah menjadi tepung. &lt;i&gt;Nuudzubillah&lt;/i&gt;. Sebuah beban psikologis yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Fenomena skripsi atau wisuda kayak itu tidak ada bedanya dengan yang skripsinya hasil transaksi atau komoditas perdagangan alias hasil beli, sebagaimana marak dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa sekarang. Bahkan, teman saya cerita, bahwa dia sering mendapatkan order proyek jadi skripsi, sehingga dia punya penghasilan sampingan yang lumayan besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya menjadi berpikir, mungkin ini menjadi salah satu sebab kemerosotan bangsa kita di negeri ini. Meski segalanya mendukung untuk maju (tanah surga, katanya), tapi tak maju-maju. Justru pelanggaran dan kerusakan yang datang makin komplek dan pesat, mulai dari korupsi, pertikaian, perselingkuhan, pornoan, dan sejenisnya. Karena para pemimpin, tokoh, atau sarjananya yang mengatur bangsa ini banyak yang pendidikannya hasil dari penipuan atau kebohongan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, biarlah saya tidak menulis di blog dulu atau bekerja selain proyek skripsi untuk beberapa minggu ke depan, tapi saya harus lebih konsentrasi menyelesaikan proyek skripsi ini. Sekaligus selalu berdoa semoga bisa selesai dengan hasil yang membawa berkah dan memuaskan, meski dari segi nilai akademis formal bukan kamelut atau bahkan lemah, &lt;i&gt;no problem&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Paling tidak, hasilnya alami hasil jerih payah saya sendiri. Dan, akan saya abadikan di blog saya juga sebagai contoh skripsi kualitatif fenomenologis yang mungkin meski hasilnya tidak memuaskan, tapi paling tidak menjadi kaca suatu hasil yang didapat dari perasan keringat seorang anak manusia. Menjadi sebuah misal kealamian dan kemandirian seorang sarjana meski dengan jalan yang merangkak-rangkak, jatuh bangun. Serta, semoga tidak dikopipaste oleh seseorang calon sarjana. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-920729379573529742?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/920729379573529742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/skripsi-lahirnya-sarjana-sarjana-palsu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/920729379573529742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/920729379573529742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/skripsi-lahirnya-sarjana-sarjana-palsu.html' title='Skripsi, Lahirnya Sarjana-Sarjana Palsu'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-6321762710164873509</id><published>2010-01-15T01:57:00.001-08:00</published><updated>2010-01-15T01:57:57.613-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Berjihad dan Berjilbab</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;(Budaya Manusia Menggeser Makna Ajaran Tuhan)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sebuah Trauma&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Teman saya diundang seorang temannya dalam sebuah acara khusus. Tiba di tempat undangan, teman saya merasa aneh kepada acara tersebut. Sebab, acara tersebut tidak seperti biasanya. Penuh batasan-batasan. Terkesan hanya untuk kalangan khusus plus bergaya unik. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Yaitu berjenggot semua, meski teman saya itu juga jenggotan, sedikit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Agenda acaranya juga unik. Konon, dalam acara tersebut dijelaskan hal-hal yang tidak seperti biasanya dalam agama yang ia pahami di zaman sekarang. Misalnya, orang kafir (bagi mereka tiap orang luar Islam) di negara ini harus membayar pajak kepada orang Muslim. Sebab Indonesia ini mayoritas terdiri dari orang Muslim. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Selain itu, dijelaskan konsep jihad dan misi pembentukan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Daulah Islamiyah&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Melihat pemandangan demikian, langsung berkelabat di benaknya orang-orang yang dituduh terorisme yang pernah sering disiarkan di stasion-stasion TV dan media cetak semisal Amrozi dkk dan Noordin M Top, meski mungkin program mereka bukan sejenis yang di TV itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Perasaan teman saya itu maklum. Bukan dia terlalu sensitif sentimentil terhadap orang yang berjenggot, akan tetapi paling tidak trauma dengan ulah mereka (teroris) yang sempat membuat manusia gelisah di muka bumi ini. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Dan, kebanyakan mereka memang berjenggot, bersorban, dan selalu mendengung-dengungkan prinsip jihad, meski tidak semua yang berjenggot, bersorban, dan mengumbar jihad, seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Rekonstruksi Daulah Islamiyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Dalam catatan ini, saya mencoba mengurai wacana kelompok seperti di atas yang memang tak pernah surut. Pertama, adakah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Daulah Islamiyah&lt;/i&gt;? Di zaman Rasulullah dan para sahabat itu memang ada dengan bentuk khilafah atau dinasti atau sistem sultan (kerajaan). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Tapi, setelahnya perlu kita pikirkan, bahwa dinasti itu hancur berantakan yang salah satu sebabnya adalah perebutan kekuasaan sekaligus para sultannya saat itu banyak yang bermaksiat; terlalu tamak terhadap kekuasan, harta, dan wanita. Kecuali pada saat Rasulullah saja yang betul-betul makmur sejahtera. Setelah itu, masa sahabat saja sudah terjadi konflik di mana-mana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Akhirnya kita berpikir, zaman tidak jauh dari Rasulullah saja &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Daulah Islamiyah&lt;/i&gt; hancur berantakan, apalagi zaman sekarang yang semakin kompleks. Bukan hanya orang kafir saja yang ada di luar Islam, tapi bahkan bermunculan agama-agama baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Maka dari itu, saya kira bukan tidak logis atau tidak mungkin untuk mendirikan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Daulah Islamiyah&lt;/i&gt; di zaman ini, meski di Indonesia saja, akan tetapi resikonya lebih besar dari pada kesejahteraannya. Kecuali lahir Rasulullah baru yang kedua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Kepastian Standart Kafir&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Kedua, bagaimanakah jihad? Yang jelas, mereka ingin berjihad menumpas orang yang di luar Islam sekaligus merongrongnya. Sedangkan yang tidak merongrong harus membayar pajak. Persoalannya, pihak kafir di sini harus jelas standartnya. Sebab, di zaman ini bukan hanya orang yang identitasnya di luar agama Islam saja yang merongrong Islam, tapi justru orang Islam itu sendiri yang suka merongrong, meski secara halus berupa pemikiran atau wacana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Selain itu, bakankah orang Muslim yang terus terang bermaksiat sejatinya juga merongrong Islam? Apakah mereka juga harus dijihadin (diperangin)? Kalau demikian, maka orang Islam yang demikian tidak sedikit jumlahnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Tidak usah jauh-jauh untuk membuktikan hal ini. Lihatlah generasi Muslim saja, lebih banyak manakah, yang tampak terang-terangan bermaksiat atau hidup glamor dari pada yang hidup sejati islami (zuhud) di zaman sekarang? Jangankan Muslim yang latar belakangnya sekuler, yang santri saja sudah banyak yang glamour dan hedonis itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Ini juga terjadi pada standart kafir yang wajib membayar pajak. Apakah tidak dimungkinkan terjadi kecemburuan sosial. Sebab, tidak semua orang Muslim dan non Muslim zaman ini paham akan konsep pajak dalam Islam ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Lagian, umat Muslim sekarang tak perlu lagi memajukan kesejahteraannya dari dana pembayaran pajak itu. Islam juga kenal bisnis dan teknologi yang pesat. Bahkan, kalau sampai memberlakukan konsep membayar pajak dengan dalih kesejahteraan bersama, malah makin menunjukkan kemiskinan komunitas Muslim saja di zaman yang canggih ini. Tak ada bedanya dengan penarikan amal di tempat-tempat umum untuk pembagunan tempat ibadah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Budaya Yang Kompleks&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Lebih problematis lagi, pola pikir manusia sekarang cenderung yang logis-logis, praktis-praktis, bebas, dan berani, serta budaya manusia menjadi makin kompleks. Akibatnya, budaya manusia mulai berani menggeser makna ajaran Tuhan (agama) itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Misalnya saja, berjilbab. Awal kalinya, Tuhan dan Rasul-Nya dengan tegas mengajarkan jilbab dalam kitab suci karena jilbab menjadi benteng sekaligus simbol kesucian dan martabat seorang Muslimat. Dan pada praktisnya, memang betul para lelaki waktu itu enggan menggoda para Muslimat berjilbab. Tapi bagaimana dengan yang sekarang? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sekarang, makna jilbab menjadi bergeser. Bukan menjadi simbol sekaligus benteng kesucian dan martabat seorang Muslimat, akan tetapi malah menjadi topeng kemaksiatan. Terus terang, saya tidak jarang menyaksikan di ponsel-ponsel bervidio adegan-adegan mesum yang dibintangi oleh gadis-gadis berjilbab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari saja, tak usah jauh-jauh, lihat saja di perguruan tinggi-perguruan tinggi Islam sekitar kita, di manapun. Memang mayoritas mahasiswinya berjibab, terlebih digalakkan oleh pemerintahan setempat untuk memakai jilbab, akan tetapi busana di bawah jilbab, tak ubahnya setengah telanjang. Lekuk-lekuk tubuhnya begitu jelas aduhainya. Maaf, membuat bulu roma saya sampai berdiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Kemudian, dulu, Jihadnya Rasulullah memang betul-betul diharapkan oleh seluruh masyarakat, baik Muslim maupun non Muslim. Karena betul-betul mendatangkan kesejahtaraan. Sekarang, jihad malah menakutkan masyarakat dunia. Di mana-mana masyarakat terancam bom yang katanya berjihad, dan pembakaran, kerusuhan, pertikaian yang konon cenderung akarnya karena tiap pihak agama atau kelompok kepercayaan saling mengaku benar sendiri, sehingga sama-sama memiliki konsep jihad menurut dirinya sendiri yang justru melupakan sisi kemanusiaanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Jihad Masa Kini&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Akhirnya, kalau boleh saya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;bermimpi&lt;/i&gt;, sekarang, kita tak perlu ruwet-ruwet dengan konsep jihad yang macam-macam. Apalagi ini kafir itu muslim; mendirikan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Daulah Islamiah&lt;/i&gt; atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Imamah&lt;/i&gt;. Itu terlalu jauh. Tapi, mulai dari diri kita sendiri, sekitar kita sendiri; Apakah kita betul-betul sudah ber-Islam sejati sekaligus manusiawi? Sudahkah kita menghayati ibadah-ibadah kita kepada Tuhan dan bertingkah saleh dalam kehidupan sosial sekaligus konsisten? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Kalau kita pateng beribadah kepada Tuhan, tapi tetangga kita masih kelaparan, putus sekolah, tak mampu mengobati penyakitnya, maka ibadah kita perlu dipertanyakan. Atau, kita sibuk-sibuk mengonsep jihad ini itu, tapi justru saudara terdekat kita, teman-teman kita, murid-murid kita, atau anak-anak kita, atau bahkan diri kita sendiri sejatinya hobi bermaksiat, jarang salat, berjilbab hanya gayanya, berbusana mengundang nafsu, dan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Maka dari itu, alangkah lebih luhurnya di sisi Tuhan dan manusia jikalau kita berteriak, ”Mari kita berjihad menumpas (bukan dengan pedang atau bom) kemiskinan, kelaparan, kebodohan, dan pengangguran. Dari pada kita berteriak, ” Mari kita berjihad menegakkan Islam, bunuh orang-orang kafir”. Bukankah ini jihadnya Rasulullah yang paling serius (berat)? &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;”Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan”&lt;/i&gt;, sabda Rasulullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Sebab, bukankah kemiskinan (baca: kemiskinan ekonomi dan akidah), kelaparan, pengangguran, dan kebodohon itu yang sejatinya menjadi sebab utama dari pada kekafiran di masa sekarang? Sekarang, kafir berubah lebih menjadi akibat, bukan menjadi sebab seperti di zaman Rasulullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-6321762710164873509?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/6321762710164873509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/berjihad-dan-berjilbab_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6321762710164873509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6321762710164873509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/berjihad-dan-berjilbab_15.html' title='Berjihad dan Berjilbab'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-2636630682784239358</id><published>2010-01-12T01:11:00.001-08:00</published><updated>2010-01-12T01:11:05.188-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Tuhan Semena-Mena dan Kebenaran Objektif</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Coperator%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Ada seorang teman saya. Dia tergolong masih belia dalam persoalan agama. Meski dia seorang santri yang lama mondoknya seperti saya, tapi dia tidak begitu memahami agama. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pertama, karena memang secara kognisi, kalau boleh dibilang, dia termasuk anak yang lemah dalam pelajaran keagamaan. Yang kedua, karena dia memang tidak begitu suka kepada kitab-kitab yang bernuansa keagamaan, apalagi literatur kearab-araban. Dia lebih suka membaca bacaan yang berbobot sekuler seperti logika dan filsafat, dan yang estetika seperti cerpen dan novel. Jarang sekali membaca literatur keagamaan kecuali hanya pelajaran di kelas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, pengetahuannya terkait persoalan agama tanggung-tanggung. Tapi, di samping kelemahannya itu, dia memiliki kelebihan yang lumayan bisa diakui dari pada santri yang lainnya, pemikiran logikanya luar bisa cekatannya. Sistematika tulisan dan bercakapnya sangat amat mengalir rapi sehingga bisa membuat orang terkecoh. Dia cerdas merangkai kata yang sistemik dan logis, sehingga membuat orang yang lemah logikanya hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seseorang yang secara kognitif pandai, anggaplah pengetahuan agamanya luas karena dia getol dalam membaca literatur keagamaan sekaligus pintar ngajinya tapi logikanya kurang, maka dia akan kalah. Sebab, dia tidak bisa menyampaikan segudang ilmunya itu secara sistemik logis, sehingga orang tidak dapat memahaminya. Akhirnya sama saja, punya ilmu tapi tak berguna. &lt;span lang="SV"&gt;Ilmunya tidak bisa disampaikan secara benar, orang sulit memahami pengajarannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun, bagi orang yang lihai ngomong, sistem dialognya mengalir teratur, rapi, dan logis, meski ilmunya pas-pasan, maka dia seakan tampak sebagai orang yang cukup berpengalaman dalam hal agama. Pengetahuan agamannya meski sedikit dapat disampaikan bahkan semakin berkembang. Orang akan mudah memahami pengajarannya dengan ilmunya yang sedikit itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Inilah nilai filosofi orang mengatakan, &lt;i&gt;”at-thoriqotu ahammu minal maddah”&lt;/i&gt;, metode itu lebih penting dari pada materinya. Logika adalah ilmu terapan, cara berbicara dan berdialog secara sistemik, teratur, dan jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Akhir-akhir ini, teman saya yang cerdas logikanya itu, mulai getol mendalami agama dari sudut logika dan filsafat. Oleh karena itu, buku bacaannya sekarang melulu tentang filsafat yang berbau agama. Lucunya, setiap menemukan kata-kata atau hipotesa-hipotesa menarik, yang menurutnya unik dalam agama, dia hapal dan dianalisa. Lalu akhirnya diekspresikan ke teman-temannya yang anggaplah luas pengetahuan agamanya tapi rigit dalam pemahamannya. Dia kerap bilang banyak orang memahami agama secara rigid dan esklusif tradisionalis. Sedangkan dirinya seakan-akan mengaku kelompok orang-orang Liberal, yang menyikapi agama secara fleksibel. Terlepas liberal dalam artian JIL.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Salah satu hipotesa paling hangat yang dia temukan adalah, kebenaran itu benar karena kebenarannya itu sendiri atau kebenaran itu benar karena diperintah Tuhan? Katanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang pertama, kebenarannya berarti sifanya objektif sehingga ada standart kebenaran yang bisa diakui secara objektif memang benar. Dan yang kedua, kebenarannya berarti bersumber dari kata atau keputusan Tuhan. Kalau kata Tuhan benar meski secara objektif salah ya tetap benar. Sehingga yang terakhir ini menunjukkan sifat Tuhan yang semena-mena. Kebenaran lahir secara subjektif Tuhan yang semena-mena. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dia sendiri meyakini yang pertama, bahwa kebenaran itu bukan karena Tuhan menganggapnya benar tapi karena esensi benar itu sendiri. Kalau yang pertama berarti Tuhan semena-mena. Dia tidak setuju itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dua hipotesa tersebut kalau saya boleh menilai adalah mengarah kepada, yang pertama, mengarah kepada kebenaran yang tidak dicipta Tuhan tapi ada sendirinya bahkan seakan lebih dahulu adanya dari pada Tuhan itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang kedua, lebih mengarah kepada kebenaran dicipta atau muncul dari pada Tuhan, sehingga Tuhan ada lebih dahulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dari pemikiran ini, akhirnya kalau makin dikejar akan bermuara kepada pertanyaan ekstrim, lebih dahulu manakah antara surga atau neraka dan Tuhan? kemudian, juga akan berkembang, lebih dahulu manakah kebenaran atau kesalahan dan sorga atau neraka? Ini akhirnya menjadi makin rumit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pernyataan hipotesis dan segala perkembangannya yang rumit tersebut cukup menggelitik hati saya, meski saya tidak begitu lihai berlogika &lt;i&gt;plus&lt;/i&gt; ditambah &lt;i&gt;entri&lt;/i&gt; pengetahuan tentang agama yang juga tanggung-tanggung. Akhirnya, saya coba menjawabnya dengan &lt;i&gt;sok&lt;/i&gt; berlogika juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kalau memang agama benar itu karena objektif kemudian Tuhan semena-mena, maka saya bertanya, pertama, adakah kebenaran yang diperintahkan Tuhan yang tidak objektif? Atau adakah kebenaran Tuhan yang menyimpang dari standart kebenaran esensial bagi manusia? atau gamblangnya lagi, adakah kebenaran Tuhan yang menyimpang dari standart kebenaran bagi manusia? Atau lebih ekstrimnya, adakah kebenaran Tuhan yang menyakitkan atau tidak selaras dengan kebaikan atau kesejahteraan manusia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kedua, adakah kebenaran standart bagi manusia yang keluar atau bahkan mungkin lebih benar dari pada kebenaran yang diperintahkan Tuhan? Misalnya apa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kemudian, terkait persoalan kedahuluan kebenaran atau kesalahan dan Tuhan, maka ini harus mengingat dulu seluk beluk lahirnya esensi kebenaran itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Anggapan kebenaran dan kesalahan itu adalah berawal dari dialog aktual antara Tuhan, Iblis, Malaikat, dan Adam (sebagai asul asul sejarah manusia juga). Darinya kemudian muncul penentuan istilah kebenaran dan kesalahan, yaitu kesalahan yang disebut ”sombong” (ini dilakukan Iblis) dan kepatuhan yang disebut ”taat” (ini dilakukan oleh Malaikat). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kesimpulannya, kesalahan ”sombong” muaranya adalah neraka dan kebenaraan ”taat” muaranya sorga. Akhirnya, dari sini kita menemukan bahwa Tuhan dulu yang ada dari pada kebenaran. Kebenaran adalah makhluq mati. Dia salah satu entitas ciptaan yang pasti ada penciptanya atau yang menetapkannya sebagai hukum dan standart. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Malah tidak logis kalau kebenaran ada dengan sendirinya. Disebut benar karena ada&amp;nbsp; yang mengakui atau menetapkan benar. Sehingga kebenaran standart harus ada yang menetapkannya yang lebih memiliki Maha Otoritas yaitu Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sebab, semua kebenaran memang berasal dari anggapan, tapi kalau semua orang meski tak punya otoritas saling berhak menganggapnya atau menetapkannya, maka bukan kebenaran standart namanya tapi kebenaran &lt;i&gt;”saenae udele dewe”&lt;/i&gt; . Akhirnya, tiap manusia sama-sama mengklaim benar sendiri. Akan kabur, mana sebetulnya yang disebut benar. Bayangkan saja apa jadinya kalau begitu. Dunia akan kacau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Oleh karena itu, untung Tuhan Maha kuasa, dan Maha memiliki otoritas yang memiliki hak primordial satu-satunya yang memutuskan standart kebenaran itu yang mana. Sehingga standart kebenaran menyatu berpusat kepadanya. Muaranya, kebenaran akan &amp;nbsp;sangat amat jelas dan kehidupan akan rapi&amp;nbsp; dan teratur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lalu ada pertanyaan berkembang. Kalau begitu, lebih dahulu mana antara kebenaran atau kesalahan dan sorga atau neraka?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya jawab, lebih dahulu sorga dan neraka. Sebab, keduanya adalah akibat dinamika kebenaran atau kesalahan sebagai sebab. Meski setiap akibat pasti datang setelahnya sebab. Kenapa demikian? Atau bukankah surga dan neraka diciptakan terlebih dahulu dari pada kebenaran atau kesalahan yang terbukti dengan berdiamnya Adam di surga. Sehingga apakah masuk akal akibatnya ada lebih dahulu dari pada sebabnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jawabanya, itulah kebesaran Tuhan. Ada dua hukum, hukum alam atau sebab akibat (kausalitas) dan hukum Tuhan. Hukum Tuhan dan alam berbeda jauh dengan hukum Tuhan. Hukum alam berjalan di atas sistem akal logika atau rasional, sedangkan hukum Tuhan lintas logika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menurut hukum logika, sebab pasti selalu ada dahulu dari pada akibat, sedangkan bagi hukum Tuhan bisa jadi akibat dahulu dari pada sebab semisal adanya surga atau neraka dahulu dari pada kebenaran atau kesalahan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Misal bentuk lainnya, secara hukum akal logika, kalau jatuh pasti ke bawah tapi ada fenomena jatuh ke atas. Juga, secara logika, manusia adalah hewan beranak yang berkaki dan bertangan sepasang, tapi pada fenomena tertentu banyak manusia yang tidak berkaki atau bertangan sepasang sekaligus yang tidak beranak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dengan perbedaan hukum itulah maka Tuhan dianggap Tuhan sang Pencipta yang Maha Kuasa. Tidak mungkin yang pencipta sama atau setara dengan apa yan dicipta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-2636630682784239358?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/2636630682784239358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/tuhan-semena-mena-dan-kebenaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/2636630682784239358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/2636630682784239358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/tuhan-semena-mena-dan-kebenaran.html' title='Tuhan Semena-Mena dan Kebenaran Objektif'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-8691562643888791358</id><published>2010-01-07T01:49:00.001-08:00</published><updated>2010-12-08T21:43:58.328-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Tuhanku Amat Logis</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdaviq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	mso-bidi-font-size:10.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya kerap sekali keder dengan ambisi saya. Bahkan tidak jarang antipati kepadanya. Saya amat sangat sering pesimis dengan cita-cita dan keinginan panjang saya. Padahal, saya tidak kurang cara, idola, penyemangat, dan segala hal yang menunjang semangat untuk berusaha mencapai cita-cita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di kamar, banyak saya pajang tokoh-tokoh sukses yang mashur untuk menyemangati saya sekaligus sebagai contoh atau tauladan untuk berkembang dan berubah. Ada gambar Gusdur dan Soekarno besa-besar. Karena keduanya tokoh sukses dan unik yang paling saya kagumi sepanjang sejarah. Andai ada Foto Nabi Muhammad saw mungkin beliau saya pajang besar-besar. Sebab, beliau orang termiskin satu-satunya sepanjang sejarah yang berhasil bermetamorfosis menjadi pemimpin dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Selain itu, saya juga jamak mengumpulkan kata-kata bijaksana yang memancing saya untuk selalu bersemangat. Tiap &lt;i&gt;ngedrop&lt;/i&gt;, saya membacanya. Saya tulis besar-besar di kamar saya dan menghiasinya agar saya selalu suka membacanya. Sekaligus saya taruh di tempat yang paling strategis sekiranya saya lebih sering membacanya tanpa niat dan persiapan segala macam. Seperti saya menempelnya di tembok yang sekiranya ketika tiap mau tidur mata saya langsung lurus kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Juga tidak kalah seriusnya, saya selalu mengumpulkan tulisan-tulisan orang yang menurut saya bagus dan berisikan motivasi-motivasi yang meyakinkan. Saya tidak pernah absen mengklipingnya, paling tidak membacanya hingga berkali-kali. Sebagai contoh bagaimana menulis baik sekaligus penyemangat. Sebab, salah satu ambisi panjang saya adalah saya mau menjadi penulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kira-kira kurang dari satu bulan yang berlalu, saya disemangatkan oleh sebuah tulisan tentang metode jitu menjadi penulis. Tulisan tersebut betul-betul menjadi magnet penarik keyakinan dan semangat saya untuk menulis. Tapi, lagi-lagi itu agaknya sudah mau pudar juga. Akhirnya, akhir-akhir ini terasa, saya mau menyerah dengan berbagai perasaan keder dan pesimis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Berkecamuk di dalam perasaan saya hal-hal yang macam-macam rupanya. Saya berpikir, kenapa saya lahir di dalam kemiskinan, sehingga dengannya setiap apa yang saya impikan tidak maksimal bahkan acapkali gagal. Dengannya gerak hidup saya tidak normal. Selalu tersendat-sendat. Apa salah saya. Dan apa bedanya saya dengan mereka-mereka yang lahir dalam kekayaan dan kesempurnaan sehingga mau apa saja tinggal ambil. Apakah saya banyak dosanya, jarang beribadah kepada Tuhan, atau mungkin malas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lalu, apakah mereka yang kaya-kaya dan sempurna tidak memiliki dosa dan tidak malas? Padahal sudah tidak kurang apa yang saya usahakan. Orang tua saya di rumah mulai pagi hingga petang memeras keringat di sawah; mereka bekerja tanpa hirau lelah, sejak dulu hingga detik ini. Bahkan tak jarang keduanya sakit berkat kelelahan. Keduanya tak pernah merasa yang namanya santai-santai atau bahagia secara sempurna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mereka juga selalu salat dan berdoa tiap malam. Namun, sampai sekarang orang tua saya tak kaya-kaya, uang selalu kekurangan, tiap hari bingung cari pinjaman hanya sekedar untuk makan, apalagi kalau sudah mau mengingirim saya uang untuk biaya sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sekali lagi, apa bedanya saya, bapak ibu saya, dengan mereka yang kaya-kaya, mewah, dan sempurna. Apakah belum sampai saatnya? Lalu sampai kapan? Apakah nunggu keduanya sampai mati? Jadi percuma saja tak bisa menikmati jerih payahnya di dunia ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Apakah ini yang disebut taqdir? Rasanya kalau begitu Tuhan itu Kejam. Atau yang disebut hikmah? Saya kira tak usah beralasan hikmah yang tak jelas. Terlalu lama menunggu hikmah. Sejak dulu hikmah sampai sekarang tak jelas-jelas bagi diri saya. Sekarang yang kongkrit-kongkrit saja, sudah cukup hikmahnya, hikmah yang saya inginkan saja. Saya dan Bapak ibu saya juga ingin kebahagiaan di dunia ini, bukan hanya untuk akherat. Sama seperti mereka yang bahagia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ya Tuhan, maafkan bila catatan saya ini menyakitkan Kamu. Paling tidak sudah saatnya Kamu menyingkap rahasia-rahasia ini, kalau ini memang rahasia&lt;/span&gt;M&lt;span lang="SV"&gt;u. Sudah cukup lama saya menunggu. Atau paling tidak Kamu jelaskan pada saya dengan caran&lt;/span&gt;M&lt;span lang="SV"&gt;u sendiri, apa dosa saya, dan bapak ibu saya. Tapi, Kamu tak mungkin merasa sakit hanya gara-gara ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sekali lagi perlu Kamu ketahui sudah lama saya dan Bapak ibu saya menderita. Kami ingin bahagia juga seperti mereka di dunia ini, juga di akherat. Dan, ini saya kira tidak merugikan diriMu. Tapi, bagi saya bisa menjadi kafir dan masuk neraka andai kami tidak kuat memikulnya. &lt;/span&gt;S&lt;span lang="SV"&gt;udah menderita di dunia masuk neraka di akherat. Apakah Kamu tidak kasihan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Termasuk, saya ingin punya sarana yang lengkap untuk menunjang ambisi saya menjadi penulis, saya ingin banyak uang, saya ingin laptop, dan sebagainya. Kecuali Kamu memang menginginkan saya jadi penulis tanpa segala macam usaha-usaha itu, tapi itu tidak masuk akal dan menyalahi hukum-hukumMu sendiri. Sebab, PesanMu pada alam ini, barang siapa yang berusaha dia akan berhasil. Saya masih percaya itu. Saya yakin itu.&lt;/span&gt; Karena ini yang lebih logis dan humanis.&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tuhan, Kamu memang aneh dan unik bagi saya. Tapi ingat, saya serba terbatas, tidak sepertiMu: saya bisa tidak sabar, saya bisa lelah, saya bisa sakit, dan saya bisa menyerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, mulai sekarang, saya ingin Kamu yang kongkrit-kongkrit saja, yang jelas-jelas saja, yang simpel-simpel saja, yang nyata-nyata saja. Sudah cukup bosan saya dengan rahasia-rahasiaMu atau hikmah-hikmahMu yang tak jelas juntrungnya, yang malah membuat orang miskin membenciMu, atau para Kiai dan ulamaMu mengaku suci sendiri, atau orang mewah yang bernikmat ria dan banyak dalih membela diri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tuhan, cukuplah saya tidak mampu melihat keindahan wajahmu. Cukup mata saya buta, telinga saya tuli, serta mulut saya bisu untuk hal yang itu saja. Selainnya, yang jelas-jelas saja, yang kongkrit-kongkrit saja, yang simpel-simpel saja, dan yang langsung-langsung saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Terakhir maafkan amat sangat, kalau saya misuh-misuh kepadaMu dengan catatan kecil ini. Hari ini betul-betul akan saya persaksikan kepada semestaMu. Bahwa eksistensiMu atau keberadaanMu amat sangat logis. Bahwa, saya pasti bisa. Kalau tidak, catatan ini, dunia ini, betul-betul akan menganggapMu tidak adil dan miskin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-8691562643888791358?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/8691562643888791358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/catatan-mengingatkan-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8691562643888791358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8691562643888791358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/catatan-mengingatkan-tuhan.html' title='Tuhanku Amat Logis'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-435504241792431007</id><published>2010-01-07T01:46:00.000-08:00</published><updated>2010-01-07T01:46:22.824-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Filsafat Cinta dan Dunia Maya</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdaviq%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Orang yang paling bahagia adalah dia yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita. Sebaliknya juga, orang yang paling menderita adalah orang yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita. Saya katakan demikian karena saya pernah mengalaminya sendiri sebagai seorang laki-laki yang normal dan masih remaja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya punya teman yang sedang puncak-puncaknya merasakan cinta itu. Tidak selamanya dia bahagia. Kadang menderita. Di samping itu, cintanya tergolong uniq. Uniknya, karena dia bercinta melalui dunia maya Face Book dan HP. Mulai dari kenal sampai sama-sama saling cocok dan jatuh cinta. Tak pernah ketemu secara langsung. Ketemunya di dunia maya itu juga tidak sengaja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sehingga, sebetulnya dia tidak tahu yang sebetulnya wanita itu. Meski sudah melihat fotonya melalui Face Book itu dan mendengarkan suaranya dari HP itu. Tiap saat keduanya telponan. Dan tiap saat pula keduanya bertatapan via Face Bookan. Hampir tiap waktunya dipenuhi dengan berhubungan &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bisa jadi semuanya palsu demi kepentingan tertentu, cinta. Mukanya yang menurutnya cantik di gambar bisa saja palsu. Suaranya yang menurutnya mengasikkan bisa saja juga palsu. Itu bisa saja terjadi. Tapi, bagi keduanya sudah tidak urus lagi. Keduanya sudah tenggelam dalam cinta. Padahal, menurut saya atau orang lain dia gila.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun, itu memang wajar, namanya jatuh cinta. Orang juga bilang, orang yang sedang dilanda asmara bisa menjadi buta. Buruk bisa tampak indah, atau sebaliknya, indah bisa tampak buruk. Itu kalau dipikir-pikir juga bisa masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Teman saya itu, tiba-tiba nangis sesenggukan dibarengi dengan kesan yang amat sangat kesal dan sial seraya misuh-misuh tapi samar-samar di pojokan kamar, di balik lemari bajunya. Saya kira ada apa, ternyata dia sedang menggenggap HP di tangannya. Akhirnya, saya menjadi ngerti bahwa dia sedang uring-uringan dengan orang di balik sana, wanitanya itu. Mungkin sedang ada masalah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Memandangnya saya menjadi tersenyum geli dalam hati sekaligus berpikir, &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; sampai-sampainya seperti itu. Memerkuat saya bahwa orang yang sedang dilanda cinta memang betul-betul bisa gila. Lupa daratan. Bukankah sudah jelas menurut pikiran saya, lawong wanitanya juga &lt;i&gt;ga&lt;/i&gt; tidak masuk akal. Lucu plus bodoh. Pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun, saya sadari juga bahwa cinta memang kerap tidak masuk akal. Kadang juga kita temukan saudara sama-sama saudaranya saling membunuh, hanya gara-gara rebutan wanita. Berapa banyak sebuah bangsa saling bentrok dengan bangsa lainnya hanya gara-gara cinta. Dan, ini memang sudah terjadi sejak zaman pertama kali sejarah manusia menginjakkan kakinya di planet bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Qabil dan Habil adalah manusia pertama kali dilanda asmara sekaligus hancur gara-gara wanita itu. Akhirnya, cinta dan wanita adalah kekacauan dan dosa awal kali manusia melakukannya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sejatinya, arah dan motif cinta banyak macam. &amp;nbsp;Ada yang arahnya kepada kedudukan, harta, Tuhan, orang tua, atau rekan. Tapi, seakan cinta lebih identik dengan wanita. Kalau orang sudah mengatakan cinta pasti akan langsung terbayang di kepalanya seorang wanita. Bagi yang laki-laki. Sedangkan bagi yang wanita berarti laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Motifnya juga beraneka ragam. Ada yang cinta karena kaya; ada yang cinta karena berpengaruh, ada yang cinta karena suaranya; ada yang cinta karena kesopanannya; ada yang cinta karena kemolekan tubuhnya atau seks; dan ada yang cinta memang karena kecantikan atau ketampanannya. Yang terakhirlah yang lebih diidentikan dengan cinta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Selain itu, ada yang bilang bahwa cinta itu relatif, dengan motif dan arahnya itu. Kemudian berkembang menjadi sebuah jargon bahwa ” Bukan cantik yang membawa cinta tapi cinta yang membawa cantik. Jamak kita temukan, ada wanita secara fisik dia buruk tapi kata seseorang dia sangat amat cantik sehingga dia mencintainya. Yang jelas, pasti, meski pada fisiknya dia jelek, ada suatu sisi yang membuatnya segalanya menjadi cantik bagi yang cinta, bisa karena bentuk tubuhnya, keindahan suaranya, atau gaya jalannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tapi sebaliknya, ada juga yang katakanlah sebenarnya secara fisik wanita itu amat sangat cantik tapi bagi orang tertentu dia menjadi paling buruk sedunia. Bisa jadi ada satu sisi yang membuatnya menjadi terburuk segalanya baginya, bisa jadi karena dia pernah disakiti atau ada perasaan sentimen, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Akhirnya, kalau cinta ini makin dirunut-runut kita akan tak terasa menerobos sampai kepada persoalan filosofis yang rumit tentang hakekat cinta, moral, dan estetika. Apakah indah itu karena kita cinta atau kita cinta karena indah. Atau, apakah indah itu karena memang dirinya sebagai objek yang indah atau karena subjek yang melihat menganggapnya indah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Entahlah, kita pikir sendiri-sendiri saja. Ambil saja satu contoh sebagai bahan pertanyaan yang lebih simpel dan praktis: Artis Luna Maya, siapakah yang bilang bahwa dia wanita jelek? Eksitensi kepribadian diri anda akan tercermin dari jawaban anda. Berhati-hatilah dengan cinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-435504241792431007?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/435504241792431007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/filsafat-cinta-dan-dunia-maya_07.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/435504241792431007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/435504241792431007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/filsafat-cinta-dan-dunia-maya_07.html' title='Filsafat Cinta dan Dunia Maya'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1549953261841611488</id><published>2010-01-01T08:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-03T07:43:08.642-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Interaksi Kiai, Masyarakat, dan Santri</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CkHoRrOzI%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CkHoRrOzI%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Yang saya tahu, kiai dan santri berbeda dalam strata&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;sosial. Yakni, kiai dipandang lebih tinggikedudukannya dari pada santri, sehingga kiai lebih terhormat dari pada santri.Bukan hanya lebih dari santri, dari presiden pun kiai bisa dipandang lebihterhormat, paling tidak di tengah kalangan masyarakat tradisional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Misalnya saja, antara Gusdur yang berbasis kiai danPresiden SBY. Orang-orang kalau ketemu SBY bersalaman dengan cara biasa, tapiketika ketemu dengan Gusdur meski sudah bukan presiden lagi, orang-orang akan &lt;i&gt;sungkem&lt;/i&gt;kepadanya; tangannya diciumi ketika bersalaman. Lebih-lebih warga NU.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Dunia kiai memang unik. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Arial;"&gt;Artinya, dunia kiai memilikinilai lebih dari pada status, profesi, atau gelar sosial lainnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Padahal, tidak ada hukumformal khusus yang melegitimasi gelar kiai, atau sanksi formal khusus bagiorang yang menyakiti kiai. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Begitu jugatidak ada disiplin akademis khusus mencetak alumni bergelar kiai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Menarikmengkorelasikannya dengan dunia wartawan, meski samanya dengan dunia kiai tidakadanya disiplin akademis khusus mencetak lulusan yang bergelar menjadiwartawan, para wartawan masih memiliki perilaku hukum formal khusus yangmelindungi profesi wartawan. Sekaligus ada sanksi formal khusus bagi orang yangmenggangu dunia wartawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Arial;"&gt;Sehingga, konon, para wartawan itu disegani oleh profesilainnya. Aparat keamanan dan hukum bisa segan kepadanya, bahkan presiden pun.Tapi, uniknya, wartawan sendiri, penulis yakin, akan segan kepada dunia kiai.Penulis lihat, ketika meliput di dunia kiai &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;wartawan tidak seenaknyabertingkah di depan para kiai. Paling tidak merasa ”tidak enak sendiri”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;eunikan itu biasadisebut dengan kharisma. Sayangnya, saking istimewanya kedudukan seorang kiaiditambah telah terdoktrin kuat di dalam jiwa masyarakat,&amp;nbsp; acapkali adakiai yang &lt;i&gt;mabuk daratan&lt;/i&gt;. Keistimewaan itu disalahmaknai oleh kiai itusendiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Arial;"&gt;Inilahkiai oknum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Arial;"&gt;Tidak ada bedanya dengan oknum pejabat yang menggunakanposisinya untuk keuntungan pribadi &lt;i&gt;an sich&lt;/i&gt;. Makanya jangan heran ketikaada kiai yang sibuk sendiri hanya dengan urusan politik atau jabatan misalnya,sedangkan para santri dan masyarakatnya terlupakan. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Dia telah tercerabut dari amanahprimordialnya&lt;span style="color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;sebagai tempat umat untukberpanut dan mencari ketenangan batin (&lt;i&gt;Central figur&lt;/i&gt; dan&lt;i&gt; problemsolver&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Ini menjadi salah satu motif bahwa akhir-akhir iniinteraksi kepercayaan dan ketakdiman masyarakat kepada kiai semakin mengabur.Seakan tidak ada bedanya lagi antara kiai dan yang bukan kiai. Di samping,banyak masyarakat biasa yang mulai berani berbusana ala kiai. Apalagi bilamusim-musimnya pemilihan umum atau pemimpin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Sekarang, lebih khusus terkait interaksi atau ikatanantara kiai dan santrinya, seorang kiai dalam nasehatnya mengkategorikannyamenjadi tiga macam. Pertama, interaksi ucapan (&lt;i&gt;alaqah lisaniyah&lt;/i&gt;). Disini ikatan atau hubungan santri dengan kiainya hanya sebatas ucapan di lisansaja, tidak tembus ke dalam hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Bisa dimisalkan,&amp;nbsp; seorang santri atau ustadz yanghanya manggut-manggut ketika di depan kiainya saja, tapi setelah berbalik diamembangkangi kiainya. Nesehat-nasehatnya tidak diindahkan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Indikasi dari santri atau ustadz jenis ini bisa dilihatdari, &lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;, bagi santri meski mondoknya lama atau kalau ustadzngabdinya lama, biasanya keluar-keluarnya dari pesantren tidak ada bedanyadengan masyarakat awam bahkan lebih tak karuan dari pada yang tidak pernahmenyentuh pendidikan pesantren sama sekali. Seakan-akan ilmunya tak membekassama sekali pada dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;, meski setelah keluar dari pesantren dia menjadi orangyang lebih tampak dan terkenal di tengah-tengah masyarakat dengan kehebatanilmunya, justru ilmunya itu mendatangkan kegelisahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Misalnya, bila jadi pejabat, pejabat yang koruptor; bilajadi cendikiawan, malah menyebarkan keraguan akidah bagi umat; dan bila jadikiai, kiai yang oknum di atas, kiai yang hanya bajunya saja. Inilah ilmu yangtidak barokah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Arial;"&gt;Kedua, interaksi pikiran (&lt;i&gt;alaqah aqliyah&lt;/i&gt;), yaituinteraksi sebatas akal pikiran saja. Interaksi logis atau pengajaran-pengajarankiainya sebatas terendap dalam pikirannya, tidak tembus ke dalam hati nuranidan perilakunya. Interaksi ini tidak ada bedanya dengan interaksi sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Arial;"&gt;Dan ketiga, interaksi hati (&lt;i&gt;alaqah qalbiyah&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Inilah sejatinyainteraksi atau ikatan dunia pesantren. Interaksi yang dibangun di ataskesadaran dan keikhlasan. Interaksi ini tidak terbatas ruang dan waktu.Interaksi yang membawa kesejukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Setiap saat dan di manapun sang santri dan sang kiainyaselalu &lt;i&gt;nyambung&lt;/i&gt;. Ketika sang santri taat, taat selamanya, bagaimanapunkeadaannya. Segala ilmu dan nasehat-nasehat yang diperoleh dari kiainya selalumewarnai segala dimensi kehidupannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Indikasinya bisa dilihat dari, santri atau ustadz jenisini tak perlu lama mondoknya, atau selalu dekat dengan kiainya, dan meskiilmunya sedikit tapi membawa kemaslahatan bagi masyarakatnya. Inilah yangdisebut ilmu barokah. Ilmu yang hanya didapat dari keikhlasan interaktif antarakiai dan santrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Arial;"&gt;Akhirnya, kita berharap menjadi bagian dari santri,asatidz, atau alumni para kiai yang memiliki &lt;i&gt;alaqah qolbiyah &lt;/i&gt;itu. Meski mungkinsecara struktur formal di pesantren atau di depan kiai kita tidak memilikikeistimewaan apa-apa, namun sebetulnya di kedalaman diri kita searah dan selalu&lt;i&gt;nyambung &lt;/i&gt;dengan &lt;i&gt;mimpi-mimpi&lt;/i&gt; para kiai itu (kiai sejati, bukanoknum). Dan, menjadi santri para kiai itu tak butuh di pesantren, tapi dimanapun kita berada serta siapa saja.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1549953261841611488?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1549953261841611488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/interaksi-kiai-masyarakat-dan-santri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1549953261841611488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1549953261841611488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2010/01/interaksi-kiai-masyarakat-dan-santri.html' title='Interaksi Kiai, Masyarakat, dan Santri'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-7848647021699659307</id><published>2009-12-25T08:15:00.001-08:00</published><updated>2009-12-25T09:13:01.412-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Mimpi, Tuhanpun Berproses</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C06%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mimpi. Pasti membacanya otak kitaakan mengarah kepada tidur. &lt;span lang="SV"&gt;Sebab,seperti biasanya, orang berbicara mimpi berarti orang berbicara tidur. Mimpijadinya selalu identik dengan tidur. Itu benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tapi mimpi di sini bukan berarti mimpi dalam tidur itu. Mimpi yang sayamaksud adalah mimpi yang bermakna konotasi. Yakni, mimpi yang berarticita-cita, ambisi, atau keinginan tinggi. Pengertian ini mengacu kepada katakiai saya di pesantren. Beliau sering menasehatkan kepada kami santri-santrinyabahwa kami harus memiliki mimpi-mimpi yang tinggi agar menjadi orang yangsukses dan bahagia di masa depan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kata mimpi itu kerapkali menghiasi nasehat-nasehat beliau, hampir di setiappertemuan, sehingga seakan-akan memiliki nilai motivasi tersendiri yang palingtinggi untuk para santrinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya ingat kata ini dan tergelitik untuk mengabadikannya dengan catatansederhana ini setelah saya dan dua teman saya tanpa sengaja membahasnya dikamar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di kamar asrama, saya memang hanya memiliki dua seorang teman, tiada lain.Satu kamar isinya cuma tiga orang. Dan kebetulan kami memang sudah saling akrabmeski sebelumnya tidak sekamar, apalagi satu kamar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Salah satu teman kami yang paling tua tiba-tiba keluar lebih awal dari Masjiddan masuk ke kamar duluan, sehingga saat kami masuk kamar dia sudah dudukduluan dengan posisi yang sangat strategis di depan komputer. Betul-betul tidakseperti biasanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Karena melihat hal yang menurut kami aneh itu, akhirnya kami menggojlognya,”Tumben tak seperti biasanya, serius banget di depan komputer kayak penulishandal aja”, gojlokan saya kepadanya. Teman saya yang satunya cumamenertawainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lalu, dia menanggapi saya dengan serius, ”E, saat sholat jamaah Magrib tadi,tiba-tiba muncul inspirasi bagus di otak saya untuk membuat cerpen. Saya pinginbisa nulis cerpen. Akhirnya saya langsung keluar dulu langsung menulis cerpendengan inspirasi yang berkelebat dalam sholat saya itu, takut keburu hilang.Saya iri kepada teman saya yang kuliah di Mesir, karya-karya cerpennya seringdimuat di majalah-majalah yang darinya dia bisa membiayai kuliahnya di sana.Cerpennya bagus. Sehingga saya jadi amat sangat pingin bisa cerpen juga.” Katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;mendengarnya kami yang dua orang cuma bisa tertawa cekikikan, sebab memangsebelumnya dia tidak pernah nulis sama sekali, kecuali ada tugas-tugas kuliah,apalagi nulis cerpen. &lt;i&gt;Ga’&lt;/i&gt; ada potongan dia pateng menulis cerpen.Demikian dalam perasaan kami sehingga seakan menjadi hal yang sangat amat lucu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tapi, di balik mulut saya yang cekikikan itu, saya sambil merenunginyadalam hati, apalagi kebetulan saya juga berambisi untuk jadi penulis, termasukmenulis cerpen, yang saya rasa selama ini saya tidak pernah berhasil. Saya merasasulit membuat cerpen. Tapi, setiap saya membaca cerpennya teman-teman yang masukdi media masa saya menjadi iri. Padahal, saya pikir mereka juga pernah sekelasdengan saya, dan sama-sama makan nasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sehingga, perasaan teman itu juga saya renungi menjadi singgungan sekaligusmotivasi tak terduga yang amat berharga bagi saya yang bermimpi jadi penulisjuga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Akhirnya, kami saling curhat tentang ambisi atau mimpi-mimpi itu. Diantara kamiada yang bermimpi kelak bisa membangun pesantren besar yang fenomenal,santri-santrinya berprestasi sedunia. Yang satu tadi juga bermimpi jadimotivator terkenal sekaligus bisnismen yang dermawan. Termasuk juga sayabermimpi, ingin menjadi penulis sejati, suatu hari media massa-media massa akandiwarnai dengan karya-karya saya yang fenomenal. Dengannya saya menyampaikanpengetahuan dan kebenaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kesimpulan akhir, meski terkesan agak materialistis, tapi bukan untuk itu,kami bersama bermimpi, suatu hari kami akan diundang oleh stasion televisi untukmenyemangati manusia tentang prestasi-prestasi kami yang fenomenal. Semisal acaraKick Andi yang menampilkan orang-orang yang prestisius fenomenal, sehinggamenjadi contoh bagi yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Setiap kami saling menjadi saksi bagaimana sepak terjang kami terkhususketika bersama di kampus, sehingga kami menjadi orang prestisius itu. Para penontonsaling terharu menyaksikan kami, seperti terharunya ketika Andrea Hirata dipertemukandengan gurunya Bu’ Muslimah yang terkisahkan dalam karya fenomenalnya, ”LaskarPelangi”. Ini mimpi kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dari itu saya menyadari, bahwa pasti tiap orang di dunia ini memilikimimpi-mipi itu. Ada suatu hal yang harus diraih di masa depannya. Masing-masingmemiliki rasa ingin sukses dan bahagia di masa depannya. Masa depan yangsungguh cemerlang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hanya saja dengan cara dan bentuknya yang berbeda. Ada yang bermimpi jadibisnismen kaya raya; ada yang bermimpi menjadi motivator terkenal; ada yang bermimpijadi pejabat tinggi; ada yang bermimpi jadi kiai, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Caranya juga berbeda, dari yang logis sampai yang mistis; ada yang melaluijalur sekolah sampai tinggi; ada yang dengan bekerja tanpa henti; ada yangmemperluas pengalaman dengan menjadi musafir; ada yang dengan mempebanyak dzikir;ada yang tiap hari berpuasa; bahkan ada yang bertapa di dalam gua; juga adayang tidur-tiduran saja. Pokoknya banyak macam mimpi dan caranya. Sungguh,hidup memang indah dan konpleks. Tuhan Maha Adil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di samping itu, kita tidak tahu mana yang akan berhasil dan gagal merangkaimimpinya itu. Sebab, yang terakhir ini menjadi urusan Tuhan yang akal kita sampaikapanpun tidak akan dapat mengurusnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Akhirnya orang bilang, ”Man purposeGod dispose”. Manusia bisanya hanya berusaha, Tuhan yang memastikan. tapI,Tuhan tidak &lt;i&gt;sa’ karepe udele dewe&lt;/i&gt;, orang Jawa mengatakannya, meski Dia bisamelakukan apa saja. Sebab, Dia tidak menyia-nyiakan hukum-Nya sendiri di duniaini, sekaligus mengajari manusia bahwa segala sesuatunya dalam hidup ini harusmelalui proses usaha, bukan sulap. Seperti halnya, Tuhan masih menciptakan bumiberproses sampai enam hari meski Tuhan bisa melakukannya dalam sekejap. Itulah proses,itulah usaha.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-7848647021699659307?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/7848647021699659307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/mimpi-tuhanpun-berproses.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/7848647021699659307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/7848647021699659307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/mimpi-tuhanpun-berproses.html' title='Mimpi, Tuhanpun Berproses'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-2336338699499013417</id><published>2009-12-25T08:14:00.001-08:00</published><updated>2009-12-25T10:06:13.883-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='OPINIKU Di KORAN'/><title type='text'>Filosofi Keterkenalan dan Maraknya Adegan Mesum</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CCLIENT%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C06%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kita bisa juga menyebut keterkenalan dengan kemashuran, ketenaran, danpopularitas. Kata terkenal bisa dinisbatkan kepada ”siapa” dan ”apa”.Terkenalnya siapa, tentu arahnya kepada manusia. Misalnya, Al-Ghozali terkenalsebagai filosof sekaligus sufi, D. Zawawi Imron mashur sebagai budayawan atausastrawan, Ulil Abshor Abdallah terkenal sebagai cendikiawan Muslim, Pak Sukkurterkenal sebagai pelawak, dan Miyabi pupuler di dunia sebagai aktris &lt;i&gt;hot&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Manusia terkenal tersebut tergantung dari keunikan, potensi lebih, atau kualitasunggul yang dimilikinya. Kualitas unggul ini yang membuat terkenal atau muncullebih dari pada yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Potensi lebih atau kualitas unggul itulah yang dimaksud dengan ”apanya yangterkenal”. Seperti, Rendra terkenal dengan syair-syairnya, Suharto terkenaldengan Kabinet Pembangunan dan gerakan militernya, SBY terkenal dengan ketegasandan disiplinnya, Quraisy Shihab mashur dengan tafsir Al-Misbahnya. Einsteinterkenal dengan teori relativitasnya, Darwin populer dengan teori evolusinya, KarlMarx populer dengan ideologi marxisnya, Noordin M. Top terkenal dengan aksiterorisnya, dan Julia Peres terkenal dengan tubuh seksi dan akting &lt;i&gt;hot&lt;/i&gt;nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Selain itu ”apa yang terkenal” bisa juga dinisbatkan kepada tempat, organisasi,pandangan, sistem, atau benda-benda. Seperti, Madura terkenal dengan kotasantrinya, kemashuran gerakan JIL, kemashuran sistem pendidikan Muallimin di pesantrenAl-Amien Prenduan, keterkenalan merek HP Blackberry, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang jelas, keterkenalan itu disebabkan oleh nilai lebih atau kualitas ungguldari pada entitas&amp;nbsp; lainnya, sehingga lebihtampak di atas lainnya. Bahkan, dibutuhkan atau dicari oleh yang lain meskisulit dijangkau. Oleh karena itu, keterkenalan kerap kali tidak memandangruang. Di manapun akan dijangkau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya pernah mengecatkan sepeda motor yang catnya terkelupas cukup parah kepadaseorang ahli ngecat yang sangat terkenal. Padahal tempatnya jauh dari keramaian,amat pelosok. Tapi dia punya &lt;i&gt;job&lt;/i&gt; yangsangat banyak sehingga harus antri.&amp;nbsp; Begitujuga saya pernah menjaitkan baju ke seorang tailor yang padahal tempatnya pedalaman,tapi jasanya amat laris. Dari mana-mana orang yang ingin menjaitkan pakaian pergikepadanya. Tentu semuanya karena kualitas hasilnya yang lebih baik dari pada kualitaslainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Memang, orang akan mencari kualitas yang lebih baik dalam persoalan apasaja, sehingga orang yang dapat menghasilkan sesuatu yang berkualitas lebih baikitu akan dicari orang dan terkenal. Orang akan rela lebih capek atau lebihmahal asal kualitas hasilnya lebih baik dan dapat diandalkan dari pada yang lainnya.Maka dari itu, sebenarnya gampang untuk menjadi terkenal. Tinggal mencipta sesuatuyang unik, nilai lebih, atau kualitas unggul pada entitas diri. Tapi, meskimudah tak sembarang orang bisa terkenal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Namun, keterkenalan ada dua warna: ada yang terkenal negatifnya. Seperti, NoordinM Top terkenal dengan aksi terornya. Dunia dibuat gelisah olehnya. Dan, aktris Miyabipopuler dengan akting &lt;i&gt;hot&lt;/i&gt;nya. Membuat moral dunia makin tak karuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ada juga kemashuran yang positif. Seperti, D. Zawawi Imron dengansyair-syairnya dan kiai Aa Gym dengan Manajemen Qalbunya. Hal inilah yang perlulebih diperhatikan; bagaimana bisa terkenal dan dengan apa terkenalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sebab, akhir-akhir ini nyaris terjadi kekaburan atau keterbalikan nilai disegala bidang; yang baik menjadi hal yang memalukan dan yang buruk justrumenjadi hal yang dibanggakan. Banyak orang yang bangga akan kemashurannyadengan hal-hal yang sebetulnya menurunkan derajatnya sebagai ciptaan Tuhan yangpaling mulya, membuatnya terhina. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Contohnya, di dunia selebriti atau muda-mudi kita. Pakaian yang justrumenutupi aurot mereka yang sebetulnya menjaga harga diri mereka sebagaiperempuan yang suci malah dianggap tidak gaul, kampungan, atau ketinggalan, danmenggerahkan. Mereka membanggakan diri memakai busana yang &lt;i&gt;bukak-bukaan&lt;/i&gt;secara vulgar, yang sejatinya menjadikan harga diri mereka menjadi murah bahkangratis. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kemolekan tubuhnyadipertontonkan dan diumbar di depan publik. Siapa saja boleh melihat kemolekantubuhnya, bahkan merasainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hal ini bukan hanya menjangkiti aspek busana tapi sudah merasuki karakter,pandangan hidup, dan perilaku mereka. Seperti, bergaul bebas dan berhubungan maksiatdi depan publik, gonta-ganti pasangan, mudah selingkuh, serta cerai suami istrimenjadi hobi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Anehnya, hal-hal negatif tersebut bagi yang lain terutama bagi generasimuda tidak hanya menjadi tontonan malah menjadi tuntunan dan tauladan dalamkehidupan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Fenomena ini bisa kita lihat tiap hari di media-media massa atau layar-layarkaca maupun di sekitar kita secara langsung. Nyaris mereka, baik yang berlatarbelakang religius apalagi yang sekuler tampil dengan gaya busana, karakter, danperilaku negatif memalukan tersebut. Mereka malah bangga dan menganggap semuaitu yang dapat mengangkat harga diri mereka karena telah pupuler atau mashur dimana-mana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Maraknya adegan mesum secara bebas di mana-mana, termasuk MercusuarBergoyang, bisa kita jadikan contoh dampak dari fenomena nilai yang semakinkabur dan semrawut tersebut; Tauladan Popularitas negatif menjadi rujukankehidupan zaman ini yang amat dibanggakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;i&gt;(Pernah dimuat di koran Jawa Pos Group Radar Madura, Kamis 24 Desember 2009 M)&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-2336338699499013417?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://mahmudstev.blogspot.com/' title='Filosofi Keterkenalan dan Maraknya Adegan Mesum'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/2336338699499013417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/filosofi-keterkenalan-dan-maraknya_25.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/2336338699499013417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/2336338699499013417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/filosofi-keterkenalan-dan-maraknya_25.html' title='Filosofi Keterkenalan dan Maraknya Adegan Mesum'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-4736559119349379786</id><published>2009-12-21T17:16:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T17:16:35.363-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Bela Diri dan Ego Manusia</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:10.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.1pt 1008.15pt;	margin:1.0in 70.9pt 113.4pt 70.9pt;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;Melihatpenampilan Bela Diri,&amp;nbsp; saya ingatbeberapa tahun yang lalu ketika saya belum kuliah di rumah. Sejak kecil, meskisekarang saya tidak ahli dalam praktik Bela Diri, saya betul-betul digodok samaBapak saya sendiri dengn latihan Bela Diri di rumah. Memang pada saat itu dirumah saya sedang aktif-aktifnya latihan Bela Diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Banyakorang tua muda berlatih kepada Bapak saya. Memang kebetulan saya punya Bapakyang sama orang dipercayai pintar Bela Diri. Entah sejarahnya apa &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; Bapak saya dipercayai seperti itu,apakah Bapak saya dulu pernah&amp;nbsp; tampil didepan masyarakat mempragakan keahlian Bela Dirinya, atau Bapak saya pernahtarung dengan orang dan menang disaksikan oleh masyarakat, saya tidak tahu itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tanpaniat mempromosikan keahlian Bapak saya, atau lebih jauh lagi perasaan sombongmengumbar kelebihannya, Alhamdulillah, saya sangat bersyukur punya Bapak, orangyang katakanlah meski tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali, maklumtermasuk orang kuno, masih memiliki keahlian yang jarang orang memilikinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Denganini, akhirnya saya semakin sadar bahwa masing-masing manusia pasti sama Tuhandianugrahi dengan kelebihannya sendiri yang sesuai dengan potensi dirinya.Sebab, dengan kelebihannya itu dia akan hidup sekaligus sebagai instrumenibadah kepada-Nya. Sehingga sangat amat muhal manusia tidak memiliki kelebihandalam dirinya, siapapun itu. Hanya saja persoalannya adalah disadari atau tidakkelebihan itu. Dan, diniatkan untuk ibadah atau tidak kelebihan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Misalnya,Bapak saya itu dengan keahlian Bela Dirinya, maka dikenal atau disegani orang.Sekaligus bila diniatkan untuk ibadah, maka dia akan dapat pahala setiapmengajari para muridnya. Dengan pelatihan Bela Diri itu juga Bapak saya bisaberdakwa atau menolong orang dari aniaya orang lain yang jahat. Begitu jugamurid-muridnya, dengan Bela Diri dari Bapak saya itu, mereka bisa menjaga danmelindungi dirinya dari aniaya fisik orang lain, sekaligus bisa membela danmelindungi orang lain. Kan ini sebuah amal yang amat manusiawi dan mengandungpahala?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Bahkan,konon, para ulama membela dan melindungi Islam dan Indonesia ini daripenjajahan dengan keahlian Bela Diri itu. Tanpa keahlian itu amat sulit sekalimereka bisa menang dalam perang. Akhirnya, Islam dan Indonesia bisabereksistensi di negri ini sampai sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tapi,Bela Diri di zaman sekarang maknanya berubah, entah semakin diperluas ataudiselewengkan. Pertama, Bela Diri tidak hanya sebagai membela diri dari aniayaorang, tapi menjadi lebih tampak dan populer sebagai momen olah raga danturnamen atau perlombaan. Bahkan turnamen antar Negara. Sering kita dengaristilah PON, SEA GAME, Olimpiade, dan istilah lainnya. Ada yang menang dan adayang kalah. Yang menang dapat hadiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Kedua,menjadi momen hiburan. Kita sering melihat di acara atau even tertentupenampilan-penampilan Bela Diri. Dan biasanya dibumbui dengan atraksi-atraksiilmu kebatinan. Seperti biasanya ketika acara-acara peringatan 17 Agustusan,ada yang menarik mobil besar dengan rambutnya, ada yang dililiti letusanmercon, ada yang memecahkan batu bata hanya dengan kepalan tangannya, ada yangdilindas mobil, ada juga yang makan beling, dan ada juga yang dibacok tidakmampan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tapiitu masih mendingan, justru menjadikan makna dan fungsi dunia Bela Diri lebihkaya, dari pada Bela Diri disalahartikan atau disalahgunakan. Dibuat menganiayaorang, benteng kekuatan jaringan mavia, lebih-lebih terorisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Pastipembaca akan bertanya-tanya tentang istilah Bela Diri ini. Bela Diri yang sayamaksud adalah Bela Diri secara konotasi. Artinya, Bela Diri bukan arti dalamkamus yang maknanya berdekatan dengan melindungi diri atau menjaga diri,sehingga tidak ada makna khusus. Kalau begitu berarti menjaga diri ataumelindungi diri pada umumnya yang siapa saja pasti memilikinya. Siapa sajapasti membela dan menjaga dirinya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tapi,Bela Diri di sini adalah kesatuan kata yang menjadi istilah, nama, atau sebutankhusus untuk sesuatu, yaitu dunia persilatan. Maka Bela Diri di sini berartisilat. Ketika orang berbicara “latihan Bela Diri” berarti “latihan silat”,bukan semata latihan menjaga diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Jadi,Bela Diri di sini berarti lebih khusus dinisbatkan kepada aktifitas orang yangmembela dirinya dengan teori, metode, dan seni khusus yang disebut dengansilat, sehingga membutuhkan latihan khusus. Maka, bila dinisbatkan kepadaistilah denotasi pada umumnya, Bela Diri atau silat adalah salah satu caraorang untuk membela dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Makadari itu, orang yang tidak memiliki keahlian silat, bukan berarti tidak bisamembela dirinya, tapi membela dirinya dengan caranya sendiri selain dengansilat itu. Entah dengan bom, pistol, tulisan, argumen, algojo, alibi, dansebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tiaporang pasti membela dirinya dengan cara-cara yang beraneka ragam itu; yanglayak semestinya atau yang tidak semestinya; Baik dalam posisi salah ataupunmemang dalam keadaan benar. Yang jelas, orang pasti tidak akan mencelakaandirinya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Nah,akhir-akhir ini banyak jenis cara dan trik pembelaan orang untuk dirinya yangunik, bahkan aneh. Anehmya, banyak orang yang sudah nyata-nyata bersalah masihmembela dirinya sebagai pihak yang benar sampai ngotot-ngototan dengan segalacaranya. Anehnya lagi, meski sudah jelas demikian pembelaannya bisa lolosmulus, selamat dari tuntutan dan hukuman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Disamping itu, banyak yang mereka pada hakekatnya wajar dan semestinya membeladiri karena benar, malah terjerat hukuman. Pembelaannya acap kali gagal total.Dasar manusia, banyak yang terlalu egoistik dengan kediriannya. Selalu merasabenar sendiri. Hebat sendiri. Sehingga harus selalu menjaga diri bagaimanapunkeadaan dan caranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Yanglucu, ketika alam juga merasa harus membela dirinya, dari keserakahan manusia.Alam selalu diekspoitasi dan diambil untungnya saja. Bahkan, untungnya justruhanya untuk sombong-sombongan, dan berfoya-foya tanpa ingat terhadap ketenangandan kelestarian alam itu sendiri. Sehingga menuntut alam untuk membela dirinyadengan ketidaksabarannya dan bala tentaranya; tsunami, banjir, gempa bumi,luberan lumpur, badai, dan yang lebik marak lagi, &lt;i&gt;global warming&lt;/i&gt;. Tak perlu silat-silatan. Baru manusia merasa dansadar bahwa dirinya lemah. Akhirnya, tinggal ratapannya, tinggal tangisannya,dan tinggal ceritanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-4736559119349379786?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/4736559119349379786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/bela-diri-dan-ego-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4736559119349379786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4736559119349379786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/bela-diri-dan-ego-manusia.html' title='Bela Diri dan Ego Manusia'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-8453583041694402946</id><published>2009-12-20T06:30:00.001-08:00</published><updated>2009-12-23T22:54:17.222-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Yang Terhormat dan Yang Terhina</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Betapa bahagianya jadi anaknyaseorang kiai, masih muda sudah dihormati. Sama seperti halnya anaknya seorangraja, pejabat tinggi, dan kalangan atas lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Siapapun ingin jadi orang yangterhormat meski tanpa niat ingin dihormati. Sebab, orang terhormat itu hargadirinya tinggi. Ibarat barang komoditas yang kualitasnya tinggi, sehinggaharganya mahal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Saya sempat merasa sakit hatiditambah sial ketika ada seorang membedakan anaknya orang awam yang biasadisebut darah merah dengan anaknya kiai atau anaknya orang yang berkududukantinggi yang sering disebut darah biru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Anaknya orang awam diibaratkanbuah jagung, sedangkan anaknya kiai atau kalangan atas diibaratkan buahmanggis. Maksudnya, apa sih enaknya buah jagung dari pada enaknya buah manggis.Buah manggislah yang dicari-cari sedangkan buah jagung, paling tidak, untukmakanannya ayam. Kemudian, kalau sudah buah jagung ya tetap buah jagung tidakmungkin berubah menjadi buah apel.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Lebih gamblangnya, apa sihkelebihan anaknya orang awam. Kalau sudah keturunan orang awam ya tetap sajaawam, tapi kalau sudah keturunan orang atas tetap saja jadi orang atas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Selain ibarat itu, ada jugaibarat lain yang tidak kalah sadisnya. Yaitu, seorang anak ibarat pepohohan danbuahnya. Buah suatu pohon jatuhnya tidak jauh dari bawah pohonnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Artinya, kalau anak seorang kiaipasti tetap saja jadi kiai, tidak jauh dari kekiaiannya itu. Sedangkan anaknyaorang awam akan tetap awam, tidak jauh berubah dari keawamannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Bagi saya, ibarat-ibarat atauanggapan-anggapan di atas adalah sadis. Tak kalah sadisnya dengan teroris yangmelakukan pengeboman di tempat-tempat orang yang tak bersalah apa. Ibarattersebut sama halnya membunuh peradaban luhur manusia pelan-pelan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Betapa tidak, peradaban manusiatumbuh karena adanya persatuan diantara sesama manusia. Persatuan membutuhkanperasaan sama, rasa kemanusiaan, senasib, dan seperjuangan. Sehingga timbullahrasa saling mencintai, menyayangi, menghormati, menghargai, dantolong-menolong. Yang akhirnya timbullah persatuan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, perubahanmanusia dari tidak berperadaban luhur (jahiliyah) menjadi kehidupan yangberadab dan berkembang sampai sekarang adalah karena kesadaran dan persatuanmanusia semua, baik yang miskin dan yang kaya, baik yang bodoh maupun yangpintar, baik yang kuli maupun yang raja. Semuanya berbaur menjadi satu barismembangun peradaban yang lebih luhur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Dari logika motif dan prinsipperadaban ini, bukankah ibarat-ibarat di atas arahnya akan menghancurkanperadaban manusia itu sendiri. Sudah pasti. Sebab, ibarat itu akan menimbulkankecemburuan sosial&amp;nbsp; yang begitu mendalam,sehingga muaranya akan menggali jurang perbedaan dan keterpecahan prinsipilyang makin mendalam di antara manusia. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Manusia menjadi terkotak-kotak,yang awam terhina dan yang berkedudukan tinggi yang dihormati. Belum lagiperbedaan motif ekonomi, yang miskin dan yang kaya. ini yang mulai terjadi dizaman ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Di samping itu, itu dapatmembunuh semangat kreatifitas generasi muda. Sebab, mereka yang berasal darikasta awam akan merasa keder (tidak PD) sebagai kalangan jagungan yang akantetap menjadi jagung sebagai makanan ayam yang takkan pernah berubah. Merekaterhargakan dengan harga mati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Tapi, bagaimanapun semua ituperlu dikoreksi kembali, bahwa manusia tidak sesederhana ibarat-ibarat atauanggapan-anggapan itu. Manusia bukan batu yang tak bisa berubah. Manusia tidaksesedehana entitas lainnya. Manusia makhluq kompleks sekaligus unik, tak bisaditebak-tebak. Akal boleh menganalisa dan menilai manusia, tapi tidak bisamemastikan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Maka dari itu, Banyak kitajumpai,&amp;nbsp; anaknya tani miskin jadi kiaibesar, anaknya nelayan amatiran jadi pejabat tinggi, anaknya penjual rujakpedalaman jadi cendikiawan terkenal. Dan sebaliknya, anaknya manusia yangberkedudukan tinggi, pejabat tinggi atau kiai, tidak sedikit yang jadi tukangtogel, perampok, penipu, pengangguran, bahkan jongos di jalanan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Mari kita merenungi sejarahKan’an orang paling sombong sedunia, meski anaknya Nabi, berdarah biru, katanya,dia tenggelam bersama orang-orang kafir, neraka sebagai kandangnya. Di sampingitu juga si Qorun dan Firaun orang yang sok angkuh sedunia, bukan hanya anakistrinya yang hancur, dirinya dan semua yang dimilikinya ludes tak tersisa,lenyap di telan bumi, neraka juga tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Terakhir mari kita hayati sejarahRasulullullah, orang paling prestisius sepanjang sejarah, manusia. Raja semestaalam (bukan hanya dunia). Beliau bukan hanya berasal dari keluarga miskin tapiyatim piatu, ingin makan sepiring nasi saja masih harus nyari upah kembalaankambing kepada pamannya sendiri. Beliau hidup penuh derita sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Akhirnya, kita berpikir, anaknyaNabi saja musnah terhina di dalam Neraka, apalagi hanya anaknya kiai ataupejabat tinggi. Dan, semoga Rasulullah sebagai orang miskin yang yatim piatutidak tersinggung terhadap ibarat-ibarat sadis tak manusiawi di atas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Catatan ini adalah manifestasidari sakit hati saya sebagai anaknya orang tani miskin papa terhadapibarat-ibarat sadis di atas. Sekaligus, berangkat dari, teman-teman sayakemaren cerita bahwa anaknya kiai pasti dapat (nikah) anaknya kiai. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Konon, mayoritas kiai mencarikanjodoh untuk anaknya dengan anaknya kiai juga, bahkan meski anaknya tidak salingmencinta. Mereka egois untuk berjodohan dengan anaknya orang selain garis kiai,apalagi anaknya orang tani miskin, meski anaknya orang miskin itu tidak kalahhebatnya dengan yang anaknya kiai. Fenomena ini lebih sering terjadi, katanya.Entah, apakah ini benar atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Yang jelas, saya juga tidaksedikit melihat fenomena itu. Tapi, mungkin justru perasaan saya ini yangsalah, karena saya orang miskin, pikirannya juga sempit. Padahal sebetulnya,anaknya kiai memang seharusnya dapat anaknya kiai, agar garis kekiaiannya dapatdilestarikan; agar darah birunya tidak bercampur dengan darah merah; atau, agarkehormatan dan kesuciannya tetap dapat dipertahankan. Mungkin saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-8453583041694402946?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/8453583041694402946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/yang-terhormat-dan-yang-terhina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8453583041694402946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/8453583041694402946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/yang-terhormat-dan-yang-terhina.html' title='Yang Terhormat dan Yang Terhina'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-1159790157314633875</id><published>2009-12-19T19:13:00.001-08:00</published><updated>2009-12-19T19:13:45.492-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SYAIR-SYAIRKU'/><title type='text'>Aku Mencemburuimu</title><content type='html'>&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Melukis&amp;nbsp;wajahmu&amp;nbsp;di&amp;nbsp;alam&amp;nbsp;dadaku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Adalah&amp;nbsp;mimpi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;merampas&amp;nbsp;malam-malamku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Aku&amp;nbsp;mengerti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Aku&amp;nbsp;tak&amp;nbsp;mampu&amp;nbsp;melukis&amp;nbsp;wajahmu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Dengan&amp;nbsp;sisa&amp;nbsp;titik&amp;nbsp;tinta&amp;nbsp;buram&amp;nbsp;ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Tapi&amp;nbsp;aku&amp;nbsp;harus&amp;nbsp;bagaimana&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Kerinduan&amp;nbsp;selalu&amp;nbsp;menggempurku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Dari&amp;nbsp;segala&amp;nbsp;arah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Sementara&amp;nbsp;wajahmu&amp;nbsp;menjadi&amp;nbsp;rebutan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Mataku&amp;nbsp;jatuh&amp;nbsp;seketika&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Alamku&amp;nbsp;terbakar&amp;nbsp;tanpa&amp;nbsp;nyala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Tintaku&amp;nbsp;mengering&amp;nbsp;tak&amp;nbsp;tersisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Aku&amp;nbsp;harus&amp;nbsp;bagaimana&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Akhirnya,&amp;nbsp;aku&amp;nbsp;hanya&amp;nbsp;bisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Mencemburuimu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Dengan&amp;nbsp;sepi&amp;nbsp;ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Kampus&amp;nbsp;Hijau,&amp;nbsp;20&amp;nbsp;12&amp;nbsp;09&amp;nbsp;M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-1159790157314633875?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/1159790157314633875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/aku-mencemburuimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1159790157314633875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/1159790157314633875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/aku-mencemburuimu.html' title='Aku Mencemburuimu'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-6377040291850452142</id><published>2009-12-19T19:12:00.000-08:00</published><updated>2009-12-19T19:12:09.367-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SYAIR-SYAIRKU'/><title type='text'>Malam Senyap</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Malamnya&amp;nbsp;senyap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Aku&amp;nbsp;harus&amp;nbsp;merayap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Berharap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Mencari&amp;nbsp;serpihan&amp;nbsp;hati&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Bertebaran&amp;nbsp;di&amp;nbsp;jalan-jalan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Kasihlah&amp;nbsp;aku&amp;nbsp;kekuatan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Tinggalkan&amp;nbsp;ketakutan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Biarkan&amp;nbsp;aku&amp;nbsp;berani&amp;nbsp;mencintaimu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Dengan&amp;nbsp;sisa&amp;nbsp;hati&amp;nbsp;ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Kampus&amp;nbsp;Hijau,&amp;nbsp;20&amp;nbsp;12&amp;nbsp;09 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-6377040291850452142?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/6377040291850452142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/malam-senyap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6377040291850452142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/6377040291850452142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/malam-senyap.html' title='Malam Senyap'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-7215464480997149761</id><published>2009-12-19T19:09:00.001-08:00</published><updated>2009-12-19T19:09:25.704-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SYAIR-SYAIRKU'/><title type='text'>Sunyiku Bahasaku</title><content type='html'>&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Senyap&amp;nbsp;malamnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;menerobos&amp;nbsp;peperangan&amp;nbsp;di&amp;nbsp;dadaku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Aku&amp;nbsp;harus&amp;nbsp;beranjak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Menabrak&amp;nbsp;kobaran&amp;nbsp;api&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Membuat&amp;nbsp;mata&amp;nbsp;sil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;u&amp;nbsp;terpejam&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Tua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Wajahku&amp;nbsp;semburat&amp;nbsp;pasi&amp;nbsp;ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;ingin&amp;nbsp;membahasakanmu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;meski&amp;nbsp;dengan&amp;nbsp;setitik&amp;nbsp;tinta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;yang&amp;nbsp;sudah&amp;nbsp;pucat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Sunyiku&amp;nbsp;adalah&amp;nbsp;bahasaku&amp;nbsp;untukmu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="0"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size: 12pt;"&gt;Kampus&amp;nbsp;Hijau,&amp;nbsp;20&amp;nbsp;12&amp;nbsp;09&amp;nbsp;M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-7215464480997149761?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/7215464480997149761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/sunyiku-bahasaku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/7215464480997149761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/7215464480997149761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/sunyiku-bahasaku.html' title='Sunyiku Bahasaku'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-4791669985380416662</id><published>2009-12-18T07:33:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T07:33:02.656-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SYAIR-SYAIRKU'/><title type='text'>Darah Di Indonesiaku</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bersama sepi aku ingat&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Indonesiaku selalu sekarat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tapi bahagia di bumi surga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Para raksasanya mengusir luka-luka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Yang makin menganga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sambil tertawa menjadi tontonan dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Itu menariknya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Raksasanya terus bilang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mari kita keringkan luka-luka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dengan gagah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Mulutnya terbuka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tak kalah nganganya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sementara di belakangnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Banjir darah yang amis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Makin hari makin banjir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ke sudut kota-kota&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ke pelosok desa-desa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ke dada-dada negri ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sungaiku penuh darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Hutanku penuh darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Samudraku penuh darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Surgaku menjadi darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Para raksasa malah makin&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bergaerah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Katanya, memang hobi darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;18 12 09 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-4791669985380416662?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/4791669985380416662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/darah-di-indonesiaku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4791669985380416662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/4791669985380416662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/darah-di-indonesiaku.html' title='Darah Di Indonesiaku'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-3717492150624823008</id><published>2009-12-17T19:26:00.000-08:00</published><updated>2009-12-17T19:38:25.888-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SYAIR-SYAIRKU'/><title type='text'>Mata Yang Gerhana</title><content type='html'>Pejamkan mata kera-keras&lt;br /&gt;deru hati bertempur ganas&lt;br /&gt;siang di kepala malam segala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan tak terhingga&lt;br /&gt;kurindukan angkasa luas pada dada&lt;br /&gt;siang di kepala yang malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku iri pada mereka&lt;br /&gt;di pagi hari semangat meneguk embun&lt;br /&gt;mengejar mentari yang segar tersenyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mumpung hatiku belum senja&lt;br /&gt;ku tak mau batu sendiri&lt;br /&gt;berbaring di atas sutra ini&lt;br /&gt;dengan mata yang gerhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Ingin membangun surgamu di bumi&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-3717492150624823008?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/3717492150624823008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/pejamkan-mata-kera-keras-deru-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/3717492150624823008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/3717492150624823008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/pejamkan-mata-kera-keras-deru-hati.html' title='Mata Yang Gerhana'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-676604330384483032</id><published>2009-12-17T19:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-17T19:05:08.856-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Filosofi Keinginan dan Cita-Cita</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dalam hidup ini,pasti manusia memiliki sebuah keinginan, ambisi, cita-cita, dan lebih nyastrasedikit disebut mimpi-mimpi. Baik secara masa pendek maupun masa panjang.&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Masa pendekmisalnya, ingin beli baju baru, ingin beli sepeda motor, ingin beli mobil, inginpunya perusahaan, atau bahkan ingin punya pesawat pribadi. Yang masa panjangmisalnya, ingin menjadi insinyur, ingin menjadi pejabat, ingin menjadi dokter,ingin menjadi mentri, atau ingin menjadi presiden.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Masa panjangpendeknya sebuah keinginan itu relatif, tergantung dari pada latar belakangpribadinya. Bagi orang yang kaya raya, beli mobil itu bukan lagi menjadikeinginan, tapi kebiasaan. Mobil sudah ada. Ingin yang lebih baru kapan saja,tinggal pergi ke dieller mobil tanpa menunggu hari. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tapi, bagi yangkondisi ekonominya biasa-biasa saja, beli mobil menjadi sebuah keinginan yangmasanya bisa panjang, bahkan menjadi cita-cita seumur hidupnya. Apalagi bagiyang miskin, bisa jadi bukan menjadi keinginan lagi tapi mimpi di siang bolongatau-meminjam istilahnya Paterpen- khayalan tingkat tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Oleh karena itu,menjadi terkesan, antara istilah keinginan dan cita-cita, keinginan lebihbersifat fisik dan jangka pendek, seperti beli-beli di atas. Tapi, kalau cita-citacenderung bersifat nonfisik dan lebih memasa depan. Biasanya terkait denganprofesi dan posisi, seperti dokter atau pejabat. Karena bagi siapapun ini tidakbisa langsung dicapai. Tidak seperti keinginan fisik yang bisa langsung dicapaisesuai dengan latar belakang ekonominya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Oleh karena itu,anak di sekolah ditanya sama gurunya dengan lebih sering menggunakan ungkapan, kalausudah besar cita-cita kamu apa. Bukan ditanya dengan, kalau sudah besar kamuingin apa? Kecuali pada ungkapan, kamu ingin beli buku apa, tidak mungkinbilang, kamu bercita-cita beli buku apa. Ungkapan yang pertama lebih pantas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tapi bagi orangmiskin, bisa jadi yang sifatnya fisik menjadi cita-cita kalau memang jangkasampainya butuh waktu yang panjang dan perjuangan berat. Seperti orang miskiningin beli mobil. Maka, pantas saja ketika ditanya, cita-cita kamu apa? laludia menjawab, cita-cita saya nanti beli mobil mewah. Tapi ini tidak pantas bagiyang kaya raya, karena langsung bisa dapat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Sehingga kalaudipikir-pikir, keberhasilan dalam bercita-cita itu tergantung dari usaha dankeseriusan pribadi seseorang, bukan tergantung dari melimpahnya harta uang atautingginya posisi sosial. Bercita-cita menjadi dokter siapa saja bisa, meskipunyang miskin papa. Asal punya kemauan tinggi, proses panjang, dan usaha keras. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ini banyakterbukti. Misalnya, anaknya nelayan miskin jadi kiai besar dan terkenal,anaknya orang tani amatiran menjadi pejabat tinggi terkenal, anaknya penjualrujak di pedalaman jadi cendikiawan terkenal, serta banyak yang lainnya. Dan,justru tidak sedikit anaknya orang yang kaya raya jadi gelandangan, pecundang,pengangguran, dan sejenisnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Inilah keadilan Tuhan,mencipta cita-cita bagi siapa saja. Semuanya sama-sama memiliki peluang untukbercita-cita tinggi. Oleh karena itu, orang bilang, bercita-citalah setinggilangit. Artinya, kalau sekalian bercita-cita jangan nanggung-nanggung soalnyacita-cita itu masa depan yang menentukan bahagia tidaknya seseorang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ini memilikimakna filosofis. Yaitu, jika cita-citanya amat tinggi, taruhlah misalnya inginmenjadi presiden, &lt;st1:state _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;paling tidak gagalnya jadi mentri. Atau, bercita-cita mau menaiki puncakHimalaya, &lt;st1:state _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;jatuhnya paling tidak di gunung merapi, masih tinggi. Tapi kalau cita-citanyananggung, misalnya bercita mau jadi kepala desa, ya apesnya jadi rakyat biasa.Atau, bercita mau menaiki puncak bromo, maka jatuhnya ke lembah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Jadi, kalaubercita-cita harus amat sangat tinggi sekali, sehingga paling tidak kalau gagalmasih tinggi. Tapi kalau cita-citanya nanggung-nanggung atau tidak tinggi, yajatuhnya rendah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-676604330384483032?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/676604330384483032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/filosofi-keinginan-dan-cita-cita_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/676604330384483032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/676604330384483032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/filosofi-keinginan-dan-cita-cita_17.html' title='Filosofi Keinginan dan Cita-Cita'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-3185128418022348224</id><published>2009-12-13T20:09:00.000-08:00</published><updated>2009-12-13T20:09:15.763-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Pemulung Dan Hidup Kaya Raya Bahagia</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/SyW6DTiLBSI/AAAAAAAAAXg/a8w8JGeThZQ/s1600-h/Pengemis.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/SyW6DTiLBSI/AAAAAAAAAXg/a8w8JGeThZQ/s200/Pengemis.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSASMA%27%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.1pt 1008.15pt;	margin:72.0pt 70.9pt 4.0cm 70.9pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pemulung, mendengar katanya sajarasanya hanya tergambar kesengsaraan hidup padanya. Kecuali ditambah kalimatnyamenjadi ”bosnya pemulung”. Tapi juga lihat apa yang dipulung. Meski akrabdengan sampah-sampah atau barang rongsokan lihat dulu sampahnya. Sampah apayang dipulungnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di sekitar rumah saya di desa, ada banyak orang yang kaya mendadakgara-gara jadi bosnya pemulung. Maka banyak juga yang jadi pemulungnya, denganmemakai sepeda khusus maupun jalan kaki. Mencari sampah tertentu kemudiandisetor ke bosnya itu dan pulangnya mambawa penghasilan yang menurut levelmereka lumayan cukup untuk kebutuhan. &lt;/span&gt;Bahkan dicelengi untuk keperluanyang lebih besar pada saat-saat tertentu, seperti beli baju anak istri di hariraya, atau beli televisi, dan sejenisnya. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya lihat, pada hari rayakeluarga para pemulung memakai baju-baju baru juga, bahkan lebih narcis daripada yang kaya-kaya bukan pemulung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mereka para bos pemulung, secaramendadak, sekitar hanya beberapa bulan memulai usaha serentak langsungbermobil, sekaligus bangun rumah besar, meski mobilnya juga dari hasil pulunganatau timbangan yang direnovasi kembali. Pokoknya bermobil. Ciri-cirinya, biasanyabosnya pemulung ini di rumahnya banyak bertumpukan sampah-sampah atau barangrongsokan, baik yang sudah dipilah berdasarkan jenisnya maupun yang masihkalang kabut dari penyetornya. Mulai dari yang berjenis kertas, plastik, danbesi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Konon, orang Madura, katanya banyak yang sukses kerja di Jakarta denganbisnis besi tua (besi bekas/rongsokan). &lt;/span&gt;Entah, apa sebagai pencari besituanya atau sebagai bos tempat penyetoran besi tua, saya tidak paham itu. &lt;span lang="SV"&gt;Yang jelas, paling tidak mereka setelahpulang ke Madura bergaya narcis-narcis dan bermobil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teman saya di pesantren juga banyak yang cerita bahwa ayahnya bisnis besitua di Jakarta. &lt;/span&gt;Bahkan ada yang baru lulus dari pesantren langsungboyongan ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;bisnis besi tua ikut paman atau orang tuanya. Tidak jarang yang ngajak saya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya kira, pekerjaan apapun, asalboleh, pantas, wajar, dan halal dalam pandangan apapun, secara sosial terlebihagama, itu boleh dijalani.&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Misalnya, di desa saya sekarang banyak orang yang menernak ayam potongdengan kandang khusus yang butuh lumayan luas. &lt;/span&gt;Ini halal, tapi tempatnyadibangun di dekat perumahan penduduk sehingga rumah penduduk dikerubungi lalatdan bau tidak enak yang bersumber dari kandang ayam tersebut. &lt;span lang="SV"&gt;Akhirnya, hari-hari penduduk dipenuhi kegelisahandengan lalat-lalat dan bau menyengat itu. &lt;/span&gt;Ini tidak wajar dan tidakmanusiawi, meski ayam itu halal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di samping itu, sebetulnyapekerjaan jenis apapun asal dilakoni dengan manajemen yang baik sekaliguskonsisten akan membuat orang kaya raya sekaligus bahagia dunia akherat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Manajemen yang baik berartibekerja berdasarkan ilmunya; bagaimana perencanaan, sistem kerja, dan strategipengembangan keuangan yang lihai. Misalnya, jadi bosnya pemulung. Ini butuhketerampilan khusus, termasuk, tentunya, bagaimana mendapatkan modal tanpamenunggu memiliki uang, misalnya meminjam ke teman atau bank.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kemudian bagaimana taktikpengembangannya yang jitu, termasuk misalnya dia tidak akan pernah membelisesuatu atau barang untuk senang-senang dengan keuntungan perdana yang iadapat, tapi dia berpikir bagaimana menjadikan keuntungan itu untuk menutupi pinjamanatau memperbanyak barang dagangan, sekaligus dia berpikir bagaimana bisnisnyaitu tidak kalah saing dengan yang lainnya dan lebih terkenal agar orang-orang lebihmenyetor kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Begitu juga bagi pemulungnya yang beroperasi di lapangan. Dia harus mengaturstrategi bagaimana dia mendapatkan barang rongsokan yang nilainya berkualitastinggi (mahal) dan dirinya terkenal dan disukai masyarakat agar masyarakatlebih suka menjual rongsokan padanya, sehingga banyak hasilnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Selain manajemen yang jitu itu atau kecerdasan itu adalah tidak kalahpentingnya konsisten dalam kecerdasan dan kebaikan itu. Konsisten ini adalahjejeg dan yakin bahwa pekerjaannya itu dapat membahagiakannya dunia danakherat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kaya sekaligus membahagiakandunia akherat. Sebab, banyak orang kaya yang hanya membawa dirinya bahagiadunia saja tapi tidak di akherat kelak. Dan, ini tergantung dari jenispekerjaannya. Orang yang kaya gara-gara mencuri atau merampok, meski bahagia tapidi dunia saja. Atau kayanya gara-gara korupsi, meski bahagia ya di dunia saja.Itupun kalau tidak ketahuan. Kalau ketahuan korupsinya malah kayanya membawasengsara di dunia, lebih-lebih di akherat. Itulah pekerjaan orang yang tidakberes; tidak wajar, tidak pantas, sekaligus tidak halal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; adagium pas untuk orang yang kaya tapisengsara ini, tapi khusus dalam bahasa Madura saja. Yaitu, orang-orang di desamenyebut orang seperti itu dengan “sogi sarah”. Sebetulnya maksud aslinyaadalah “kaya sekali atau sangat kaya”, tapi khusus untuk orang yang kaya rayatapi sengsara itu diplesetkan maknanya menjadi lebih filosofis “orang yang kayatapi sengsara” (sarah diplesetkan menjadi sengsara). &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebab, dalam bahasa Madura“sarah” bisa saja artinya sangat atau sekali, misalnya dalam kalimat “gentengsarah” (sangat ganteng), tapi juga bisa menjadi sengsara atau penuh derita,misalnya dalam kata “oreng se odi’en sarah” artinya orang yang hidupnyasengsara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jadi, gampang saja hidup, takusah ruwet-ruwet: kalau bercita ingin kaya raya harus sekaligus diikuti denganbahagia dunia akherat. Takut berhasil kaya raya tapi tak bahagia. Cara&amp;nbsp; ingin jadi orang kaya itu modalnya hanyadengan ilmu dan kekonsistenan. Tak usah repot-repot cari jenis pekerjaan yangmacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menggambarkan pekerjaan hidupini, saya ingat pesan Kiai saya, KH. Moh. Idris Jauhari, “Jangan kau mencaripekerjaan tapi bentuklah pekerjaan”, kata Beliau. Sedangkan kata Gusdur, gitu ajakok repot.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7388409269237040863-3185128418022348224?l=hiburansunyi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/feeds/3185128418022348224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/pemulung-dan-hidup-kaya-raya-bahagia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/3185128418022348224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7388409269237040863/posts/default/3185128418022348224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hiburansunyi.blogspot.com/2009/12/pemulung-dan-hidup-kaya-raya-bahagia.html' title='Pemulung Dan Hidup Kaya Raya Bahagia'/><author><name>Ali Sabilullah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14755510471093176071</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/-Rt-uGhH9esQ/TZsalDFdxFI/AAAAAAAAAbs/nYZ5NUCXBJE/s220/Edit%2B2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FIpmA3oCs4o/SyW6DTiLBSI/AAAAAAAAAXg/a8w8JGeThZQ/s72-c/Pengemis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7388409269237040863.post-7485164188543812361</id><published>2009-12-13T20:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-13T20:13:26.444-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='MY JOURNAL'/><title type='text'>Seperti Apa dan Di Manakah Tuhan?</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(Catatan reflektif logismengenai ide tentang misteri Tuhan)&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berbincang mengenai Tuhan tidakada habisnya sekaligus tidak ada kesimpulan paripurna. Apalagi sudahjelas-jelas dalam ajaran agama (Islam) bahwa manusia dilarang memikirkan diriTuhan, sebab akal manusia tidak mungkin akan pernah menemukan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan tentang Tuhan di atas,menjadi persoalan yang misterius sejak periode perkembangan manusia pertamakali, kira-kira 14.000 tahun silam. Menarik mengingat Ibrohim bagaimana diamencari Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bermula dari kekuatan alammateri, awal kali dia menganggap Matahari sebagai Tuhan karena mataharilah yangdia pandang suatu benda di alam yang paling kuat dapat menyinari seluruh bumi,tapi tak berapa lama matahari tenggelam diganti kegelapan. Lalu dia tidakpercaya, tidak ada Tuhan yang tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kemudian muncullah rembulan yangmenerangi kegelapan. Dia lalu percaya benda bundar yang indah itulah Tuhan,tapi lagi lagi dia lenyap ditelan siang membuat dia tidak pecaya lagi bahwabulan adalah Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, dia hanya menemukan kegelisahansambil terus melakukan pencarian dan permenungan, yang pada muaranya Tuhanmenunjukkan dirinya melalui wahyu dan tanda-tanda alam secara langsung.Sehingga Ibrohim dapat menyimpulkan dan memutuskan Tuhannya dengan bentukgambaran dalam pemikiran dan nuraninya bahwa ada Tuhan Yang Maha Kuasa, Mulia YangMaha Tak Terbatas, yang wujudnya tak bisa dia gambarkan atau pikirkan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ini berlanjut sampai periode selanjutnyaberupa &lt;i&gt;Millah&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Ibrohim &lt;/i&gt;atau yang disebut dengan agama. Ibrohimtidak mewarisi wujud tuhan secara pasti tapi mewarisi pemikiran atau pandangantentang adanya tuhan sebagai pencipta yang tak terhingga yang termanifestasidalam millah itu. Karena tuhan memang tidak menampakkan wujudnya secaralangsung tapi menurunkan penjelasannya berupa wahyu dan kekuatan-kekuatan alam yangdipahami atau ditafsirkan oleh pemikiran Ibrohim waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada akhirnya, karena millahIbrohim itu berupa ide pemikiran atau pemahaman dalam otak dan nuraninya, makaselanjutnya berkembang berdasarkan ide-ide yang pasti berbeda sesuai dengan situasidan kondisi otak dalam kepala masing-masing manusia. Ide-ide itu banyak yangtermanifestasi dalam diri secara personal dan kelompok atau agama-agama baru. Millahberganti millah, atau agama berganti agama baru dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Perkembangannya beralih ke Daud, wahyunyalain lagi menjadi Zabur sehingga penafsiran, pemahaman, dan penyebutan tentangTuhan lain juga. Selanjutnya Musa dengan wahyu barunya Taurat, ide tentangTuhan berubah kembali. Pengikutnya menyebut komunitas agamanya dengan Yahudidan Tuhannya dengan sebutan Yahweh. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kemudian datanglah Isa denganwahyu barunya injil, berubahlah kembali ide tetang Tuhan. Pengikutnya menamakankomunitasnya dengan agama Kristen dan menyebut Tuhannya dengan Yesus. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dan terakhir, dalam sejarahNabi-Nabi, diakhiri dengan Muhammad dengan kitab barunya Al-Quran. Di sinikonsep tentang Tuhan lebih baru lagi. Agamanya bernama Islam dan Tuhannyadisebut&amp;nbsp; Allah Ta’ala. Ini memandangTuhan dari sudut wahyu dalm sejarah para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun, secara&amp;nbsp; pemikiran bukan berarti berakhir. Artinya,Tuhan dalam struktur pemikiran manusia atau ide tetap akan bergerak selamamanusia itu ada. Pada perkembangannya, sampai-sampai ada ide baru tentang tuhanpolitik, tuhan uang, tuhan jabatan, bahkan ada ide terbaru Tuhan itu telahmati, nische mengataknnya. Ini adalah tuhan dilihat dari sudut ide ataustruktur pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Belum lagi sudut lain, ada sudutbahasa, orang Inggris menyebut tuhannya dengan God, Jerman dengan Got, Belamda denganDieu; dan sebagainya. Maka dari semua itu, bukan sebuah keanehan bila ide tentangagama dan Tuhan selalu berubah-rubah dan bertambah. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sejarah misteri Tuhan memangkomplek dan rumit. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;yang menggambarkan tuhan dengan seorang ibu (Dewi Ibu), karena tuhan diyakinimaha pemberi kesuburan alam dalam kehidupan mereka. Sedangkan para seniman mengasosiasikannyaberupa ukiran patung-patung berbentuk seorang perempuan hamil. Ada juga yangmengapresiasikan Tuhan dengan langit yang tinggi (Dewa Langit), karena dia mahatinggi, di Sumeria Kuno ini disebut Inana, di Babilonia disebut Isytar, Anat diKanaan, Isis di Mesir, dan Aprodite di Yunani. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; juga yang menggabarkan Tuhan berupapatung-patung yang gagah besar, menggambarkan terlalu maha besarnya tuhan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Semua ekspresi atau gambaran Tuhanitu, mereka lakukan bukan karena sedang mencari penafsiran harfiah atasfenomena alam, atau membentuk tuhan-tuhan yang material karena tidak adaseorangpun yang pernah dihadiri wujud tuhan, yang tak pantas menurut zamankita, mungkin, akan tetapi sebuah usaha untuk mengungkapkan kekaguman mereka kepadakekuatan yang maha dahsat (tuhan) dan untuk menghubungkan misteri yang mahaluas t
